Rempah Rempah Dari Maluku Harganya Sangat Tinggi Di Eropa Karena

Rempah Rempah Dari Maluku Harganya Sangat Tinggi Di Eropa Karena

Rempah-Rempah Maluku: Dari Eksotisme Aroma Surga Para Dewa hingga Sensasi Rasa dalam Seteguk Coca Cola

admin
|
14 Februari 2022

Ketika Anda hari ini tidak dapat membedakan aroma pala dan cengkeh, maka orang-orang akan mengira anda terkena virus COVID-19, namun jika itu Anda alami pada abad ke 15, maka orang-orang akan menertawakan Anda karena Anda dianggap miskin.

Rempah Nusantara, khususnya rempah Maluku (pala dan cengkeh), adalah sejarah panjang dan fantastis tentang sebuah aroma bagi kehidupan manusia. Bahkan secara berlebihan para pelaut era jalur rempah mengungkap bahwa aroma rempah Maluku sudah dapat tercium sepanjang puluhan mil sebelum para pelaut berlabuh di kepulauan rempah ini. Tentunya, kita semua sudah paham bahwa kerajaan-kerajaan imperialis Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda di Asia dibangun atas dasar pencarian rempah-rempah Maluku. Bahkan, Jack Turner dalam
Sejarah Rempah
(2011) menulis bahwa kalau bukan karena keinginan dan nafsu yang kuat untuk menemukan lokasi penghasil cengkeh dan pala, Cristopher Colombus tidak mungkin menemukan benua Amerika. Dalam kaitan itu, Jack Turner menyatakan nafsu akan rempah-rempah tak dinyana membuat bangsa barat bergerak sedemikian rupa. Demi rempah-rempah, kekayaan datang dan pergi, kekuasaan dibangun untuk kemudian dihancurkan dan bahkan sebuah dunia baru–dari perspektif orientalis–seperti daratan Amerika dan Australia dapat ditemukan. Selama ribuan tahun, selera akan rempah-rempah terbentang di sekujur planet bumi dalam proses mengubah dunia.¹

Maluku sebagai satu satunya tempat tumbuhnya rempah (pala dan cengkeh)
sekali waktu pernah menjadi surga dan tujuan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Cita rasa firdaus dalam berbagai perspektif mendasari para penjelajah menempuh bahaya dan risiko kehilangan nyawa untuk menemukan pulau di Nusantara tersebut. Hanya di pulau-pulau kecil vulkanis itulah pala dan cengkeh tumbuh, sedangkan di tempat lain tidak ditemukan kedua tanaman tersebut. Tomé Pires dalam
Suma Oriental
menyatakan bahwa “pedagang-pedagang melayu mengatakan kepada saya, Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk buah pala dan Maluku untuk cengkeh, dan barang perdagangan ini tidak dikenal di lain tempat di dunia ini, kecuali di tempat-tempat yang disebut tadi. Dan saya telah tanyakan dan selidiki dengan teliti apakah barang ini terdapat di tempat lain, semua orang mengatakan tidak“.²

Namun wajah penasaran para penjelajah seketika berubah menjadi rakus yang tergambar dalam ekspresi kolonialisme dan imperialisme, juga kapitalisme. Aroma dan cita rasa yang menjadi sumber kenikmatan surgawi bagi mereka, justru berbanding terbalik menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan yang mengakibatkan wilayah Nusantara masuk ke dalam lembah kelam. Terlepas dari segala ambisi para penjelajah dalam menguasai komoditas yang berharga, juga faktor kelangkaan dan tingkat kesulitan yang tinggi untuk memperolehnya, rempah memang menjadi primadona selama berabad-abad.

Dari tempat asalnya di pulau-pulau kecil tropis dan vulkanis (Ternate, Tidore, Makian, Moti dan Bacan serta Banda Neira) pala, fuli, dan cengkeh mengalir ke pasar Venesia, Belgia, dan London melewati jalur yang berliku-liku, mengelilingi setengah bumi, dibawa oleh manusia dari berbagai suku, bangsa, bahasa yang berbeda. Sebuah perjalanan panjang yang ditempuh oleh pemilik aroma surgawi.

Jamuan para Bangsawan dan Santapan para Dewa

John dari Hautevile dalam Archithrenius pernah menulis “Kebangsawanaan dinilai dari kemewahan sebuah meja makan dan oleh cita rasa yang terpuaskan lewat pengeluaran yang besar”. Nyatanya hal ini sangat tergambar bagaimana rempah menjadi jamuan bangsawan yang dinilai super mewah, tidak hanya karena cita rasanya namun juga karena aromanya. Seperti terlihat di jamuan makan malam Pangeran Henque dari Portugis, yang pada malam Natal tahun 1414 sebelum menyerang bangsa Moor. Pangeran Henrique menyediakan jamuan mewah untuk para bangsawan. Jamuan mulai dari berbehel-behel anggur, manisan, gula, dan buah-buahan, sebagai jamuan supermewah dia menyediakan rempah-rempah, aroma, dan cita rasa surga yang ditunggu para bangsawan.

Pada masa jarak setengah millenium, aroma rempah-rempah berarti aroma kebangsawanan. Sebagian besar pesonanya berasal dari sisi misteri dan keglamorannya, efek intens yang dihasilkan oleh imajinasi utopia. Rempah-rempah adalah lambang “kehidupan yang lebih baik”, suatu konsep yang terus diburu kaum bangsawan Eropa abad pertengahan lewat ritualnya, permadani dindingnya dan literatur dunia khayalnya. Rempah-rempah memang dapat disederhanakan sebagai sarana pengukur prestise ekonomi belaka pada masa tersebut, terlebih mitos bahwa komoditas ini diyakini mewakili sesuatu yang eksotis nan magis, yaitu aroma kesucian yang disukai para dewa.

Baca :   Rpp Satu Lembar Kelas 5 Semester 1

Jauh sebelum adanya bukti rempah-rempah dikonsumsi, komoditas ini telah digunakan dalam laku religius maupun magis. Rempah-rempah umumnya dibakar dalam dupa atau dilemparkan begitu saja kedalam api di perapian arang kuil selama proses ritual keagamaan. Atau dapat juga rempah-rempah dijadikan bahan wewangian dan salep yang dioleskan kepada patung pemujaan. Eksotisme, kelangkaan, dan kemisteriusan rempah-rempah menjadi karakteristik yang sesuai dengan ritual pemujaan kuno. Daya tarik lainnya, tentu aroma yang jika dicampur dengan dupa, akan keluar wangi, harum menusuk dan memperkuat efek dari berbagai karet dan getah dari Timur Dekat dan Arab, fungsi ini masih terpakai hingga hari ini. Seperti dikatakan Turner bahwa paganisme pada dasarnya identik dengan bau-bauan. Selain di festival-festival besar, aroma rempah-rempah, dupa, dan wewangian juga meresap ke dalam seluruh bagian ritual agama kuno layaknya agama masuk ke dalam kehidupan itu sendiri. Selain dewa-dewa Pagan, nampaknya dewa-dewa Romawi juga menyukai rempah. Ketika Hercules dalam puisi Seneca berterimakasih kepada dewa-dewa atas kejayaannya, ia memerintahkan disiapkan persembahan terbaik bersama rempah-rempah India. Dalam hal ini tentu yang dimaksud adalah rempah-rempah Nusantara yang dibawa melalui India.

R.A. Donkin dalam tulisannya “Between East and West; the Moluccas and the Traffic in Spices up to the Arrival of Europeans” menjelaskan secara rinci dan terpisah pemanfaatan rempah-rempah di India, Tiongkok, dan Arab. Menyangkut dengan pemanfaatan cengkeh dan pala di India, Donkin mengutip kitab
Caraka Samhita–sebuah karya mengenai medis tertua yang disusun pada abad pertama sebelum masehi–menjelaskan bahwa pala dan cengkeh, serta sirih yang dicampur dengan
kapur barus, hendaknya dikunyah dalam mulut untuk mengharumkan nafas.

Cengkeh, pala, dan kayu cendana juga digunakan dalam beberapa persiapan upacara suci. Karya kedua yang memberitakan cengkeh adalah
Susutra Samhita. Dalam risalah ini dijelaskan bahwa cengkeh, pala, dan kapur barus (tanpa sirih) merupakan campuran bahan obat untuk menghilangkan bau mulut. Pada zaman Kalidasa sesungguhnya telah diketahui bahwa cengkeh tumbuh di kepulauan Timur (Dvipantara). Tanaman beraroma ini digunakan dalam jumlah besar pada zaman India kuno hingga abad pertengahan. Rata-rata bahan ini digunakan sebagai parfum, kosmetik, dan obat-obatan dalam bentuk tepung, larutan, sirup, pasta, serbuk, minyak, dan pastiles. Varahamihira, dalam bukunya
Bhratsamhita
(sekitar tahun 550M) menyediakan sebuah ulasan panjang tentang penyiapan parfum. Pala bersama dengan kapur barus digunakan untuk menghidupkan kembali bau harum.³ Hal ini menjelaskan eksotisme aroma rempah-rempah menandai harum khas bangsawan India dan wewangian suci dalam ritual kepercayaannya.

Sedangkan, Tiongkok rata-rata mengambil rempah dari Indonesia dalam berbagai jenis, yang cukup dominan dibeli Tiongkok dari Indonesia adalah pala dan cengkeh. Tiongkok memanfaatkan cengkeh sebagai bahan obat-obatan pada abad ke III di masa pemerintahan dinasti Han.
Chau Ju-kua
(1178-1225) melaporkan bahwa cengkeh pertama kali dibawa ke Tiongkok oleh Yueh. Cengkeh ketika itu menjadi bahan farmasi di Tiongkok. Seperti halnya India yang memanfaatkan cengkeh untuk obat-obatan, Tiongkok juga memasok cengkeh untuk kebutuhan farmasi.

Sementara itu, berita pemanfaatan cengkeh di kawasan Timur Tengah–melingkupi Persia–dijelaskan oleh R.A. Donkin sebagai berikut:
Penyebutan cengkeh dalam bahasa Arab adalah
caranful
, dan ini digunakan oleh Al-Kindi pada abad XIX dalam karyanya
The Chemistry of Perfumes and Medical Formulary (Aqrabadhin). Dunia Arab dan Persia di masa lalu mengenal cengkeh Maluku setelah mereka bersentuhan langsung dengan pusat rempah di Maluku. Proses ini berlangsung pada masa-masa penyebaran Islam ke Nusantara pada abad VII. Laporan mengenai cengkeh dan pala Maluku di dunia Arab dan Persia muncul dalam laporan Al-Idrisi tentang Geography tahun 1154. Kemudian laporan sejak abad X mendukung pernyataan bahwa
aroma rempah Maluku banyak digunakan di pulau-pulau Maharaja, apa yang disebut
zabay
oleh orang Arab
, yakni Sumatera (Sriwijaya) dan bagian selatan Semenanjung Malaya. Selain itu, laporan dari Al-Mas’udi tahun 956 menyatakan bahwa kerajaan itu mengekspor cengkeh, pala, dan kayu cendana. Laporan selanjutnya dari Wasaf tahun 1300 dan Ibnu Battuta pada tahun 1350 menyebut cengkeh diambil dari
Mul Java
(pulau Jawa). Produk-produk Maluku yang dikapalkan oleh para pedagang Arab ke Timur biasanya melewati pelabuhan-pelabuhan di India atau Srilangka dan sebagian dijual di sana. Karena itu mudah diduga oleh para importir di Asia Barat dan Eropa selatan bahwa rempah-rempah berasal dari India. Ibn Masawaih tahun 850 menempatkan cengkeh, pala, dan kayu cendana di antara aromatik sekunder (afawih). Rempah Maluku juga muncul dalam
Kitab Zat Kimia
tahun 870 karya Al-Kindi. Dengan demikian pasokan cengkeh Maluku oleh pedagang Arab maupun Persia dimanfaatkan untuk kebutuhan farmasi dan juga sebagai bumbu masak.

Baca :   Tata Nama Senyawa Alkana Alkena Alkuna

Merujuk pada penjelasan R.A. Donkin, terlihat jelas bahwa cengkeh sebelum dipopulerkan oleh orang-orang Eropa, telah menjadi komoditas yang diperdagangkan oleh pedagang-pedagang Asia dalam jaringan perdagangan Asia klasik.
Penemuan biji lada hitam pada lubang hidung Ramses II sang Firaun dari Mesir dan berbagai jenis rempah dalam perutnya, tak lama setelah kematiannya pada 12 Juli 1224 SM, mengindikasikan bahwa rempah-rempah bukan sekedar berkaitan dengan persoalan mumifikasi mayat, tetapi juga terkait dengan sistem kepercayaan orang-orang Mesir ketika itu. Dalam sistem kepercayaan orang-orang Mesir kematian bukan akhir dari kehidupan, oleh karena itu tubuh si mayat harus diawetkan, agar tidak terjangkiti apa yang disebut ”keringat set”. Jika si mayat terkena
keringat set, kematiannya menjadi abadi, artinya tidak ada kehidupan lagi sesudah kematian di dunia ini. Dalam hal ini wewangian rempah memberi simbol berjayanya kehidupan atas kematian, serta adanya keabadian, seperti dewa-dewa yang tak dapat meninggal bersifat ilahi–dan berbau aroma rempah.

Kaum Romawi, baik umat Kristen maupun pagan, pada dasarnya mewarisi tradisi ini dari Mesir. Di kawasan yang dulu dikenal sebagai provinsi Galia, Dinasti Merovingia Franka pada tahun 476 sampai tahun 750 rupanya biasa menggunakan rempah-rempah untuk pembalsaman. Gregory dari Tours yang hidup pada tahun 538 hingga 594 menulis tentang Ratu Radegunda suci yang dibalsam dengan rempah-rempah, yang mana tradisi tersebut bertahan dan menjadi ciri khas pemakaman anggota keluarga kerajaan. Dalam memperlakukan jasad setelah kematian, fokus sesungguhnya bukanlah pada pengawetan jasad agar tetap terlihat hidup, tetapi lebih didasarkan pada alasan agar aroma kesucian, di mana wewangian rempah-rempah tampil sebagai bukti pertolongan Tuhan, atau sebuah bukti simbolis akan status yang dimuliakan. Terbaring di antara rempah-rempah sama artinya dengan  terbaring di antara aroma kesucian para malaikat.
Tampaknya rempah-rempah termasuk pala, fuli, dan cengkeh tidak saja digunakan dalam tradisi kematian seseorang, tetapi juga dijadikan simbol kesucian bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Rempah-rempah tidak saja bermanfaat bagi kepentingan ritual kuburan dan orang mati, tetapi juga digunakan untuk melindungi raga/jasad manusia yang masih hidup. Dalam pola pikir abad pertengahan, rempah-rempah bermakna sama dengan obat-obatan. Ketika rempah-rempah menjadi cita rasa yang populer saat itu, lalu karakteristik dari aromanya mendapat beragama tanggapan. Semua orang sepakat bahwa baunya sensual, rempah-rempah berbau khas surgawi. Hasrat untuk mendapatkan rempah-rempah dari negeri asalnya mendorong kalangan pemodal besar dan pihak kerajaan Spanyol dan Portugis untuk membiayai Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Fernando Magelhans masing-masing dengan armadanya yang cukup besar. Di samping itu, bukan saja pedagang-pedagang Islam yang menguasai jaringan perdagangan rempah-rempah, tetapi juga terlibat di dalamnya pedagang Tiongkok, India, Melayu, dan Yahudi. Memang harus diakui, bahwa selama perjalanan rempah-rempah dari Timur ke Barat, para pedagang perantara yang berbeda budaya dan agama itu akan terus meningkatkan harga, sehingga setelah tiba di Eropa, harganya sudah mencapai 1000% bahkan lebih besar lagi. Dengan biaya semacam itu, timbul aura kemewahan, bahaya, jarak, dan profit yang berlipat ganda.

Namun seiring dengan adanya penjelajahan yang kemudian berubah menjadi perlombaan monopoli perdagangan rempah-rempah di dunia Timur. Rempah-rempah perlahan bukan lagi menjadi kudapan para bangsawan saja, namun sudah mulai meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan orang Eropa. Dalam perkembangan lebih lanjut, rempah-rempah mulai kehilangan daya tariknya. Bahkan ketika Perusahaan Hindia Timur Inggris (EIC) dan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) membawa rempah-rempah ke Eropa dalam jumlah yang besar, sebagian dari mereka menganggap rempah-rempah merupakan selera masa lalu, selera abad pertengahan. Kejatuhan komoditas ini juga bersamaan dengan persaingan pasar internasional yang semakin padat.

Baca :   Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah

Perkembangan secara luas agama monoteisme, seperti Islam, juga berhasil menggeser posisi rempah di dunia ritual dan magis. Rempah-rempah yang dulu dikenal dengan asap suci yang melambangkan aroma Tuhan, ditandai dengan pembakaran dupa bersama rempah, atau pembalsaman mayat dengan aneka rempah perlahan mulai ditinggalkan oleh agama mayoritas. Pada abad XIX, dengan ditemukannya formaldehida dan perkembangan teknik pembalsaman arterial oleh Dr. Frederick Ruysch tentang praktik pembalsaman dengan rempah pun dinyatakan usang. Meskipun pembakaran dupa bersama rempah-rempah masih dilakukan di sebagian kecil belahan dunia, seperti India dan Tiongkok. Di sekolah medis Eropa dan Amerika, pelajaran tentang farmasi juga berkembang ke arah yang jauh lebih empiris dan sintesis, dalam hal ini dunia semakin tidak lagi mengandalkan obat-obatan herbal, termasuk rempah-rempah.

Kehilangan eksistensi bukan berarti kehilangan daya eksotisme, rekonstruksi dan revitalisasi sejarah rempah-rempah yang terus digiatkan seakan kembali membuka memori kolektif masyarakat akan kejayaan rempah-rempah. Seperti kata Susanto Zuhdi, dalam “Menggali Ulang Sejarah Rempah” di harian
Kompas, “Keberuntungan kita adalah bangsa-bangsa Eropa mencatat sejarah pencarian rempah di Nusantara dan bangsa yang kalah adalah bangsa yang mengingat, tetapi tidak mencatat. Jangan sampai kita kalah karena terus terbuai dalam romantisme ingatan tetapi lupa berbuat”. Eksotisme aroma rempah tidak akan berubah sampai kapanpun, yang berubah adalah aktualisasi pemanfaatannya, jika di abad pertengahan aroma ini begitu identik dengan prestise ekonomi kelas kakap dan wewangian suci surganya para dewa, maka hari ini aroma rempah akan menghiasi industri parfum atau aromaterapi. Penggunaan bahan sintetis yang mulai berkurang peminat, seiring pengetahuan manusia akan bahaya yang ditimbulkannya, pasaran estetik aroma rempah begitu terbuka luas. Sehingga Mark Pendergrast pernah menyimpulkan bahwa sejarah tentang Coca Cola dengan menunjukkan salinan formula yang bocor dari minuman ringan paling terkenal dan simbolik ini, yang nampaknya diramu dengan kayu manis dan pala.
Sebagaimana dilansir dari
The Guardian
, Kamis, 17 Juni 2022, salah seorang penyiar radio “This American Life” mengatakan salinan resep berusia 130 tahun milik sang penemu Coca Cola, yang disimpan dalam brankas anti pencurian di Bank Sun Trust, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Resep Coca Cola menggunakan kayu manis, pala, dan ketumbar, yang tidak lain merupakan rempah-rempah Nusantara. Nyatanya, rempah-rempah Nusantara tetap menjadi cita rasa populer hingga masa kini. Sebuah rahasia yang tersembunyi yang dijaga ketat baik jalur perdagangannya pada masa lalu, maupun keberadaannya dalam
secret recipe
milik korporat kapital minuman berkarbonasi paling tenar di muka bumi.

______

¹ Jack Turner,
Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011, hlm.16.

² Armando Cortesao,
The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco Rodrigues, London: The Hakluyt Society, 1944.

³ R. A. Donik,
Between East and WestL the Moluccas and the Traffic in Spices up to the Arrival of Europeans, Philadelphia: American Philosophical Society, 2003, hlm.53.


Ibid, hlm. 156-157.

J.C. Van Leur,
Perdagangan dan Masyarakat Indonesia: Esai-Esai Tentang Sosial dan Ekonomi Asia, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2022 hlm.144-160.

Jack Turner,
Op Cit, hlm.153.

Jack Turner,
Ibid, hlm.159-160.

Jack Turner,
Ibid, hlm.321.

______

Naskah ini merupakan karya 10 pemenang terbaik dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2022. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini.

______

Penulis:
Sri Untari dan Bimasyah Sihite

Editor: Doni Ahmadi

Sumber gambar: shutterstock, ekysanti23/Twenty20

Rempah Rempah Dari Maluku Harganya Sangat Tinggi Di Eropa Karena

Source: https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/rempah-rempah-maluku-dari-eksotisme-aroma-surga-para-dewa-hingga-sensasi-rasa-dalam-seteguk-coca-cola

Artikel Terkait

Leave a Comment