Peran Pattimura Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Peran Pattimura Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Thomas Matulessy
Pattimura 1961 Indonesia stamp.jpg

Gambar Kapitan Pattimura diabadikan dalam salah satu perangko

Julukan Kapitan Pattimura
Lahir (1783-06-08)8 Juni 1783
Saparua, Maluku
Meninggal 16 Desember 1817(1817-12-16)
(umur 34)
Victoria, Ambon, Kepulauan Maluku, Hindia Belanda
Pengabdian
Britania Raya

Maluku Britania
Dinas/cabang Flag of the British Army (1938-present).svg
Angkatan Darat Kerajaan
Pangkat Sersan Mayor
Perang/pertempuran Perang Pattimura
Penghargaan Pahlawan Nasional Indonesia
(diterima 6 November 1973)

Thomas Matulessy
atau
Thomas Matulessia, dikenal sebagai
Kapitan Pattimura
atau
Pattimura
saja (8 Juni 1783 – 16 Desember 1817), adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Haria, Saparua, Maluku.[1]
[2]

Menurut buku “Kisah Perjuangan Pattimura” yang ditulis oleh M. Sapija, Pattimura tergolong keturunan bangsawan dari Nusa Ina.

Nama Pattimura kini diabadikan sebagai nama Universitas Pattimura, Kodam XVI/Pattimura dan Bandar Udara Internasional Pattimura di Ambon.

Biografi

Pattimura lahir sebagai Thomas Matulessia pada 8 Juni 1783 di Saparua.[3]
[4]
Orang tuanya adalah Frans Matulessia dan Fransina Tilahoi, dan dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Yohanis.[5]
Menurut I.O. Nanulaitta, dikutip dari Historia.id, keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan.[6]

Pada tahun 1810, kepulauan Maluku diambil alih dari penjajahan Belanda oleh Inggris.[7]
Mattulessi menerima pelatihan militer dari tentara mereka dan mencapai pangkat sersan mayor.[3]

Setelah penandatanganan Perjanjian Anglo Belanda pada 13 Agustus 1814 pada tahun 1816 kepulauan Maluku dikembalikan kepada Belanda; Pattimura menghadiri upacara tersebut. Setelah itu, dengan melanggar perjanjian, dia dan rekan-rekan prajuritnya dipulangkan ke kampung halaman mereka.[4]
[7]
Namun, Pattimura menolak untuk menerima pemulihan kekuasaan Belanda. Ia merasa bahwa mereka akan berhenti membayar guru-guru Agama Kristen pribumi, seperti yang telah mereka lakukan pada tahun 1810, dan khawatir bahwa usulan peralihan ke mata uang kertas akan membuat orang Maluku tidak dapat memberi derma— hanya koin yang dianggap sah — dan dengan demikian menyebabkan gereja tidak dapat membantu orang miskin.[8]

Pemberontakan Ambon tahun 1817

Benteng Duurstede, Saparua, Indonesia

Ia ditunjuk sebagai
Kapitan
oleh rakyat Saparua untuk memberontak melawan Belanda pada 14 Mei 1817.[3]
Serangan dimulai pada tanggal 15, dengan Pattimura dan para letnannya Said Perintah, Anthony Reebhok , Paulus Tiahahu dan putri Tiahahu Martha Christina Tiahahu memimpin.[9]
Pada 16 Mei 1817, mereka merebut Benteng Duurstede dan membunuh 19 tentara Belanda, Residen Johannes Rudolph van den Berg (yang baru tiba dua bulan sebelumnya), istrinya, tiga anaknya dan pengasuh mereka.[10]
[3]
[9]
Satu-satunya Belanda yang selamat adalah putra Van den Berg yang berusia lima tahun, Jean Lubbert.[9]
Setelah perebutan, pasukan Pattimura mempertahankan benteng dan pada 20 Mei mengalahkan Mayor Ir. Pieter J. Beetjes[a], Letnan Dua ES de Haas, dan 200 tentara, hanya menyisakan 30 yang selamat.[10]
Pada tanggal 29 Mei, Pattimura dan para pemimpin Maluku lainnya membuat Proklamasi Haria, yang menguraikan keluhan mereka terhadap pemerintah Belanda dan menyatakan Pattimura sebagai pemimpin rakyat Maluku.[11]
Sebagai tanggapan, Gubernur Jenderal Van der Capallen segera memecat Gubernur Ambon, Jacobus A. van Middelkoop, dan tangan kanannya, Nicolaus Engelhard, karena pelanggaran mereka terhadap masyarakat setempat.[6]

Baca :   Soal Uas Kelas 6 Semester 1

Pada 1 Juni, Pattimura memimpin serangan yang gagal ke Benteng Zeelandia di Haruku.[11]
Dua bulan kemudian, pada tanggal 3 Agustus, Benteng Duurstede akhirnya direbut kembali oleh Belanda, tetapi pemberontakan telah menyebar dan tidak dapat ditundukkan selama beberapa bulan lagi.[10]

Karena pengkhianatan dari raja Booi, Pati Akoon, dan Tuwanakotta, Pattimura ditangkap pada 11 November 1817 ketika ia berada di Siri Sori. Dia dan rekan-rekannya dijatuhi hukuman mati. Pada 16 Desember 1817, Pattimura bersama Anthony Reebhok, Philip Latumahina, dan Said Parintah digantung di depan Benteng Nieuw Victoria [nl]
di Ambon.[12]
[13]

Perjuangan

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan militer Inggris.[14]

Pada tahun 1816, pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongitochten), serta mengabaikan Traktat London I, antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan.[15]

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura[16]
Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, tua-tua adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir raja-raja patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
[butuh rujukan]

Baca :   Cara Pasang Set Top Box Untuk 2 Tv

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinasi Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebook, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede di Saparua, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jazirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda.
[butuh rujukan]

Pattimura akhirnya diadili dan ditetapkan untuk menerima hukuman mati dengan hukuman gantung. Eksekusi diadakan pada tanggal 16 Desember 1817 di lapangan yang ada di dalam Benteng Victoria, Kota Ambon. Pengikut Pattimura yang juga menerima hukuman mati bersamanya yaitu Philips Latumahina, Anthoni Rhebok dan Said Parintah.[17]

Kontroversi

Nama asli

Identitas Kapitan Pattimura sudah berulang kali ditentang oleh sebagian kalangan dengan menyatakan bahwa nama aslinya adalah Ahmad Lussy. Klaim ini pertama sekali mencuat ke publik oleh publikasi Ahmad Mansur Suryanegara. Namun, tidak ada dokumen primer yang memuat nama Ahmad Lussy.[18]
Menurut sejarawan dari Universitas Pattimura, Jhon Pattiasina, Thomas Matulessy dan Ahmad Lussy adalah dua orang yang berbeda. Thomas Matulessy berasal dari Saparua, tempat Pemberontakan Pattimura berlangsung pada 1817. Sedangkan, Ahmad Lussy berasal dari Hualoy, Amalatu, Seram Bagian Barat. Ahmad Lussy bertugas memimpin pasukan dari Hualoy menuju Saparua untuk bergabung dalam Pemberontakan Pattimura.[19]

Kekeliruan Pemerintah Indonesia

Seorang warga Hulaliu, Pulau Haruku, Maluku Tengah bernama Thomas Matulessy (bernama sama dengan Kapitan Pattimura) menyatakan bahwa dirinya merupakan keturunan langsung dan seorang ahli waris yang sah dari pahlawan nasional Thomas Matulessy. Ia menyebut bahwa Pemerintah Indonesia telah keliru karena hanya menyertakan nama “Kapitan Pattimura” saja dalam surat keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Thomas Matulessy. Ia juga menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia telah salah dalam menentukan tempat kelahiran pahlawan nasional Thomas Matulessy dan menentukan ahli waris pahlawan nasional tersebut.

Menurut Thomas Matulessy, pahlawan nasional Thomas Matulessy dilahirkan di Hulaliu, Pulau Haruku, Maluku dari pasangan Corneles Matulessy dan Petrosina Noya. Pahlawan nasional Thomas Matulessy menikah dengan Maria Taihuttu dan memiliki tiga orang anak sebelum gugur pada Pertempuran Pattimura tahun 1817 di Saparua. Tiga orang anak tersebut adalah Huapatty (dengan nama baptis Asaf), Risamena (dengan nama baptis Mateus), dan Benjamin.

Keterangan Thomas Matulessy ini telah dipaparkan pada 12 Mei 2022 di Universitas Pattimura pada sebuah acara bertajuk “Meluruskan Sejarah Asal-usul Pahlawan Nasional Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura”. Selain pada acara musyawarah, keterangan Thomas Matulessy ini juga telah diterbitkan pada sebuah buku berjudul “Thomas Matulessy Kapitang Pattimura-Anak Negeri Hulaliu” yang terbit pada 2022.[20]

Baca :   Energi Yang Berasal Dari Getaran Benda Disebut Dengan

Gelar pahlawan

Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan oleh Pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghormatan kepadanya.
[butuh rujukan]

Referensi


  1. ^


    “Kapitan Pattimura / oleh I. O. Nanulaitta | OPAC Perpustakaan Nasional RI.”
    opac.perpusnas.go.id
    . Diakses tanggal
    2022-07-09
    .





  2. ^

    Ini merupakan tempat kelahiran Pattimura versi Pemerintah Indonesia berdasarkan buku “Kapitan Pattimura” karya I.O. Nanulaitta.
  3. ^


    a




    b




    c




    d



    Ajisaka & Damayanti 2010, hlm. 9
  4. ^


    a




    b



    Poesponegoro & Notosusanto 1992, hlm. 183

  5. ^

    Sudarmanto 2007, hlm. 198
  6. ^


    a




    b



    Thomas Matulessy, Kapitan Pattimura Muda
  7. ^


    a




    b



    Sudarmanto 2007, hlm. 199

  8. ^

    Aritonang & Steenbrink 2008, hlm. 385
  9. ^


    a




    b




    c




    Kusumaputra, Adhi (9 November 2009). “Pattimura, Pahlawan asal Maluku yang Dihukum Mati Belanda” [Pattimura, the Hero from Maluku who was Executed by the Dutch].
    Kompas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 January 2012. Diakses tanggal
    15 January
    2012
    .




  10. ^


    a




    b




    c



    Peter van Zonneveld (1995)Pattimura en het kind van Saparua. De Molukken-opstand van 1817 in de Indisch-Nederlandse literatuur,
    Indische Letteren, 10:41-54.
  11. ^


    a




    b



    Sudarmanto 2007, hlm. 200

  12. ^

    Ajisaka & Damayanti 2010, hlm. 10

  13. ^

    Sudarmanto 2007, hlm. 201

  14. ^

    Pahlawan Nasional dari Maluku Diarsipkan 2010-06-12 di Wayback Machine. dalam www.tokohindonesia.com

  15. ^

    J B Soedarmanta, Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia, Grasindo, 2007, halaman 199, ISBN 979-759-716-4 ISBN 978-979-759-716-0

  16. ^

    Kesalahan pengutipan: Tag
    <ref>
    tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama
    Sejarah Maluku

  17. ^


    Madrohim dan Midhio, I. W. (2022). “Study on the Implementation of the Total War Strategy in War Against the Dutch Occupation: Pattimura War Case Study”
    (PDF).
    Journal of Social and Political Sciences. The Asian Institute of Research.
    4
    (2): 209. doi:10.31014/aior.1991.04.02.289. ISSN 2615-3718.





  18. ^


    Ali, Husain. “Benarkah Kapitan Pattimura Bernama Asli Ahmad Lussy, Bukan Thomas Matulessy? Ini Penjelasan Sejarawan – Portal Majalengka”.
    portalmajalengka.pikiran-rakyat.com
    . Diakses tanggal
    2022-07-09
    .





  19. ^


    “Sejarawan: Nama Kapitan Pattimura Tak Perlu Diperdebatkan Lagi”.
    nasional
    . Diakses tanggal
    2022-07-09
    .





  20. ^


    detikNews, Tim. “Keluarga Sebut Sejarah Pattimura Keliru, Begini Penjelasan Lengkapnya”.
    detikjatim
    . Diakses tanggal
    2022-07-09
    .




Pranala luar

  • The MATULESSY Web Site
  • Aritonang, Jan; Steenbrink, Karel (2008).
    A History of Christianity in Indonesia. Studies in Christian mission.
    35. Leiden: Brill. ISBN 978-1-109-18566-9.



  • Cuhaj, George (2004).
    Standard Catalog of World Paper Money. Volume 3, Modern Issues 1961-Date. Iola: Krause Publications. ISBN 978-0-87349-800-5.



  • Ajisaka, Arya; Damayanti, Dewi (2010).
    Mengenal Pahlawan Indonesia
    [Knowing Indonesian Heroes] (edisi ke-Revised). Jakarta: Kawan Pustaka. ISBN 978-979-757-430-7.



  • Lundry, Chris (2009).
    Separatism and State Cohesion in Eastern Indonesia. Ann Arbor: Arizona State University. ISBN 978-1-109-18566-9.



  • Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (1992).
    Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara di Abad ke-18 dan ke-19
    [Indonesia’s National History: Nusantara in 18th and 19th Century].
    4. Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 978-979-407-410-7.



  • Sudarmanto, J. B. (2007).
    Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia
    [Footsteps of Heroes: Uniters of the Indonesian People]. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 978-979-759-716-0.




Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag
<ref>
untuk kelompok bernama “lower-alpha”, tapi tidak ditemukan tag
<references group="lower-alpha"/>
yang berkaitan



Peran Pattimura Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

Artikel Terkait

Leave a Comment