Warna Pada Batik Betawi Yang Dipengaruhi Oleh Budaya Melayu Adalah

Warna Pada Batik Betawi Yang Dipengaruhi Oleh Budaya Melayu Adalah

Pesona Batik Betawi yang Tak Pernah Pudar

Koropak.co.id, 21 February 2022 xix:21:44

Penulis : Eris Kuswara

Koropak.co.id
– Berbicara mengenai Batik Betawi, tentunya kain tradisional khas Betawi itu sangat menawan khususnya ketika diperagakan oleh None-none Djakarta.

Dengan motifnya pucuk rebung, coraknya yang mirip batik pesisiran tetapi dengan warna-warna cerah seperti merah, biru, ungu, hijau muda, dan oranye, pastinya akan memikat siapapun yang melihatnya.

Dilansir dari berbagai sumber, berdasarkan sejarahnya, tercatat sejak tahun 1970-an, batik Betawi dengan motif pucuk rebung ini sudah menjadi seragam wajib bagi None Dki jakarta karena dianggap sudah lama ada dan dikenal luas oleh masyarakat Betawi.

Hal ini tentunya menandakan bahwa batik iti sendiri sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Betawi yang dianggap sebagai etnis dan penduduk asli Jakarta. Sama halnya dengan batik-batik di berbagai daerah di Indonesia, Dki jakarta yang notabene merupakan pusat budaya Betawi juga pastinya memiliki kekhasan corak kain batik yang kerap disebut dengan batik Betawi.

Pada umumnya Batik Betawi ini memiliki warna yang cerah serta motifnya yang diambil dari nilai nilai budaya masyarakat. Di masa lalu, batik juga menjadi pakaian keseharian bagi para perempuan Betawi pada saat mereka pergi ke pasar, pelesiran, hajatan, hingga mengaji.

Pada masa itu, mereka memesan batik dari luar daerah. Demi memenuhi pasar, pengusaha batik Tionghoa pun mendatangkan pengrajin dari Pekalongan maupun Solo, lalu membangun industri batik di Djakarta. Diketahui, sentra industri batik itu pun tumbuh di Bendungan Hilir, Karet Tengsin, Kebon Kacang, dan Palmerah.

Sehingga, mulai dari sinilah motif batik Betawi tersebut lahir dan mengikuti serta mengadaptasi beragam motif batik pesisiran yang popular. Selain itu, Batik Betawi juga memiliki ciri khas yang membedakannya dari batik kebanyakan lainnya, yakni terletak pada warna dan motifnya.

Warna seperti merah, hijau, oranye dan kuning merupakan warna-warna cerah yang pada umumnya digunakan dalam batik Betawi. Sedangkan untuk motifnya sendiri, seringkali mengambil inspirasi dari sejarah Jakarta dan potret kehidupan sehari-hari. Sementara itu, salah satu motif yang identik dengan batik Betawi adalah pucuk rebung.

Pucuk rebung merupakan motif khas batik pesisir yang menggambarkan pucuk batang bambu. Motif ini juga memang merupakan adaptasi dari songket Melayu dan tumpal pada batik Lasem. Akan tetapi bagi masyarakat Betawi, motif pucuk rebung dianggap sakral dikarenakan memiliki nilai filosofis, yakni melambangkan keseimbangan hidup.

Jadi melalui motif itu, antara kehidupan manusia, alam sekitarnya, dan sang maha pencipta saling bersinergi. Tak hanya itu saja, motif tumpal juga menjadi ikonik dan klasik bagi Batik Betawi.

Berbentuk geometris segitiga yang memagari bagian kepala dan badan kain, motif ini merupakan pengembangan dari bentuk cagak yang menjadi bagian dari ragam hias pada leher periuk tanah.

Ragam hias ini juga diketahui sudah ada sejak zaman neolitikum. Kemudian untuk bentuk cagak maupun tumpalnya pun sebenarnya merupakan bentuk lain dari gunung. Nenek moyang orang Betawi kala itu menganggap gunung mempunyai kekuatan, sehingga bentuk cagak dan tumpal mempunyai arti kekuatan sekaligus penolak bala.

Memasuki pertengahan abad ke-20, muncullah kreasi baru dari batik Betawi yang selaras dengan perkembangan zaman. Sungai Ciliwung, nusa kelapa, rasamala, salakanegara, dan ondel-ondel pun merupakan beberapa motif awal dari batik Betawi dengan asal-usul dan filosofinya masing-masing.

Diketahui, motif nusa kelapa mengambil ide dari peta Ceila buatan Pangeran Panembong pada masa Prabu Siliwangi (1482-1521) yang menunjukkan bahwa nenek moyang orang Betawi menyebut kampung halaman mereka sebagai Nusa Kelapa.

Kemudian untuk motif rasamala menggambarkan alam Sunda Kelapa (nama lama Jakarta) yang masih hutan belantara dan ditumbuhi pepohonan rasamala, sebutan untuk pohon jati yang kulit kayunya wangi.

Sementara untuk motif salakanegara menggambarkan kerajaan pertama di Tanah Betawi yang didirikan Aki Tirem pada tahun 130 Masehi dan kepercayaan pada kekuatan Gunung Salak yang terletak di selatan Dki jakarta.

Sedangkan motif ondel-ondel mengangkat bentuk ondel-ondel sebagai boneka yang dapat menolak bala dan motif Sungai Ciliwung mengambil ide dari kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Ciliwung.

Pemakai dari motif batik ini pun berharap dapat memperoleh rezeki yang lancar seperti aliran air Sungai Ciliwung. Industri batik di Jakarta ternyata sempat meredup dikarenakan tergerus pembangunan kota, akibatnya batik Betawi itu pun kemudian seolah terlupakan.

Bahkan pada awal-awal menjadi Gubernur Dki jakarta dahulu, Ali Sadikin sendiri senang memakai pakaian favoritnya yaitu baju barong tagalog Filipina. Akan tetapi suatu ketika dia mendapatkan hadiah sebuah batik yang khusus dibuat Saridjah Niung Bintang Soedibio atau yang popular dipanggil Ibu Sud, pencipta lagu anak-anak sekaligus seniman batik.

Siapa sangka bang Ali saat itu merasa senang. Sehingga, pada suatu acara Blindside Ali pun mengenakan batik itu sekaligus mencanangkan batik sebagai busana untuk acara-acara resmi di Balai Kota.

Tak hanya itu saja, dia juga menetapkan bahwa None Jakarta harus menggunakan kain batik bermotif tumpal atau pucuk rebung. Langkah Bang Ali inilah yang kemudian diikuti secara nasional dan sejak saat itu batik pun menjadi simbol budaya dan identitas bangsa.

Di sisi lain, kebijakan Bang Ali tersebut menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali batik Betawi sekaligus industri batik di Jakarta. Hingga pada akhirnya industri batik di Dki jakarta kembali bergeliat dan upaya mengembangkan batik Betawi pun tumbuh.

Bahkan ikon-ikon Jakarta pun turut dihadirkan dalam motif batik seperti Si Pitung, bajaj, Monas, delman, tanjidor, dan lain sebagainya. Menariknya, tidak ada aturan khusus dalam pemakaian batik Betawi.

Akan tetapi khusus untuk motif tumpal, agar terlihat disarankan memakainya di bagian depan. Batik Betawi dengan beragam motif itu kini diproduksi di Kampung Batik Betawi Terogong di kawasan Cilandak, Djakarta Selatan dengan harga biasanya dibanderol mulai dari Rp 600 ribu.

Seiring berjalannya waktu, Batik Betawi tulis semakin langka di pasaran. Namun jika beruntung, kalian bisa menemukannya di pameran-pameran.*

Komentar

Makna Tebu dan Pohon Pisang dalam Tradisi Nyorong Suku Samawa

Koropak.co.id, 15 September 2022 07:18:49

Eris Kuswara

Koropak.co.id, NTB
– Suku Samawa yang menghuni wilayah barat dan tengah Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Nyorong yang dilangsungkan dalam pernikahan.

Nyorong merupakan proses hantaran dari pihak laki-laki kepada perempuan yang diiringi dengan kesenian khas Sumbawa “Ratib Rabana ode” dan “Rabalas Lawas”. Dilaksanakan setelah beberapa rangkaian adat lain, seperti bajajag, bakatoan, basaputis, dan bada’.

Bagi masyarakat Sumbawa, tradisi nyorong sangat penting sebagai tanda penghormatan. Barang-barang yang dihantarkan sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak pada saat basaputis atau penentuan jawaban pihak wanita.

Biasanya barang-barang yang sudah disepakati dan ditetapkan itu seperti, Pipis Belanya (sejumlah uang belanja), Isi Peti (berupa emas perhiasan), Isi Lemari (pakaian si gadis, mulai dari sandal hingga sanggul rambut) dan Soan Lemar (berupa beras, gula, minyak, kayu bakar dan lainnya, termasuk kerbau atau sapi).

Semua barang itu juga digunakan untuk menopang prosesi perkawinan yang dilaksanakan di tempat mempelai wanita. Tradisi nyorong ini juga dilakukan untuk menjalin silaturahmi antara kedua keluarga dari masing-masing pengantin.

Baca:
Terinspirasi dari Bahasa Sasak, Lahirlah Tari Oncer NTB

Upacara nyorong dilakukan secara ramai-ramai beserta rombongan dan tokoh masyarakat. Dalam prosesinya diiringi dengan alat musik tradisional khas Sumbawa. Saat pihak laki-laki tiba di rumah perempuan, rombongan akan ditahan dulu sebelum masuk.

Kemudian salah satu dari tokoh masyarakat pun harus melantunkan lawas atau rabalas lawas dengan pihak perempuan, sehingga membuat suasana keakraban kedua belah pihak semakin terjalin. Setelah dilanjutkan penyerahan barang-barang kepada keluarga perempuan.

Adapun isi lawas yang dilantunkan merupakan kata sambutan dari masing-masing pihak atas kebahagiannya dalam menikahkan putra-putri mereka. Dalam tradisi nyorong ini juga terdapat simbol-simbol yang mengandung falsafah.

Pihak laki-laki akan melengkapi rombongan mereka dengan beberapa batang tebu yang melambangkan keperkasaan seorang laki-laki. Sedangkan di rumah calon pengantin wanita akan terlihat sebatang pohon pisang yang sesuai dengan simbol sebuah nasehat khas Sumbawa.

Nasehat khas Sumbawa itu berbunyi: “Mara Punti Gama Untung (contohilah daun pisang), Den Kuning No Tenri Tana (daun menguning tak tersentuh tanah), Mate Bakolar Ke Lolo (sampai matipun tetap bersama)”. Dari sebatang pohon pisang itulah diharapkan kedua mempelai mampu meneladaninya dalam membangun rumah tangga.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Pompang, Alat Musik Bambu Khas Masyarakat Tana Toraja

Koropak.co.id, 14 September 2022 07:17:08

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sulsel
– Tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, Sulawesi Selatan juga menyimpan kekayaan seni dan budaya yang memikat. Satu di antaranya adalah Pompang. Alat musik yang disebut juga Pa’pompang itu berkembang di masyarakat Toraja.

Terbuat dari bambu, alat musik tersebut memiliki bentuk yang unik dan juga mampu menghasilkan suara bas yang lebih dominan. Oleh karena itulah, masyarakat setempat yang tinggal di Tana Toraja menyebutnya juga dengan nama Pa’bas.

Bentuknya hampir mirip dengan alat musik angklung dari Jawa Barat. Namun, cara memainkannya ditiup. Besar dan kecilnya ukuran bambu yang digunakan pada Pompang juga berpengaruh terhadap cipher yang dihasilkan saat ditiup.

Baca :   Jelaskan Tentang Keadaan Alam Negara Brunei Darussalam

Jika potongan bambunya kecil, maka pompang pun akan menghasilkan zilch yang tinggi. Begitu pun sebaliknya. Pada umumnya, pompang dimainkan secara berkelompok. Berbeda dengan angklung, alat musik tiup Suku Toraja ini mampu mengeluarkan bunyi dengan jangkauan nada hingga dua setengah oktaf tangga nada.

Baca:
Saluang, Alat Musik Khas Minangkabau yang Menghipnotis

Meskipun tergolong sebagai alat musik tradisional, pompang bisa  dikolaborasikan juga dengan berbagai alat musik modern lainnya, seperti terompet, saksofon, hingga organ, atau piano saat mengiringi lagu.

Potongan-potongan bambu pada alat musik pompang tersebut akan dilubangi dan dirangkai sedemikian rupa agar bisa menghasilkan bunyi atau aught. Setelah itu, potongan-potongan bambu diikat dengan rotan agar bisa lebih kuat dan menyatu.

Celah sambungan antarbambunya ditutupi dengan ter atau aspal agar suara yang dihasilkan menjadi bulat dan tidak cempreng. Bambu yang dipilih untuk membuat alat musik ini harus tipis serta memiliki ruas yang panjang, tua, mulus, dan lurus.

Untuk satu kelompok pompang, biasanya terdiri dari 25 atau 35 orang anggota, termasuk yang bertugas sebagai peniup suling. Alat musik ini dipergunakan sebagai musik pengiring dalam kebaktian di gereja atau dalam pernikahan.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Saluang, Alat Musik Khas Minangkabau yang Menghipnotis

Koropak.co.id, 13 September 2022 07:06:17

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sumatra Barat
– Ada banyak cara untuk mengusir sepi atau mengungkapkan perasaan hati. Salah satunya bisa melalui musik. Cara itulah yang dulu kala dilakukan Kalam, warga Nagari Singgalang Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Untuk mengungkapnya isi hatinya, ia kala itu membuat alat bunyi-bunyian yang belakangan diberi nama saluang. Ternyata, alat tersebut disukai masyarakat dan bertahan hingga sekarang. Hal yang paling utama dalam memainkan alat musik saluang ini adalah cara meniup dan menarik nafasnya yang dilakukan secara bersamaan.

Dengan begitu, peniup saluang pun dapat memainkan alat musik itu mulai dari awal sampai akhir lagu tanpa putus atau dikenal juga dengan circular breathing. Teknik yang dinamakan manyisiah angok ini sendiri dapat dikuasai dengan latihan yang berkesinambungan.

Selain itu juga, tiap nagari di Minangkabau juga mengembangkan cara meniup saluang dengan cara yang berbeda-beda, sehingga masing-masing nagari di Minangkabau pun memiliki ciri khasnya tersendiri.

Contohnya dari Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Untuk ciri khas dari Singgalang sendiri dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya juga zippo Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Sedangkan, ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.

Baca:
Genggong, Alat Musik yang Mulanya untuk Memanggil Kekasih

Konon, pada zaman dahulu, para pemain saluang ini memiliki mantra tersendiri yang berguna untuk menghipnosis penontonnya yang dinamakan “Pitunang Nabi Daud”. Biasanya, permainan musik ini dapat dinikmati pada acara perkawinan, batagak rumah (Mendirikan Rumah), batagak pangulu, dan lainnya.

Warga Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang adalah yang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Alat musik yang termasuk dalam golongan alat musik suling ini memiliki cara pembuatan yang lebih sederhana, yakni cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang.

Biasanya, panjang saluang sendiri sekitar 40 s.d 60 centimeter, dengan diameternya sekitar iii s.d 4 centimeter. Dalam pembuatannya, kita harus terlebih dahulu menentukan bagian atas dan bawahnya, agar nanti bisa menentukan pembuatan lubang. Apabila saluang terbuat dari bambu, maka bagian atas saluang merupakan bagian bawah ruas bambu.

Kemudian untuk bagian atas saluangnya, diserut untuk dibuat meruncing sekitar 45 derajat sesuai dengan ketebalan bambu. Sementara itu, untuk membuat 4 lubang pada saluang ini, mulai dari ukuran two/3 dari panjang bambu, yang diukur dari bagian atas. Sedangkan untuk lubang kedua dan seterusnya, berjarak setengah lingkaran bambu.

Agar menghasilkan suara yang bagus, biasanya besar dan bentuk lubangnya harus bulat dengan garis tengah 0,5 centimeter. Berbicara mengenal asal usul nama saluang sendiri, secara etimologis, nama saluang diambil dari nama seruling panjang yang kerap kali dijadikan sebagai alat musik pengiring dalam pertunjukan musik Saluang jo Dendang-Saluang.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Ragam Lakon Blangkon, Bangsawan dan Rakyat Beda Cerita

Koropak.co.id, 12 September 2022 07:09:45

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya blangkon. Maklum, penggunaan ikat kepala itu sudah ada sejak awal terbentuknya budaya Jawa.

Dahulu, masyarakat Jawa sudah memakai penutup kepala dari lilitan kain yang melingkar dengan bagian atasnya yang terbuka. Kemudian, istilah blangkon muncul untuk menyebut ikat kepala instan atau ikat kepala siap pakai.

Bagi masyarakat Jawa, blangkon bukan sekadar penutup kepala, namun memiliki banyak arti. Biasanya penutup kepala yang terbuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria ini dijadikan sebagai pelengkap busana tradisional Jawa.

Ada banyak versi yang mencerikatan tentang asal-usul blangkon. Salah satunya menjelaskan, sejarah kehadiran blangkon dicetuskan oleh Ki Ageng Giring, sesepuh keluarga Keraton Mataram. Pada zaman dahulu, para penyebar agama Islam yang masuk tanah Jawa memiliki rambut panjang dan mereka enggan memotong rambutnya karena dianggap sebagai anugerah.

Jika rambut dipotong, itu sama dengan mengingkari kehendak yang kuasa. Sementara dalam kebudayaa Jawa, tidak ada lelaki yang berambut panjang. Oleh karena itulah, Ki Ageng Giring mencetuskan untuk menutup rambut dengan ikat kepala.

Seiring perkembangan zaman, ikat kepala itu akhirnya berubah nama menjadi blangkon. Mondolan atau bentuk bulat yang ada di belakang blangkon merupakan wujud ikatan rambut para penyebar Islam pada masa itu. Di Solo, mondolan tidak berbentuk bulat, melainkan sedikit gepeng dikarenakan para pengikut ajaran Islam di sana telah memotong rambutnya.

Baca:
Festival Blangkon Solo, Sasar Anak Muda Cinta Budaya

Ada juga pendapat yang menuturkan bahwa kebiasaan memakai blangkon itu berawal dari akulturasi atau penyerapan budaya Hindu dan Islam oleh masyarakat Jawa. Pada masa itu, para pedagang Gujarat yang masuk ke Indonesia kerap melilitkan kain lebar dan panjang di kepala, dan dikenal dengan nama surban. Hal itu kemudian menginspirasi masyarakat Jawa untuk memakai ikat kepala seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab.

Ada juga kisah yang menceritakan bahwa awal mulanya penggunaan blangkon di Jawa saat terjadinya krisis ekonomi. Dulu, ikat kepala tidaklah permanen, sama halnya seperti surban. Namun semenjak adanya krisis ekonomi, kain pun menjadi barang yang langka atau sulit untuk ditemukan.

Melihat kondisi itu, para petinggi keraton memberi perintah kepada para seniman untuk membuat blangkon atau ikat kepala permanen. Blangkon tersebut menggunakan lebih sedikit lembaran kain dari biasanya, sehingga lebih hemat dan praktis.

Seiring berjalannya waktu, blangkon kini memiliki banyak fungsi, di antaranya menjadi penutup dan pelindung kepala hingga menjadi kelengkapan dari pakaian tradisional Jawa. Blangkon juga menjadi wujud karya seni yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan bentuknya yang indah.

Selain lebih praktis, blangkon juga digunakan untuk menunjukkan kelas sosial penggunanya. Pada masa lalu, blangkon banyak digunakan oleh para bangsawan dan orang-orang di lingkungan keraton. Adapun untuk masyarakat biasa, mereka tetap menggunakan iket atau udeng sebagai penutup kepalanya.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Titinggi Ula-Ali, Permainan Tradisional Sunda yang Jarang Ditemui

Koropak.co.id, 11 September 2022 12:27:02

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Jawa Barat
– Ketika sore menjelang Magrib, anak-anak pada masanya masih berkeliaran di luar rumah untuk memainkan sebuah permainan berkelompok. Di antara sekian banyak permainan tradisional, titinggi ula-ali adalah pilihan yang cukup banyak dimainkan.

Titinggi ula-ali sendiri berasal dari Sunda. Nama itu merujuk pada bentuk permainannya yang menyerupai titinggi atau kaki seribu. Karena itulah dibutuhkan cukup banyak orang dan lahan yang luas untuk memainkan permainan ini.

Cara memainkan permainan ini adalah dengan berbaris memanjang, lalu kedua tangan saling memegang pundak teman-temannya sehingga membentuk barisan menyerupai titinggi. Orang paling depan disebut kepala, yang kedua disebut leher, sementara orang ketiga hingga mendekati ujung disebut badan, dan orang paling ujung disebut ekor.

Sebelum memulai permainan, orang yang berfungsi sebagai kepala akan bertanya kesiapan para pemainnya. Ketika semua anggota telah menyatakan kesiapannya, para pemain akan berpegangan erat dan mengambil posisi sedikit agak berjongkok.

Setelahnya, kepala akan mengajak yang lain berjalan maju. Mereka bergerak terbungkuk-bungkuk mengelilingi luasnya halaman. Aktivitas itu dilengkapi dengan iring-iringan kawih.

Baca:
Permainan Tradisional Gatrik untuk Melatih Ketangkasan

Ketika sudah berkeliling sebanyak three-4 kali, hap! orang yang bertugas sebagai kepala akan memungut dedaunan atau ranting kayu, tanpa berhenti maju atau memisahkan diri dari barisan. Kemudian daun atau ranting itu diserahkan kepada Sang Leher sambil berkata, “Ieu mihape hayam.” [“Ini titip ayam.”]

Dari leher, titipan itu diestafetkan kepada badan hingga ke ekor. Namun biasanya, ada saja orang yang membuang titipan tersebut sehingga tidak pernah sampai ke ekor. Kepala akan menanyakan titipan tersebut kepada leher. Leher akan mengonfirmasi jika hal itu sudah dititipkan. Begitu seterusnya hingga mencapai ekor. Namun ketika mencapai ekor, ekor akan menjawab jika titipan itu sudah dimakan elang, “Euweuh dihakan heulang.”

Baca :   Apakah Yang Dimaksud Menggiring Bola Dalam Permainan Sepak Bola

Mereka akan menyisir halaman untuk menemukan kembali daun atau ranting yang dibuang tadi. Begitu ditemukan, pemain harus berganti posisi, bagian ekor beralih menjadi kepala sedangkan kepala berubah menjadi leher.

Begitu seterusnya hingga semua pemain mendapatkan giliran menjadi kepala. Barulah saat itu permainan tradisional ini berakhir.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Mengintip Omah Demit Bekas Tempat Dinamit Era Belanda

Koropak.co.id, ten September 2022 15:14:04

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Jawa Tengah
– Tradisi dan kebudayaan suku Jawa kerap terdengar berkelindan dengan nuansa mistis. Daerah-daerah di Jawa punya tempat yang demikian kental dengan mistisisme. Salah satunya Omah Demit yang berlokasi di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah.

Bangunan rumah itu cukup familiar bagi warga setempat dan terletak di atas bukit. Misterinya bukan disebabkan karena letaknya ada di ujung bukit, melainkan adanya kepercayaan jika bangunan tersebut tidak sembarang bisa dimasuki walau tampak di depan mata.

Rumah itu menjulang di antara bukit kapur yang popular diberi nama Bukit Patrum Photorium. Di sekelilingnya tumbuh tanaman rumput. Kawasan tersebut mulanya adalah pertambangan kapur yang aktif beroperasi pada masa kolonial.

Selain digunakan untuk bahan bangunan, kapur itu juga digunakan untuk pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun. Namun kini, bangunan tersebut sama sekali tidak bisa dikunjungi lantaran tak ada lagi jalan menuju rumah itu. Hal tersebut dikarenakan kawasan bukit yang sebelumnya tersambung telah ambrol akibat aktivitas pertambangan dan hanya menyisakan bukit berukuran 2×2 yang menopang rumah tersebut.

Baca:
Istana Dalam Loka Sumbawa dan Spirit Syariat Islam

Kondisinya yang demikian, kian menambah kesan seram. Apalagi tak ada bangunan lain di sekitar rumah tersebut. Kabarnya, warga juga kerap mendengar suara-suara aneh atau penampakan di rumah ini. Barangkali karena itulah dinamakan Omah Demit atau Rumah Hantu.

Ketika pertambangan masih aktif di masa kolonial Belanda, rumah tersebut juga berfungsi sebagai tempat menyimpan dinamit. Saat itu Belanda memanfaatkan bahan peledak untuk proses menambang kapur, pun membangun rel otomotif untuk mengangkutnya.

Rel otomotif tersebut diketahui masih bisa dioperasikan hingga tahun 1980-an dan dialihfungsikan untuk mengangkut tebu menuju PG Gondong Winangun. Akan tetapi, bangunan tempat menyimpan dinamit mulanya ada dua, namun karena masyarakat setempat beralih menambang dengan cara manual, hal itu menghilangkan sebuah bangunan yang ada di atasnya.

Kini, walaupun warga benar-benar tak berani mengusik bangunan itu, tetapi kawasan perbukitan itu telah dibuka sebagai tempat wisata.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tabuik, Perhelatan Khas Masyarakat Pariaman

Koropak.co.id, 10 September 2022 07:27:43

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Sumbar
– Indonesia punya ragam budaya dan tradisi yang unik dan menarik. Satu di antaranya adalah Festival Tabuik yang ada di Pariaman, Sumatra Barat. Festival itu telah ada sejak puluhan tahun silam, berkisar pada abad ke-19.

Festival tersebut bukan semata-mata tradisi, melainkan perhelatan untuk peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad Shallalahu’alaihi wasallam yang bernama Hussein bin Ali, tepatnya pada tanggal 10 Muharram. Hussein beserta keluarga wafat dalam perang yang terjadi di Padang Karbala.

Tabuik sendiri berakar dari bahasa Arab, tabut, yang artinya peti kayu. Istilah itu merujuk pada legenda munculnya makhluk dengan wujud kuda bersayap namun berkepala manusia yang disebut sebagai buraq.

Alkisah, usai wafatnya Hussein, kotak kayu yang berisi potongan jenazahnya diterbangkan ke langit oleh buraq. Atas legenda tersebut, masyarakat Pariaman mengadakan perhelatan dengan tiruan buraq dengan tabut di punggungnya.

Menurut penuturan masyarakat yang didapat secara turun-temurun, tradisi ini muncul sekitar tahun 1826 s.d. 1828. Saat itu Tabuik sangat kental dengan nuansa Timur Tengah yang dibawa oleh keturunan India yang menganut Syiah.

Lalu pada tahun 1910, ada kesepakatan untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan kebudayaan Minangkabau, sehingga lahirlah Tabuik yang berkembang hingga sekarang.

Baca:
Pawai Obor, Tradisi Sambut Malam Tahun Baru Islam

Tabuik ini dibedakan menjadi dua, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Keduanya berasal dari wilayah yang berbeda di Kota Pariaman. Tabuik Pasa (pasar) adalah wilayah yang ada di sisi selatan sungai dan dianggap sebagai daerah asal lahirnya tradisi ini.

Adapun Tabuik Subarang (seberang) berasal dari wilayah sisi utara sungai atau daerah yang dikenal sebagai Kampung Jawa. Namun pada mulanya, tradisi ini hanya ada satu, yakni Tabuik Pasa saja. Lalu pada 1915, atas usulan sebagian masyarakat, maka dibuatlah tradisi serupa di wilayah lain.

Bermula tahun 1982, Tabuik tercantum dalam kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman dan disesuaikan dari awal hingga menuju puncak ritual. Biasanya dimulai pada tanggal 1-10 Muharram. Kendati demikian, puncak perayaan tidak melulu jatuh pada tanggal 10.

Ritual ini punya tujuh tahapan, yakni mataam, mengambil tanah, mengarak jari-jari, mengarak sorban, menebang pelepah pisang, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, serta membuang tabuik ke laut.

Setiap tahun, puncak festival ini selalu disaksikan ribuan pengunjung yang datang dari ragam wilayah, baik dari pelosok Sumatra Barat maupun turis mancanegara. Tak pelak, perhelatan ini menjadi ajang yang amat ditunggu-tunggu.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Pacu Itiak Payakumbuh, Bukan Sembarang Itik yang Ikut Lomba

Koropak.co.id, 09 September 2022 12:12:12

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sumatra Barat
– Pacu itiak atau itik merupakan permainan khas Sumatra Barat yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Dalam permainan itu, itik yang dilombakan terbang lurus di atas udara dan mendarat pada tempat yang telah ditentukan. Permainan tradisional itu sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) Republic of indonesia sejak ix Oktober 2020.

Tradisi pacu itiak bermula dari para petani di Aur Kuning, Payakumbuh, Kanagarian dan Sicincin menghalau itik yang memakan tanaman padinya. Itik-itik yang dihalau itu terbang ke dataran sawah yang lebih rendah di bawahnya.

Namun, itik-itik yang terbang itu justru menjadi hiburan tersendiri bagi para petani. Sejak saat itulah diadakan lomba itik terbang atau yang kini dikenal dengan nama pacu itiak. Dalam perlombaannya, itik dipegang oleh pemiliknya, lalu akan dilemparkan ke udara hingga itik terbang dan menuju garis finis.

Baca:
Hongi, Tradisi Cium Hidung di NTT

Uniknya, seminggu sebelum itik tersebut dilombakan, itik-itik tersebut akan terlebih dahulu dikurung dan hanya diberi makan padi dan telur. Itik-itik itu juga diajarkan terbang setiap petang atau sore hari.

Itik-itik yang ikut perlombaan tidak sembarangan. Hanya itik yang sudah terlatih dan mampu terbang sejauh dua kilometer yang bisa mengikuti pacu itiak. Selain usianya antara empat hingga enam bulan, syarat lainnya adalah memiliki kesamaan warna pada paruh dan kaki, leher yang pendek, sayap lurus yang mengarah ke atas, jumlah gigi yang ganjil, dan ujung kaki yang bersisik kecil.

Dalam perlombaannya, ada tiga tingkatan jarak, yaitu jarak 800 meter, ane.600 meter, dan ii.000 meter. Pemenang dari perlombaan ini ditentukan berdasarkan itik yang berhasil terbang lurus dan tercepat hingga mencapai garis finis.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tari Sanghyang Dedari, Lindungi Desa dari Bencana

Koropak.co.id, 07 September 2022 15:twenty:02

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Bali
– Bali punya tradisi yang diwariskan secara turun temurun sejak dahulu. Salah satu seni tari yang berusia sangat tua dan masih dilestarikan sampai sekarang adalah tari Sanghyang Dedari.

Tarian yang diduga sudah ada sejak masa pra-Hindu itu merupakan tarian kerauhan yang dimainkan dalam kondisi kesurupan. Tari yang dianggap sakral itu memiliki tujuan mistis dan tidak ditampilkan di depan umum. Dimainkan untuk melindungi desa dari wabah penyakit, bencana alam, dan berbagai bencana lainnya.

Berdasarkan sejarah awalnya, tarian tersebut dimainkan dua orang gadis yang dianggap masih suci. Tidak ada alat musik yang mengiringinya, tapi menggunakan suara beberapa orang yang menyanyikan lagu persembahan kepada dewa.

Tari sanghyang dedari juga bukanlah pertunjukan yang bisa disaksikan sembarang waktu, tapi diadakan setahun sekali dengan proses ritualnya yang sangat panjang. Tidak semua orang bisa menyaksikan tarian khas Bali tersebut.

Dipentaskannya ketika dewa-dewa turun sementara ke alam manusia, dan menyatakan diri melalui penari yang kesurupan. Tari sanghyang dedari berasal dari kata sanghyang yang bermakna dewata dan kata Dedari yang berarti bidadari.

Baca:
Ngelawang, Asal Ritual Sakral Penolak Bala di Bali

Tarian ini dipentaskan pada malam hari, dan dalam pertunjukannya, enam hingga tujuh orang penari akan tampil (biasanya salah satunya akan gagal dalam melanjutkan penampilannya). Kemudian saat menari, mereka juga akan dalam keadaan dirasuki roh Sanghyang Dedari.

Tari sanghyang dedari ini akan dimulai dengan upacara yang dilakukan di pura. Penari menarikan tarian yang serupa Legong, namun dalam versi mistik. Meskipun mata mereka ditutup, para penari itu mampu menari bersama dalam gerakan yang sinkron dan indah. Saat nyanyian berhenti, para penari yang tak sadarkan diri itu akan melompat ke tanah.

Lalu, seorang pemangku akan menyadarkan mereka dengan mengucapkan doa dan percikkan air suci. Setelah tersadar, mereka akan merasakan kelelahan namun tidak menyadari bahwa mereka telah banyak bergerak dan menari.

Kini, tari sanghyang dedari berkembang menjadi bagian dari kebudayaan Bali yang bersifat dinamis dan tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat. Sebagai tari upacara, tari sanghyang dedari juga erat kaitannya dengan upacara-upacara keagamaan, salah satunya seperti pada upacara Dewa Yadya dan Bhuta Yadya.

Baca :   Rangkaian Titik Yang Memanjang Dan Memiliki Arah Disebut

Di sisi lain, tari sanghyang dedari juga menjadi seni tari tradisional yang memiliki nilai-nilai luhur, sehingga menjadi salah satu potensi budaya yang bisa mengembangkan kepariwisataan di Bali.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Hongi, Tradisi Cium Hidung di NTT

Koropak.co.id, 06 September 2022 xv:28:39

Eris Kuswara

Koropak.co.id, NTT
– Tradisi yang dimiliki setiap daerah di Republic of indonesia sangat beragam dan punya ciri khas serta keunikannya masing-masing. Contohnya tradisi cium hidung yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam bahasa ibu orang Sumba, tradisi cium hidung ini memiliki sebutan yang beragam. Orang Kodi menyebutnya ‘Udoko’ atau ‘Udokoyo’ yang berarti cium dia. Kemudian ada juga ‘Paudokongo’ yang berarti berciuman. Sementara dalam bahasa Sabu disebut ‘Hengeddo’, dan dalam bahasa Maori disebut ‘Hongi’.

Bagi orang yang pertama kalinya mengunjungi Sumba, tradisi itu mungkin kelihatan tabu. Di sana, itu sudah berjalan secara turun temurun. Siapapun tamu yang datang ke Sumba, harus saling mencium hidung terlebih dahulu, sebelum dipersilakan untuk duduk.

Tradisi tersebut dipengaruhi kebiasaan suku Sabu. Sejak abad ke-18, orang Sabu masuk ke Sumba, tepatnya di wilayah Sumba Timur. Saat itu mereka dibawa oleh para misionaris Belanda yang beragama Protestan untuk membantu penyebaran ajaran agama Kristen Protestan di wilayah Sumba.

Alasan lainnya, dikarenakan orang Sabu juga sudah mengenal lebih dulu ajaran Kristen Protestan, sejak saat itulah orang Sabu pun secara bertahap datang dan tinggal di Sumba. Mereka pun kawin dengan orang Sumba, sehingga terjadi asimilasi tradisi dan kebudayaan antara orang Sumba dan Sabu, termasuk dalam hal tradisi cium hidung.

Akan tetapi, tradisi cium hidung ini hanya dilakukan pada momen-momen tertentu saja, seperti saat proses pelaksanaan tradisi perkawinan, pesta pernikahan, ulang tahun, hari raya besar keagamaan, pesta adat, hingga acara perdamaian. Tradisi itu turut dilakukan saat penerimaan tamu-tamu yang dianggap terhormat atau agung yang berasal dari wilayah Sumba.

Meski terkesan tabu bagi orang yang baru pertama kalinya ke Sumba, namun tradisi ini sarat akan makna. Selain bagian dari anatomi tubuh manusia yang digunakan untuk bernapas, hidung juga menjadi indera penciuman bagi manusia.

Dengan cium hidung berarti kita juga sudah merapatkan wajah sedekat mungkin, dan itu menunjukkan bukan saja kedekatan fisik akan tetapi ada pertukaran napas kehidupan. Itu melambangkan kekeluargaan, persahabatan, kesatuan, dan solidaritas dalam setiap tradisi Hongi yang dilakukan.

Ada beberapa tahapan dalam pelaksanaan tradisi Hongi ini, salah satunya dipakai untuk menyambut tamu spesial. Dalam prosesinya, saat tamu datang, mereka disambut seorang satria yang membawa senjata kemudian meletakkan sesuatu di depan tamu untuk diambil.

Setelah itu, tetua rumah akan keluar dan menyambut tamu. Mereka akan berjalan bersama, lalu berhenti sejenak untuk mengenang para nenek moyang mereka. Kemudian mereka juga akan duduk bersama dan mendengarkan nyanyian serta ucapan suci. Setelah itu upacara Hongi dilakukan dan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama. (PKL – Yuli Riza)

Tradisi Masangin, Mencari Kabul Lewat Pohon Beringin

Koropak.co.id, 06 September 2022 07:13:53

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Jawa Tengah
– Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang mulai dijamah modernisasi, tidak serta merta melunturkan tradisi dan mitos yang kental di sana. Salah satu yang mahsyur di telinga adalah tradisi masangin.

Tradisi dan mitos ini menyelimuti kawasan alun-alun kidul yang lokasinya berada tepat di belakang kawasan Keraton Yogyakarta. Merupakan tempat yang ramai dikunjungi wisatawan dan penuh dengan kuliner ala angkringan, di tempat ini terdapat dua pohon beringin yang dikenal dengan istilah beringin kembar. Keduanya punya kesan magis yang membuat para wisatawan menjadi penasaran.

Usut punya usut, kedua pohon itu berkelindan dengan mitos. Siapa saja yang berhasil lewat di antara dua pohon ini sembari memejamkan mata, konon seluruh hajat atau keinginannya akan terkabul. Tindakan itu disebut tradisi mesangin.

Jika ditilik dari sejarahnya, tradisi ini sudah ada sejak masa Kesultanan Yogyakarta. Mulanya, mereka menggelar ritual Topo Bisu pada malam ane Suro. Pada ritual itu, setelah mengelilingi benteng keraton, para prajurit serta abdi dalem melewati dua beringin kembar guna mencari berkah dan memohon perlindungan dari serangan musuh.

Baca:
Batik Pesisir, Maju Setelah Industri Tekstil Bharat Mundur

Pada masa itu, alun-alun tersebut digunakan sebagai tempat berlatih prajurit keraton. Biasanya mereka melatih diri dengan berjalan di antara dua pohon beringin dengan mata tertutup. Mitos itu kian diperkuat dengan kepercayaan adanya jimat tolak bala guna mengusir musuh.

Konon, ada tentara kolonial yang melewati beringin kembar ini dan seketika kehilangan kekuatannya. Sejak saat itu, mitos ini kian santer di kalangan masyarakat. Kendati berjalan di antara dua pohon beringin walau dengan mata tertutup terdengar sangatlah mudah, namun kenyataannya tak semua orang mampu melakukan itu. Tak sedikit wisatawan yang gagal dalam percobaan pertama, pun pada percobaan-percobaan berikutnya.

Alasan kegagalan itupun beragam. Ada yang memercayai jika pohon-pohon ini seakan ‘memilih’ siapa yang dapat melewatinya. Jika dilihat dari kacamata ilmiah, hal itu lumrah terjadi lantaran berjalan lurus dengan mata terpejam merupakan hal yang cukup sulit dilakukan.

Hal lain yang menyebabkan gagalnya melewati beringin kembar adalah banyaknya suara dan gerakan dari orang-orang di sekitar sehingga menghilangkan konsentrasi. Oleh karenanya, beberapa tips yang bisa dilakukan saat hendak melewati celah ini adalah dengan menghitung langkah, menjaga konsentrasi, menghilangkan kegugupan, serta berlatih berjalan menggunakan mata tertutup.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Aniri dan Orok, Tarian Sakral dari Papua Barat

Koropak.co.id, 05 September 2022 15:10:10

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Papua
– Ada banyak tarian dari Papua yang memiliki ciri khas. Setiap gerakannya dinamis, enerjik, dan penuh semangat. Tari-tari yang ada di Papua memiliki fungsi atau tujuan yang berbeda-beda.

Selain sebagai penyambutan atau hiburan, ada pula tarian yang sakral sebagai pengusir roh jahat. Dua di antaranya adalah tari Aniri dan Orok dari Papua Barat, tepatnya dari daerah Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Tarian sakral itu menggambarkan tentang pembebasan seorang anak dari gangguan setan setelah ditelantarkan oleh kedua orang tuanya yang pergi ke dusun. Biasanya dibawakan pada sore atau malam hari secara berkelompok oleh penari pria dan wanita. Lantaran bersifat sakral dan magis, tarian tersebut tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang.

Susunannya dibagi menjadi empat bagian: bagian pertama orang tua, bagian kedua anak kecil yang tinggal sendirian di rumah, bagian ketiga setan yang mendatangi anak kecil di rumah dan dijadikan anaknya, bagian keempat orang tuanya yang datang mencari anaknya. Setelah kedua orang tuanya bertemu dengan anak yang telah dibebaskan dari kuasa setan, mereka kemudian mengikuti para pembebas.

Ada tiga gerakan khusus dalam tarian aniri yang juga menjadi pembeda dari tarian adat Papua lainnya, yaitu wae ndi atau gerakan yang melindungi anak dari gangguan setan, aniri ndi atau gerakan memberi makan setan agar mau melepaskan anaknya, dan wapa atau gerakan proses pembebasan anak dari kekuasaan setan.

Baca:
Hidup Nomaden, Suku Kamoro Papua Lekat dengan 3S

Adapun tari orok merupakan tari tradisional khas masyarakat Suku Tehit yang tinggal di Distrik Sawiat, Sorong, Papua Barat. Tarian tersebut dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dari tarian tradisional lainnya.

Tarian dan nyanyian orok berkembang dalam budaya suku bangsa Tehit yang tinggal di distrik Sawiat. Syair lagunya berisi pujian atau mazmur. Lagu-lagu orok yang diciptakan atau disyairkan oleh moyang semit biasanya terinspirasi dari keadaan dan kondisi alam pada saat itu. Seperti kicauan burung di pagi hari, fajar di pagi hari, dan lainnya.

Selain itu, orok juga hanya dibawakan pada saat pendidikan adat wuon atau wofle saja. Selain menciptakan lagu, saat ia menyanyikan lagu orok, ada beberapa anak-anak yang dilatihnya untuk menghentakan kaki atau menarikan orok, sesuai dengan irama lagu yang dinyanyikan.

Tarian orok juga hanya ditampilkan saat penerimaan atau masuknya siswa, pertengahan pendidikan, dan penyambutan atau pelantikan serta penyerahan peserta didik ke orang tuanya. Masyarakat Suku Tehit diketahui memiliki tiga jenis tarian, yaitu orok, dirkehen, dan say kohok.

Uniknya, tarian tersebut dimainkan tanpa diiringi alat musik, namun lebih mengandalkan suara atau irama lagu atau nyanyian yang dilantunkan oleh pemimpin tarian. Terkadang, lantunan pemimpin tarian akan dibalas oleh peserta lainnya atau penari lainnya.

Namun, ada perbedaan dari ketiga jenis tarian tradisional tersebut, yakni terletak pada syair lagu, momen pentas dan irama hentakan kaki. Jika tari orok dimainkan saat upacara adat, tarian dirkehen biasanya akan dimainkan pada saat peresmian rumah adat kehen. Sedangkan untuk tarian say kohok akan dimainkan pada saat pembayaran mas kawin pada rumah adat yang disebut dengan mbol atau bol kehen.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Warna Pada Batik Betawi Yang Dipengaruhi Oleh Budaya Melayu Adalah

Source: https://koropak.co.id/17586/pesona-batik-betawi-yang-tak-pernah-pudar

Check Also

Fpb Dari 36 72 Dan 90

Fpb Dari 36 72 Dan 90 A link has directed you lot to this review. …