Tokoh Penggagas Politik Luar Negri




Tokoh Penggagas Politik Luar Negri

Baca :   10. Sebuah taman berbentuk lingkaran dengan diameter 20m.disekeliling taman itu akan dibuat

Tampak jelas bahwa ide dasar politik luar\due north negeri bebas aktif yang dikemukakan oleh Hatta sama sekali bukan \nretorika kosong mengenai kemandirian dan kemerdekaan, akan tetapi \ndilandasi pemikiran rasional dan bahkan kesadaran penuh akan \nprinsip-prinsip realisme dalam menghadapi dinamika politik internasional\n dalam konteks dan ruang waktu yang spesifik. Bahkan dalam pidato tahun \n1948 tersebut, Hatta dengan tegas menyatakan, percaya akan diri sendiri \ndan berjuang atas kesanggupan kita sendiri tidak berarti bahwa kita \ntidak akan mengambil keuntungan daripada pergolakan politik \ninternasional.<\/p>\n

Pelajaran terpenting yang bisa kita ambil\n dari para founding fathers kita adalah bahwa politik internasional \ntidak bisa dihadapi dengan sentimen belaka. Namun, dengan realitas dan \nlogika yang rasional. Contoh yang paling sering disebut adalah pilihan \nyang diambil Uni Soviet pada 1935 ketika ia harus menghadapi kelompok \nfasis pimpinan Hitler. Para pemimpin Uni Soviet menyerukan kader dan \nsekutunya di seluruh dunia untuk mengurangi permusuhan dengan kelompok \nkapitalis dan menyerukan dibentuknya front bersama melawan fasisme. \nKemudian pada 1939, Uni Soviet mengadakan kerja sama nonagresi dengan \nmusuhnya sendiri, Jerman. Dengan itu, Soviet terbebaskan untuk beberapa \nwaktu lamanya dari ancaman penaklukan. Contoh inilah yang dikemukakan \nHatta untuk menggambarkan betapa politik internasional sedapat mungkin \ndijauhkan dari prinsip sentimental dan didekatkan pada prinsip realisme.<\/p>\due north

Dalam menghadapi dilema di atas, Soekarno\n dan Soeharto\u2013dua presiden yang lama berkuasa\u2013menghadapinya dengan cara \nyang berbeda. Soekarno menjalankan politik luar negeri Indonesia yang \nnasionalis dan revolusioner. Hal ini tecermin dari politik konfrontasi \ndengan Malaysia, penolakan keras Soekarno terhadap bantuan keuangan \nBarat dengan jargon become to hell with your assistance, dan pengunduran diri \nIndonesia dari keanggotaannya dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). \nLandasan pemikiran Soekarno adalah Republic of indonesia harus menolak perluasan \nimperialisme dan kembalinya kolonialisme. Dan pembentukan Malaysia, \nbantuan keuangan Barat serta PBB, dalam pemikiran Soekarno ketika itu, \nadalah representasi imperialisme dan kolonialisme.<\/p>
"}]” data-testid=”answer_box_list”>

Baca :   nilai 5/2^-3 adalah..............

DALAM kata pengantarnya terhadap buku Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence (1976), George Kahin berargumen bahwa politik luar negeri Indonesia senantiasa amat dipengaruhi oleh politik domestik. Dan pada saat yang sama dipengaruhi oleh usaha untuk memperluas akses terhadap sumber-sumber daya eksternal tanpa mengorbankan kemerdekaannya.Dari waktu ke waktu, argumen ini belum hilang relevansinya. Persoalan mencari titik kesetimbangan antara dinamika politik domestik dan usaha Indonesia mendapatkan sumber daya eksternal tanpa mengorbankan prinsip kemandirian dan kemerdekaan selalu menjadi persoalan pelik bagi setiap rezim pemerintahan kita, baik dari masa Soekarno hingga pemerintahan Megawati saat ini.

Persoalan inilah yang sejatinya berusaha dikonfrontasi oleh Bung Hatta dalam pidatonya Mendayung di Antara Dua Karang, yang disampaikan oleh Bung Hatta di muka Badan Pekerja Komite Nasional Pusat di Yogyakarta pada 1948. Hatta dengan jeli menangkap potensi konflik internal antarkelompok elite setelah persetujuan Linggarjati dan Renville.Ia menyimpulkan bahwa pro-kontra terhadap kedua persetujuan antara pemerintah Indonesia yang baru merdeka dan pemerintah kerajaan Belanda itu sebenarnya merupakan gambaran konkret dari dinamika politik internasional yang diwarnai pertentangan politik antara dua adikuasa ketika itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketika itulah Hatta mulai memformulasikan adagium politik luar negeri kita yang bebas dan aktif.

Bila diamati dengan cermat, sebagaimana ditemukan dalam sebuah tulisan Bung Hatta di jurnal internasional terkemuka Foreign Affairs (vol 51/iii, 1953), politik luar negeri bebas aktif diawali dengan usaha pencarian jawaban atas pertanyaan konkret: have then Indonesian people fighting for their freedom no other grade of activeness open to them than to choose betwixt being pro-Russian or pro-American? The government is of the stance that position to be taken is that Indonesia should not exist a passive party in the loonshit of international politics only that it should be an active agent entitled to decide its own standpoint. The policy of the Republic of Republic of indonesia must exist resolved in the light of its own interests and should be executed in consonance with the situations and facts it has to confront.

Baca :   3x pngkt2 + 27x + 54 = 0 tentukan sumbu simentri dan titik puncak

Tampak jelas bahwa ide dasar politik luar negeri bebas aktif yang dikemukakan oleh Hatta sama sekali bukan retorika kosong mengenai kemandirian dan kemerdekaan, akan tetapi dilandasi pemikiran rasional dan bahkan kesadaran penuh akan prinsip-prinsip realisme dalam menghadapi dinamika politik internasional dalam konteks dan ruang waktu yang spesifik. Bahkan dalam pidato tahun 1948 tersebut, Hatta dengan tegas menyatakan, percaya akan diri sendiri dan berjuang atas kesanggupan kita sendiri tidak berarti bahwa kita tidak akan mengambil keuntungan daripada pergolakan politik internasional.

Pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari para founding fathers kita adalah bahwa politik internasional tidak bisa dihadapi dengan sentimen belaka. Namun, dengan realitas dan logika yang rasional. Contoh yang paling sering disebut adalah pilihan yang diambil Uni Soviet pada 1935 ketika ia harus menghadapi kelompok fasis pimpinan Hitler. Para pemimpin Uni Soviet menyerukan kader dan sekutunya di seluruh dunia untuk mengurangi permusuhan dengan kelompok kapitalis dan menyerukan dibentuknya front bersama melawan fasisme. Kemudian pada 1939, Uni Soviet mengadakan kerja sama nonagresi dengan musuhnya sendiri, Jerman. Dengan itu, Soviet terbebaskan untuk beberapa waktu lamanya dari ancaman penaklukan. Contoh inilah yang dikemukakan Hatta untuk menggambarkan betapa politik internasional sedapat mungkin dijauhkan dari prinsip sentimental dan didekatkan pada prinsip realisme.

Dalam menghadapi dilema di atas, Soekarno dan Soeharto–dua presiden yang lama berkuasa–menghadapinya dengan cara yang berbeda. Soekarno menjalankan politik luar negeri Indonesia yang nasionalis dan revolusioner. Hal ini tecermin dari politik konfrontasi dengan Malaysia, penolakan keras Soekarno terhadap bantuan keuangan Barat dengan jargon go to hell with your help, dan pengunduran diri Indonesia dari keanggotaannya dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Landasan pemikiran Soekarno adalah Indonesia harus menolak perluasan imperialisme dan kembalinya kolonialisme. Dan pembentukan Malaysia, bantuan keuangan Barat serta PBB, dalam pemikiran Soekarno ketika itu, adalah representasi imperialisme dan kolonialisme.




  • Saffana2311

Artikel Terkait

Leave a Comment