Pusat Kebudayaan India Kuno Terletak Di

Pusat Kebudayaan India Kuno Terletak Di

Lihat Foto

Wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.

KOMPAS.com –
Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya pada 732 Masehi.

Selama hampir tiga abad berdiri, kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini diperintah oleh tiga dinasti, yakni Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra, dan Dinasti Isyana.

Selain itu, ibu kota kerajaan juga mengalami beberapa kali perpindahan, dari Jawa Tengah hingga ke Jawa Timur.

Ibu kota Mataram Kuno di Jawa Tengah

Saat pertama kali didirikan, ibu kota Kerajaan Mataram Kuno terletak di Poh Pitu, di antara wilayah Jawa Tengah bagian selatan (Magelang atau Kedu) dan Yogyakarta.

Akan tetapi, di mana lokasi Poh Pitu sendiri belum dapat dipastikan hingga saat ini.

Dari Poh Pitu, pusat Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke timur, mungkin di sekitar Sragen atau ke daerah Purwodadi-Grobogan oleh Rakai Panangkaran, pengganti Raja Sanjaya.

Setelah Rakai Panangkaran (760-780 Thou) tutup usia, Kerajaan Mataram Kuno terpecah menjadi dua.

Dinasti Sanjaya memerintah Kerajaan Mataram Kuno bercorak Hindu di Jawa Tengah bagian utara.

Sementara Dinasti Syailendra memerintah Kerajaan Mataram Kuno bercorak Buddha di Jawa Tengah bagian selatan.

Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan (840-856 Chiliad), ibu kota kerajaan berada di Mamrati, di sekitar Poh Pitu.

Kemudian dikembalikan lagi ke Poh Pitu pada era Dyah Balitung (898-915 K) dan dipindahkan ke Bhumi Mataram (Yogyakarta) ketika di bawah kekuasaan Dyah Wawa (924 M).

Baca juga: Mpu Sindok, Raja yang Memindahkan Mataram Kuno ke Jawa Timur

Pada 929 M, ibu kota Mataram Kuno dipindahkan oleh Mpu Sindok ke Jawa Timur.

Para ahli memiliki beberapa teori terkait latar belakang pemindahan pusat kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, seperti faktor bencana alam dan politik.

Bencana alam yang dimaksud adalah letusan Gunung Merapi, yang menghancurkan ibu kota kerajaan di Bhumi Mataram.

Menurut para pujangga, bencana tersebut dianggap sebagai pralaya atau kehancuran dunia, dan sesuai landasan kosmogonis maka haruslah dibangun kerajaan baru yang diperintah wangsa baru pula.

Oleh karena itu, selain memindahkan kerajaan, Mpu Sindok, juga mendirikan Dinasti Isyana.

Sementara faktor politik yang menyebabkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur adalah untuk menghindari serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Setelah pindah ke Jawa Timur, Kerajaan Mataram Kuno lebih dikenal dengan nama Kerajaan Medang.

Sesuai Prasasti Turyan, ibu kota pertamanya berada di Tamwlang, daerah yang saat ini berada di sekitar Jombang.

Kemudian, Prasasti Anjukladang dan Prasasti Paradah menyebut bahwa ibu kota Kerajaan Medang berada di Watugaluh, yang sekarang berada di dekat Jombang di tepi Sungai Brantas.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur juga mengalami perpindahan, yang diduga karena serangan musuh.

Referensi:

  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Indonesia 2: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Lihat Foto

Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata

Wilayah kekuasaan Kerajaan Medang.

KOMPAS.com –
Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur atau sering disebut Kerajaan Medang.

Selain memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Mpu Sindok juga mendirikan dinasti baru, yaitu Wangsa Isyana atau Isana.

Setelah naik takhta pada 929 M, ia bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa dan berkuasa hingga 947 M.

Asal-usul Mpu Sindok

Terdapat perbedaan pendapat di antara para sejarawan terkait asal-usul Mpu Sindok.

Pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong (919-924 Thou), Mpu Sindok diketahui menjabat sebagai Rakai Mahamantri Halu.

Kemudian, ketika Dyah Wawa (924-929 M) berkuasa, ia naik pangkat menjadi Rakai Mahamantri Hino.

Kedua jabatan yang didudukinya itu adalah posisi yang hanya dapat diisi oleh kerabat dekat raja.

Atas dasar itulah Mpu Sindok disimpulkan sebagai keturunan Wangsa Syailendra yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur karena istananya di Jawa Tengah hancur akibat letusan Gunung Merapi.

Menurut para pujangga, bencana tersebut dianggap sebagai pralaya atau kehancuran dunia, dan sesuai landasan kosmogonis maka haruslah dibangun kerajaan baru yang diperintah wangsa baru pula.

Oleh karena itu, selain memindahkan kerajaan, Mpu Sindok juga mendirikan Dinasti Isyana.

Akan tetapi, Poerbatjaraka berargumen bahwa Mpu Sindok naik takhta karena perkawinannya dengan Dyah Kebi, putri Dyah Wawa.

Baca juga: Kerajaan Mataram Kuno: Letak, Masa Kejayaan, dan Peninggalan

Memindahkan pusat pemerintahan ke Jawa Timur

Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai asal-usulnya, yang pasti Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur pada 929 M.

Terdapat beberapa alasan yang diperkirakan menjadi sebab perpindahan ini, seperti faktor bencana alam, politik, dan adanya ancaman dari kerajaan lain, misalnya Kerajaan Sriwijaya.

Setelah pindah ke Jawa Timur, kerajaan ini sering disebut sebagai Kerajaan Medang.

Sesuai Prasasti Turyan, ibu kota pertamanya berada di Tamwlang, daerah yang saat ini berada di sekitar Jombang.

Mpu Sindok kemudian dinobatkan sebagai raja pertama dari Dinasti Isyana.

Baca :   Ukuran 5l Sama Dengan Berapa Xl

Mpu Sindok mendirikan Dinasti Isyana

Istilah Wangsa Isyana dapat dijumpai dalam Prasasti Pucangan yang dikeluarkan Raja Airlangga pada 1041 M.

Dalam prasasti tersebut, dimuat silsilah Raja Airlangga, mulai dari Mpu Sindok sebagai pendiri dinasti.

Mpu Sindok memiliki seorang putri bernama Sri Isanatunggawijaya, yang menjadi penerusnya setelah menikah dengan Sri Lokapala.

Mereka mempunyai putra bernama Makutawangsawardhana, yang menjadi raja ketiga dari Wangsa Isyana.


Baca juga: Pralaya Medang, Serangan yang Meruntuhkan Kerajaan Mataram Kuno

Selama hampir dua dekade berkuasa, Mpu Sindok meninggalkan setidaknya 20 buah prasasti.

Akan tetapi, sebagian besar prasasti peninggalannya berkenaan dengan penetapan sima bagi suatu bangunan suci.

Sementara kehidupan politik yang tergambar pada prasasti-prasastinya hanya samar.

Seperti contohnya pada Prasasti Waharu, yang berisi tentang anugerah untuk penduduk Desa Waharu karena setia membantu negara melawan musuh.

Selain itu, Prasasti Anjukladang dan Prasasti Paradah menyebut bahwa ibu kota kerajaan berada di Watugaluh, yang sekarang berada di dekat Jombang di tepi Sungai Brantas.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Medang juga mengalami perpindahan yang diduga karena serangan musuh.

Mpu Sindok meninggal pada 947 M, jasadnya dicandikan di Isanabajra dan setelah itu takhta kerajaan jatuh kepada putrinya Sri Isanatunggawijaya, yang memerintah bersama suaminya, Sri Lokapala.

Referensi:

  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (Eds). (2008). Sejarah Nasional Republic of indonesia Ii: Zaman Kuno. Dki jakarta: Balai Pustaka.

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Faktor Penyebab Perpindahan Pusat Pemerintahan Mataram Kuno ke Jawa Timur. | https://hurahura.wordpress.com

Prasasti Sangguran (982 K) yang ditemukan di Malang Jawa Timur menuliskan bahwa Raja Mataram Kuno di Jawa Tengah yang bernama Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa) pada tahun 928 M telah meresmikan desa Sangguran sebagai  sebuah sima, sebagai sebuah desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Dalam prasasti Sangguran ini juga disebutkan nama Rakryan Mapatih I hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadana, pejabat selain sang raja yang tercantum dalam acara peresmian desa Sangguran menjadi desa sima.

Namun setahun kemudian, pada 929 M, gelar Mpu Sindok ini sudah berganti menjadi Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa, sebagaimana yang tertulis di prasasti Turyyan (929) yang ditemukan di Malang Jawa Timur.

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Prasasti Turyyan (929 M) juga menyebutkan bahwa Mpu Sindok  membangun pusat pemerintahannya  di Tamwlang, yang sekarang diidentifikasikan sebagai desa Tembelang di daerah Jombang Jawa Timur.

Baca juga: Mataram Kuno: Kudeta Rake Warak dan Runtuhnya Kejayaan Dinasti Sailendra

Dari kedua prasasti ini  dapat diketahui bahwa antara tahun 928-929 M, telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah semasa Dyah Wawa, telah beralih ke Tamwlang, Jombang Jawa Timur dan yang telah menjadi penguasanya adalah Mpu Sindok.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno  ke Jawa timur ini tentunya berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Berbagai faktor tentunya menjadi pertimbangan yang dalam mendirikan pemerintahan yang baru di lokasi yang baru pula. Yang jelas wilayah Jawa Tengah tidak menjadi pilihan dan ditinggalkan karena dianggap “sudah tak layak” untuk dijadikan pusat pemerintahan yang baru.

Hal yang pertama adalah kondisi sosial politik yang semakin tidak stabil akibat perang memperebutkan kekuasaan antar kerabat istana sendiri. Raja Balitung dikudeta oleh Mpu Daksa yang bersekutu dengan Rakai Gurunwangi. Dyah Wawa yang menjadi raja semasa Mpu Sindok masih menjadi Rakryan Mahamantri i Hino juga menjadi raja setelah merebut kekuasaan dari Dyah Tulodhong.

Baca juga: Sound of Borobudur: Menelisik Alat Musik Mataram Kuno pada Relief Karmawibhangga

Hal yang kedua yang menjadi penyebab perpindahan ini adalah sebagaimana pendapat yang diajukan oleh van Bemmelem, yang didukung juga oleh Boechari, adalah bahwa pada masa pemerintahan Dyah Wawa (924-929 Thousand) telah terjadi bencana alam akibat letusan gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang disertai dengan gempa bumi, hujan batu dan abu, serta banjir lahar yang hebat, telah menyebabkan rusaknya kondisi ibukota Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Bukti-bukti yang mendukung dari pendapat ini adalah dengan ditemukannya beberapa candi yang berhasil digali setelah terkubur di dalam tanah untuk waktu yang berabad-abad seperti candi Sambisari, Morangan, Kedulan,  Kadisoka, dan Kimpulan.


Page 2

Prasasti Sangguran (982 One thousand) yang ditemukan di Malang Jawa Timur menuliskan bahwa Raja Mataram Kuno di Jawa Tengah yang bernama Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa) pada tahun 928 Grand telah meresmikan desa Sangguran sebagai  sebuah sima, sebagai sebuah desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Dalam prasasti Sangguran ini juga disebutkan nama Rakryan Mapatih I hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadana, pejabat selain sang raja yang tercantum dalam acara peresmian desa Sangguran menjadi desa sima.

Namun setahun kemudian, pada 929 Grand, gelar Mpu Sindok ini sudah berganti menjadi Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa, sebagaimana yang tertulis di prasasti Turyyan (929) yang ditemukan di Malang Jawa Timur.

Baca :   Apa Alasan Jepang Menyerang Pangkalan Amerika Serikat Di Pearl Harbour

https://kebudayaan.kemdikbud.get.id

Prasasti Turyyan (929 M) juga menyebutkan bahwa Mpu Sindok  membangun pusat pemerintahannya  di Tamwlang, yang sekarang diidentifikasikan sebagai desa Tembelang di daerah Jombang Jawa Timur.

Baca juga: Mataram Kuno: Kudeta Rake Warak dan Runtuhnya Kejayaan Dinasti Sailendra

Dari kedua prasasti ini  dapat diketahui bahwa antara tahun 928-929 M, telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah semasa Dyah Wawa, telah beralih ke Tamwlang, Jombang Jawa Timur dan yang telah menjadi penguasanya adalah Mpu Sindok.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno  ke Jawa timur ini tentunya berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Berbagai faktor tentunya menjadi pertimbangan yang dalam mendirikan pemerintahan yang baru di lokasi yang baru pula. Yang jelas wilayah Jawa Tengah tidak menjadi pilihan dan ditinggalkan karena dianggap “sudah tak layak” untuk dijadikan pusat pemerintahan yang baru.

Hal yang pertama adalah kondisi sosial politik yang semakin tidak stabil akibat perang memperebutkan kekuasaan antar kerabat istana sendiri. Raja Balitung dikudeta oleh Mpu Daksa yang bersekutu dengan Rakai Gurunwangi. Dyah Wawa yang menjadi raja semasa Mpu Sindok masih menjadi Rakryan Mahamantri i Hino juga menjadi raja setelah merebut kekuasaan dari Dyah Tulodhong.

Baca juga: Audio of Borobudur: Menelisik Alat Musik Mataram Kuno pada Relief Karmawibhangga

Hal yang kedua yang menjadi penyebab perpindahan ini adalah sebagaimana pendapat yang diajukan oleh van Bemmelem, yang didukung juga oleh Boechari, adalah bahwa pada masa pemerintahan Dyah Wawa (924-929 M) telah terjadi bencana alam akibat letusan gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang disertai dengan gempa bumi, hujan batu dan abu, serta banjir lahar yang hebat, telah menyebabkan rusaknya kondisi ibukota Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Bukti-bukti yang mendukung dari pendapat ini adalah dengan ditemukannya beberapa candi yang berhasil digali setelah terkubur di dalam tanah untuk waktu yang berabad-abad seperti candi Sambisari, Morangan, Kedulan,  Kadisoka, dan Kimpulan.

Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 3

Prasasti Sangguran (982 M) yang ditemukan di Malang Jawa Timur menuliskan bahwa Raja Mataram Kuno di Jawa Tengah yang bernama Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa) pada tahun 928 M telah meresmikan desa Sangguran sebagai  sebuah sima, sebagai sebuah desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Dalam prasasti Sangguran ini juga disebutkan nama Rakryan Mapatih I hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadana, pejabat selain sang raja yang tercantum dalam acara peresmian desa Sangguran menjadi desa sima.

Namun setahun kemudian, pada 929 M, gelar Mpu Sindok ini sudah berganti menjadi Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa, sebagaimana yang tertulis di prasasti Turyyan (929) yang ditemukan di Malang Jawa Timur.

https://kebudayaan.kemdikbud.get.id

Prasasti Turyyan (929 M) juga menyebutkan bahwa Mpu Sindok  membangun pusat pemerintahannya  di Tamwlang, yang sekarang diidentifikasikan sebagai desa Tembelang di daerah Jombang Jawa Timur.

Baca juga: Mataram Kuno: Kudeta Rake Warak dan Runtuhnya Kejayaan Dinasti Sailendra

Dari kedua prasasti ini  dapat diketahui bahwa antara tahun 928-929 One thousand, telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah semasa Dyah Wawa, telah beralih ke Tamwlang, Jombang Jawa Timur dan yang telah menjadi penguasanya adalah Mpu Sindok.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno  ke Jawa timur ini tentunya berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Berbagai faktor tentunya menjadi pertimbangan yang dalam mendirikan pemerintahan yang baru di lokasi yang baru pula. Yang jelas wilayah Jawa Tengah tidak menjadi pilihan dan ditinggalkan karena dianggap “sudah tak layak” untuk dijadikan pusat pemerintahan yang baru.

Hal yang pertama adalah kondisi sosial politik yang semakin tidak stabil akibat perang memperebutkan kekuasaan antar kerabat istana sendiri. Raja Balitung dikudeta oleh Mpu Daksa yang bersekutu dengan Rakai Gurunwangi. Dyah Wawa yang menjadi raja semasa Mpu Sindok masih menjadi Rakryan Mahamantri i Hino juga menjadi raja setelah merebut kekuasaan dari Dyah Tulodhong.

Baca juga: Sound of Borobudur: Menelisik Alat Musik Mataram Kuno pada Relief Karmawibhangga

Hal yang kedua yang menjadi penyebab perpindahan ini adalah sebagaimana pendapat yang diajukan oleh van Bemmelem, yang didukung juga oleh Boechari, adalah bahwa pada masa pemerintahan Dyah Wawa (924-929 M) telah terjadi bencana alam akibat letusan gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang disertai dengan gempa bumi, hujan batu dan abu, serta banjir lahar yang hebat, telah menyebabkan rusaknya kondisi ibukota Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Bukti-bukti yang mendukung dari pendapat ini adalah dengan ditemukannya beberapa candi yang berhasil digali setelah terkubur di dalam tanah untuk waktu yang berabad-abad seperti candi Sambisari, Morangan, Kedulan,  Kadisoka, dan Kimpulan.

Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 4

Prasasti Sangguran (982 1000) yang ditemukan di Malang Jawa Timur menuliskan bahwa Raja Mataram Kuno di Jawa Tengah yang bernama Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa) pada tahun 928 G telah meresmikan desa Sangguran sebagai  sebuah sima, sebagai sebuah desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Dalam prasasti Sangguran ini juga disebutkan nama Rakryan Mapatih I hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadana, pejabat selain sang raja yang tercantum dalam acara peresmian desa Sangguran menjadi desa sima.

Baca :   Soal Ulangan Tema 4 Kelas 5

Namun setahun kemudian, pada 929 One thousand, gelar Mpu Sindok ini sudah berganti menjadi Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa, sebagaimana yang tertulis di prasasti Turyyan (929) yang ditemukan di Malang Jawa Timur.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Prasasti Turyyan (929 K) juga menyebutkan bahwa Mpu Sindok  membangun pusat pemerintahannya  di Tamwlang, yang sekarang diidentifikasikan sebagai desa Tembelang di daerah Jombang Jawa Timur.

Baca juga: Mataram Kuno: Kudeta Rake Warak dan Runtuhnya Kejayaan Dinasti Sailendra

Dari kedua prasasti ini  dapat diketahui bahwa antara tahun 928-929 Yard, telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah semasa Dyah Wawa, telah beralih ke Tamwlang, Jombang Jawa Timur dan yang telah menjadi penguasanya adalah Mpu Sindok.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno  ke Jawa timur ini tentunya berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Berbagai faktor tentunya menjadi pertimbangan yang dalam mendirikan pemerintahan yang baru di lokasi yang baru pula. Yang jelas wilayah Jawa Tengah tidak menjadi pilihan dan ditinggalkan karena dianggap “sudah tak layak” untuk dijadikan pusat pemerintahan yang baru.

Hal yang pertama adalah kondisi sosial politik yang semakin tidak stabil akibat perang memperebutkan kekuasaan antar kerabat istana sendiri. Raja Balitung dikudeta oleh Mpu Daksa yang bersekutu dengan Rakai Gurunwangi. Dyah Wawa yang menjadi raja semasa Mpu Sindok masih menjadi Rakryan Mahamantri i Hino juga menjadi raja setelah merebut kekuasaan dari Dyah Tulodhong.

Baca juga: Audio of Borobudur: Menelisik Alat Musik Mataram Kuno pada Relief Karmawibhangga

Hal yang kedua yang menjadi penyebab perpindahan ini adalah sebagaimana pendapat yang diajukan oleh van Bemmelem, yang didukung juga oleh Boechari, adalah bahwa pada masa pemerintahan Dyah Wawa (924-929 M) telah terjadi bencana alam akibat letusan gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang disertai dengan gempa bumi, hujan batu dan abu, serta banjir lahar yang hebat, telah menyebabkan rusaknya kondisi ibukota Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Bukti-bukti yang mendukung dari pendapat ini adalah dengan ditemukannya beberapa candi yang berhasil digali setelah terkubur di dalam tanah untuk waktu yang berabad-abad seperti candi Sambisari, Morangan, Kedulan,  Kadisoka, dan Kimpulan.

Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 5

Prasasti Sangguran (982 K) yang ditemukan di Malang Jawa Timur menuliskan bahwa Raja Mataram Kuno di Jawa Tengah yang bernama Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa) pada tahun 928 M telah meresmikan desa Sangguran sebagai  sebuah sima, sebagai sebuah desa yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.

Dalam prasasti Sangguran ini juga disebutkan nama Rakryan Mapatih I hino Mpu Sindok Sri Isanawikramadana, pejabat selain sang raja yang tercantum dalam acara peresmian desa Sangguran menjadi desa sima.

Namun setahun kemudian, pada 929 M, gelar Mpu Sindok ini sudah berganti menjadi Sri Maharaja Rake Hino dyah Sindok Sri Isanawikramadharmatunggadewa, sebagaimana yang tertulis di prasasti Turyyan (929) yang ditemukan di Malang Jawa Timur.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Prasasti Turyyan (929 Thousand) juga menyebutkan bahwa Mpu Sindok  membangun pusat pemerintahannya  di Tamwlang, yang sekarang diidentifikasikan sebagai desa Tembelang di daerah Jombang Jawa Timur.

Baca juga: Mataram Kuno: Kudeta Rake Warak dan Runtuhnya Kejayaan Dinasti Sailendra

Dari kedua prasasti ini  dapat diketahui bahwa antara tahun 928-929 1000, telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno yang semula berada di Jawa Tengah semasa Dyah Wawa, telah beralih ke Tamwlang, Jombang Jawa Timur dan yang telah menjadi penguasanya adalah Mpu Sindok.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno  ke Jawa timur ini tentunya berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Berbagai faktor tentunya menjadi pertimbangan yang dalam mendirikan pemerintahan yang baru di lokasi yang baru pula. Yang jelas wilayah Jawa Tengah tidak menjadi pilihan dan ditinggalkan karena dianggap “sudah tak layak” untuk dijadikan pusat pemerintahan yang baru.

Hal yang pertama adalah kondisi sosial politik yang semakin tidak stabil akibat perang memperebutkan kekuasaan antar kerabat istana sendiri. Raja Balitung dikudeta oleh Mpu Daksa yang bersekutu dengan Rakai Gurunwangi. Dyah Wawa yang menjadi raja semasa Mpu Sindok masih menjadi Rakryan Mahamantri i Hino juga menjadi raja setelah merebut kekuasaan dari Dyah Tulodhong.

Baca juga: Audio of Borobudur: Menelisik Alat Musik Mataram Kuno pada Relief Karmawibhangga

Hal yang kedua yang menjadi penyebab perpindahan ini adalah sebagaimana pendapat yang diajukan oleh van Bemmelem, yang didukung juga oleh Boechari, adalah bahwa pada masa pemerintahan Dyah Wawa (924-929 Yard) telah terjadi bencana alam akibat letusan gunung Merapi. Letusan gunung Merapi yang disertai dengan gempa bumi, hujan batu dan abu, serta banjir lahar yang hebat, telah menyebabkan rusaknya kondisi ibukota Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Bukti-bukti yang mendukung dari pendapat ini adalah dengan ditemukannya beberapa candi yang berhasil digali setelah terkubur di dalam tanah untuk waktu yang berabad-abad seperti candi Sambisari, Morangan, Kedulan,  Kadisoka, dan Kimpulan.

Lihat Sosbud Selengkapnya

Pusat Kebudayaan India Kuno Terletak Di

Source: https://apadimaksud.com/pemindahan-pusat-kerajaan-juga-disebabkan-faktor-alam-yaitu

Check Also

Fpb Dari 36 72 Dan 90

Fpb Dari 36 72 Dan 90 A link has directed you lot to this review. …