Pabrik Sepatu Merupakan Usaha Manusia Di Bidang

Pabrik Sepatu Merupakan Usaha Manusia Di Bidang

Villa Melati Mas Blok J, Serpong Utara 15326 Telp.02115388818 Fax. 021- 53153677

Hari, tanggal               : Kamis, 11 Oktober 2022

Nama Kegiatan            : Field Trip

Jenis Kegiatan             : Observasi

Tempat Observasi       : PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. (Pabrik Sepatu Tomkins)   dan  PT. Perkebunan Nusantara VIII (Teh Walini  – Bandung)


         Ketua Pelaksana                                                 Pembimbing/Guru Mata Pelajaran




Nanang Sayuti, M.PdDanan Jaya, S.Pd,MM

NIP.196808062008011009  NIP. 198112012010011012

Mengetahui,


Wali Kelas X IPA 3


i



Segala puji syukur saya panjatkan atas kehadiratAllah SWT., yang senantiasa melimpahkan Rahmat-nya dan kasih-nya,atas anugrah hidup dan kesehatan yang telah saya terima,serta petunjuk-nya sehingga memberikan kemampuan dan kemudahan bagi saya dalam penyusunan Laporan hasil Observasi ini.

Laporan Observasi ini disusun untuk memenuhi nilai tugas Bahasa Indonesia SMA Negeri 7 Kota Tangerang Selatan. Saya mengucapkan terim kasih kepada Bapak Danan selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah membimbing saya dalam penyelesaian Laporan hasil Observasi ini.

Saya menyadari banyak kekurangan dan kesalahan serta jauh dari kata sempurna. Saya  sangat memerlukan kritik dan saran yang bersifat  membangun agar Laporan hasil Observasi ini menjadi lebih baik.

Harapan saya,semoga karya tulis ini membawa manfaat bagi kita,setidaknya untuk sekedar membuka cakrawala berpikir kita tentang kota Bandung. Akhir kata,saya sampaikan  terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan ini.

Tangerang Selatan, 13 Oktober 2022

Penulis


Aina Putri Sekar Arum

NIP.181910080



ii




BAB I   PENDAHULUAN






1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………………….

1

1.2 Tujuan………………………………………………………………………………………………………………

1

1.3 Waktu Dan Tempat…………………………………………………………………………………………….

2

            1.3.1 Waktu dan Tempat

PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.
…………………………2



1.3.2

Waktu dan Tempat

PT Perkebunan Nusantara VIII.
…………………………………….2

  1.4 Manfaat Observasi……………………………………………………………………………………………….2

BAB II PEMBAHASAN PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE TBK. (PABRIK SEPATU TOMKINS)

  2.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan………………………………………………………………………………3

2.2 Tujuan Didirikannya Perusahaan…………………………………………………………………………….4

2.3 Peta Lokasi………………………………………………………………………………………………………… 4

2.4 Sumber Daya Manusia …………………………………………………………………………………………5

2.4.1 Struktur Kepegawaian ………………………………………………………………………………………..5

2.4.2 SDM yang terserap………………………………………………………………………………….

5

2.4.3 Rekruitmen…………………………………………………………………………………………….

6

2.5 Jenis Produk Yang Dihasilkan………………………………………………………………………………

6

2.5.1 Bahan Untuk Membuat Sepatu Tomkins…………………………………………………….

6

2.5.2 Proses Pembuatan……………………………………………………………………………………

7

2.5.3 Manfaat Produk Yang Dihasilkan………………………………………………………………

9

2.5.4 Sasaran Konsumen …………………………………………………………………………………..10

2.5.5 Pemasaran Produksi………………………………………………………………………………..

10

2.6 Pengelolaan Limbah……………………………………………………………………………………………..10


iii







BAB III PEMBAHASAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII (TEH WALINI  – BANDUNG)





2.1 Sejarah Berdirinya Perusahaan……………………………………………………………………..
11

  2.2 Tujuan Didirikannya Perusahaan……………………………………………………………………


12

2.3 Peta Lokasi…………………………………………………………………………………………………

12

2.4 Sumber Daya Manusia…………………………………………………………………………………

13

2.4.1 Struktur Kepegawaian………………………………………………………………………

13

2.4.2 SDM yang terserap…………………………………………………………………………..

13

2.4.3 Rekruitmen……………………………………………………………………………………..

13

2.5 Jenis Produk Yang Dihasilkan……………………………………………………………………….

14

2.5.1 Bahan Untuk Membuat teh Walini……………………………………………………..

14

2.5.2 Proses Pembuatan…………………………………………………………………………….

14

2.5.3 Manfaat Produk Yang Dihasilkan……………………………………………………….

15

2.5.4 Sasaran Konsumen………………………………………………………………………………………

15

2.5.5 Pemasaran Produksi…………………………………………………………………………………….

15

2.6 Pengelolaan Limbah……………………………………………………………………………………..

15

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………………………….

17

3.2 Saran…………………………………………………………………………………………………………..

17

LAMPIRAN……………………………………………………………………………………………………….. 18


iv




BAB I




PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah





PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk merupakan perusahaan yang bergerak

di industri alas kaki, meliputi produksi dan pemasaran sepatu jenis
sports
atau
casual

ke pasar lokal dan internasional. Perusahaan didirikan pada tahun 1988 dengan nama

PT. Bintang Kharisma, dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Pada tahun 1994, perusahaan telah mencatatkan dan menjual sahamnya di Bursa

Efek Jakarta, dan menjadi PT. Bintang Kharisma Tbk. Pada tahun 1997, mengganti

nama dari PT. Bintang Kharisma Tbk menjadi PT. Primarindo Asia Infrastructure

Tbk. (Annual Report PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk, 2012 : 4).

PT.Perkebunan Nusantara VIII (Persero), disingkat PTPN VIII, dibentuk berdasarkan PP No. 13 Tahun 1996, tanggal 14 Pebruari 1996. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di wilayah Jawa Barat dari eks PTP XI, PTP XII dan PTP XIII. Perusahaan ini mengelola dan mengembangkan usaha agribisnis dan agroindustri serta usaha-usaha terkait lainnya, dan terus-menerus mempertahankan dan mengembangkan kesinambungan perusahaan yang sehat untuk dapat bersaing di pasar global.

SMA Negeri 7 Kota Tangerang Selatan ingin mengetahui bagaimana cara pengelolaan yang digunakan kedua perusahaan tersebut sehingga menjadi perusahaan besar . Maka, SMA Negeri 7 Kota Tangerang Selatan mengadakan kunjungan ke PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. dan

PT Perkebunan Nusantara VIII.


            Berdasarkan uraian diatas, untuk lebih mengetahui tentang sejarah, bentuk bangunan dan lokasi, maupun peranan kedua perusahaan tersebut saya akan membuat sebuah Laporan hasil Observasi yang berjudul  “Laporan hasil Observasi Pabrik Sepatu Tomkins dan Pabrik Teh Walini – Bandung”


1.2 Tujuan






1.2.1 Mengetahui sejarah berdirinya perusahaan

            1.2.2 Mengetahui tujuan berdirinya perusahaan

            1.2.3 Mengetahui letak berdirinya perusahaan

            1.2.4 Mengetahui jenis produk yang dihasilkan

            1.2.5 Mengetahui sumber daya manusia yang terdapat di perusahaan



 1


1.3 Waktu dan Tempat



             1.3.1 Waktu dan Tempat



PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.





Waktu              : Kamis, 11 Oktober 2022

                        Tempat            :

PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.


1.3.2



Waktu dan Tempat



PT Perkebunan Nusantara VIII.





            Waktu             : Jum’at, 12 Oktober 2022

                        Tempat            : PT Perkebunan Nusantara VIII.


1.4 Manfaat Observasi






1.4.1 Memperoleh wawasan dan pengetahuan dari obyek yang dituju

1.4.2 Membuat gambaran tentang industri bagi para siswa

1.4.3 Menghantarkan siswa menjadi tenaga professional yang berkualitas






2



BAB II



PEMBAHASAN PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE TBK.


 (PABRIK SEPATU TOMKINS)



2.1 Sejarah Berdirinya PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.

PT.Primarindo Asia Infrastructure, Tbk didirikan pada tanggal 1 Juli 1988 dengan nama PT.Bintang Kharisma dengan status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan bergerak dalam bidang industri sepatu. Pada tahun 1994 telah mencatat dan menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan menjadi PT. Bintang Kharisma. Pada tahun 1997 perusahaan merencanakan untuk melakukan diversifikasi usaha ke bidang lain yang juga mempunyai prospek cerah. Untuk itu, perusahaan mengganti nama menjadi PT.Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. Sebelum direncanakan diversifikasi dapat diterealisasi, kondisi ekonomi di Indonesia mulai memburuk sehingga perusahaan memutuskan untuk menunda rencana tersebut.

Pada tahun 2001, Perseroan memproduksi hanya satu branded buyer  yaitu merek REEBOK. Untuk mengantisipasi risiko memutusan untuk menjadikan tahun 2001 sebagai tahun konsolidasi dan mulai mempersiapkan usaha pengembangan pasar domestik.

Pada bulan april 2002,Perseroan menerima pemberitahuan dari REEBOK International Limited sebagai single buyer dari perseroan bahwa pesanan sepatu yang diberikan kepada perseroan hanya sampai dengan bulan juli 2002, sehingga sejak bulan juli 2002 perseroan tidak lagi memproduksi sepatu merek REEBOK.

PT.Primarindo Asia Infarstructure, Tbk bergerak dalam bidang industri sepatu, khususnya sepatu olah raga dan memproduksi berbagai fungsi berbagai fungsi dan ukuran. Selama ini produksi PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk didasarkan atas pesanan dari pelanggan yang berasal dari luar negeri. Dengan demikian hampir seluruh sepatu olahraga hasil produksi perseroan adalah untuk diekspor dan harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pembeli dengan desain yang dibuat perusahaan atau pelanggan yang merupakan pemegang merek atau pemegang lisensi dari merek terkemuka.

Baca :   Ciri Ciri Puisi Cita Citaku Tema 6 Kelas 4

PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk telah dipercaya memproduksi merek terkenal seperti OsKhos B’Gosh, Cheasepeaks, Body Glove, US Atlentic, PUMA, dan Avia. Tahun 1996 dari dua buyer besar, yaitu Reebok dan Fila. Pada tahun 2000 dalam pengembangan pasar domestik telah memproduksi Tomkins.



 3





2.2 Tujuan didirikannya Perusahaan PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.





Tujuan didirakannya PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. atau yang kita kenal juga dengan pabrik sepatu Tomkins adalah untuk memproduksi berbagai macam sepatu seperti sepatu sekolah dan sepatu olahraga, serta bertujuan untuk memasarkan hasil produksi mereka.


2.3 Peta Lokasi PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.




4





2.4 Sumber Daya Manusia




2.4.1 struktur kepegawaian PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.



2.4.2 SDM yang terserap


 Kualitas sumber daya manusia adalah peranan yang sangat penting untuk menyongsong majunya perusahaan ini. Dan perusahaan PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. mempekerjakan para warga sekitar serta beberapa pekerja hasil seleksi PT.Primarindo Asia Infrastructure Tbk.




5



2.4.3 Rekrutmen

Perseroan menganut prinsip keterbukaan serta kesetaraan perlakuan atas seluruh karyawan.   Prinsip ini diterapkan sejak dari rencana kebutuhan karyawan, kriteria yang dibutuhkan, pengumuman karyawan melalui publikasi luas, proses seleksi dan pengujian akhir yang melibatkan unit kerja yang membutuhkan.  Keputusan atas pemilihan karyawan tidak didasarkan atas gender, ras, maupun agama.

Perseroan tidak mempekerjakan karyawan di bawah umur sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku di Indonesia.  Calon karyawan yang terpilih, sebelum dipekerjakan akan mengikuti masa pelatihan di Balai Latihan Kerja.  Semua biaya termasuk biaya penginapan sementara (bagi yang dari luar kota), uang transport dan uang makan selama masa pelatihan ditanggung oleh Perseroan.  Setelah lulus dari Balai Latihan Kerja, calon karyawan akan diterima bekerja sebagai karyawan baru di Perseroan. Selanjutnya karyawan mendapat uraian tugas masing-masing dan rencana kerja yang akan dinilai pencapaiannya secara berkala.  Bagi karyawan yang mempunyai prestasi, Perseroan memberikan kesetaraan penghargaan sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Perseroan mengijinkan karyawan untuk mengikuti berbagai organisasi baik yang terkait langsung dengan operasional bisnis maupun tidak, sejauh tidak mempunyai resiko terhadap operasional perusahaan.  Semua karyawan Perseroan mendapatkan hak atas upah/gaji dan tunjangan yang terkait dengan jabatan dan penugasannya.

Manajemen kinerja diterapkan dengan tujuan untuk memastikan bahwa karyawan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan target kinerja yang telah ditetapkan.  Proses manajemen kinerja meliputi penyusunan rencana kerja, pelaksanaan proses monitoring, coaching dan counseling oleh atasan, evaluasi kinerja dan penetapan imbalan dan hukuman sebagai konsekuensi atas kinerja yang dihasilkan.


2.5 Jenis Produk Yang dihasilkan



            2.5.1 Bahan untuk membuat Sepatu Tomkins


1.

Bahan yang bisa dibentuk jadi kap sepatu seperti bahan dari kulit asli, Canvas, synthetic, Suede, denim dll

8.

Benang Nilon super kuat.


9.

Alas dalam untuk pasangan penempelan kap sepatu ( Bontek)




6


2.5.2 Proses Pembuatan


Umumnya konstruksi sepatu terbagi menjadi 2 bagian utama, yaitu :

Upper sepatu adalah bagian sepatu yang terdapat di bagian sisi atas, mulai dari ujung depan sepatu, sisi kanan dan kiri, bagian lidah (tongue) sampai dengan bagian belakang. Karakteristik dari upper biasanya berbahan dasar kain sintetic atau kulit (leather) yang telah dirakit dengan jahitan (stitching process).

Bagian bottom dari sepatu adalah bagian alas atau bagian bawah dari sepatu. Biasanya orang menyebut bagian sole. Bottom terdiri dari insole, midsole dan outsole. Dan ada juga yang menggunakanbahan Pu-Puck (Polyurethane).


1. Upper Components Cutting

Cutting process adalah proses pemotongan bahan baku sebelum dibentuk menjadi upper sepatu. Bahan baku yang berupa kain atau pun kulit (leather) dipotong membentuk pola-pola
( Cardsboard patterns )
yang telah ditentukan sebelumnya. Peralatan yang diperlukan dalam proses ini menggunakan mesin potong (cutting machine) dan alat potong yang disebut dengan cutting dies yang bentuk dan ukurannya telah dibuat sesuai dengan pola-pola potongan yang akan dikerjakan.





2. Stitching / Sewing

Pada proses ini pola-pola bahan baku yang telah dipotong di cutting process kemudian dijahit yang kemudian dibentuk menjadi upper sepatu. Dalam proses penjahitan ini sangat banyak membutuhkan waktu dalam pengerjaannya. Hal ini dikarenakan tinginya tingkat kesulitan dalam menjahit dan juga butuh ketelitian yang sangat tinggi. Potonganpola dijahit satu persatu sehingga membentuk upper sepatu yang selanjutnya disatukan di proses perakitan.


3. Outsole Production

Outsole, merupakan Bagian terbawah dari sepatu yang contact dengan tanah. Karakteristik outsole yang baik antara lain: Cengkeraman (grip), daya tahan, dan tahan air. Untuk sebuah sepatu, bahan yang digunakan pada outsole biasanya merupakan gabungan dari beberapa bahan untuk menyesuaikan dengan model,warna dan fungsi yang diinginkan, antara lain berbasis plastik, karet/rubber, sponge. masing masing jenis bahan tersebut juga bervariasi. misalnya untuk plastic ada jenis TPR, TPU dll.

Proses pembuatan outsole terdapat 2 jenis, yaitu molding dan injection.



7


4. Insole production

Insole, merupakan bagian dalam sepatu, tepatnya berada di bawah kaki. Bahan yang dipakai untuk insole sangat menentukan kenyamanan saat kita mengenakan sepatu.

Berikut proses pembuatan insole.


5. Stock Fitting

Beberapa jenis outsole bisa langsung digunakan pada proses Assembling, namun ada juga beberapa jenis bottom yang harus melalui proses stock fitting. Proses ini adalah merupakan proses kerja yang menggabungkan bagian-bagian dari bottom sepatu, yaitu antara midsole dan outsole sampai terbentuk menjadi bottom sepatu. Midsole yang berbahan dasar phylon akan digabungkan dengan outsole yang berbahan dasar karet (rubbersole) dengan cara mengelem/cementing.


6. Assembly



Pada bagian inilah perakitan sepatu dikerjakan. Bagian-bagian sepatu yang masih berupa upper dan bottom digabungkan hingga menjadi bentuk sepatu. Bagian upper yang diproduksi dari divisi stitching process sebelumnya dan bagian bottom yang diproduksi di divisi stockfit dirakit dalam proses ini sampai membentuk sepasang sepatu. Hal-hal penting dalam proses assembling bisa dilihat dalam detail berikut.


a. Laste

Saat memasuki proses assembling Upper dan Bottom sudah berupa pasangan atau “set”, dengan size yang sudah ditentukan. Untuk membentuk sepatu agar mengikuti kontur kaki digunakan laste. Setiap Merek memiliki dimensi Laste yang berbeda-beda meski dengan size yang sama. Sepatu untuk kaki orang asia tentunya memiliki  laste yang berbeda dengan jenis kaki orang  Eropa.


b. Penyatuan Upper dan Midsole

Beberapa sepatu yang menggunakan Phylon, antara Upper dan phylon disatukan dengan menggunakan mesin Toelast – Healast.

Baca :   Struktur Dan Fungsi Sistem Reproduksi Pada Manusia

Toelasting machine menyatukan dengan cara pengeleman dan Press dibagian ujung / Toe. Sedang Healast machine menyatukan bagian belakang/heal dengan cara yang sama.

Adapula sepatu jenis stroble, jenis ini tidak menggunakan mesin toelast-healast karena Upper dan midsole disatukan dengan cara di jahit.

Setelah proses ini, Upper yang didalamnya sudah terdapat laste dikenakan proses pemanasan / heating agar bahan upper ( leather/synthetic ) tercetak dengan baik sehingga mengikuti kontur permukaan laste.




8


c. Treatment Upper – Bottom

Sebelum disatukan, permukaan kontak ( contact surface ) Upper dan Bottom harus di Treatment  terlebih dahulu. Pada dasarnya treatment ini bertujuan untuk membersihkan contact surface, membuka pori-pori permukaan bottom dengan penyinaran ultra violet (UV), cementing, dan Heating.


d. Press

Menyatukan bottom dan upper dengan menggunakan mesin press.


e. Pendinginan

Secara teoritis material upper baik dari Synthetic maupun leather/kulit  ditreament ( melalui proses heating ) untuk mengikuti kontur permukaan laste. Setelah proses penyatuan dengan bottom di mesin press. Laste tidak boleh langsung dilepas. Proses pendinginan diperlukan untuk menghentikan perubahan bentuk material. Proses ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu pendinginan perlahan, sepatu dilewatkan dalam conveyor gantung yang panjang dan didinginkan dengan angin dengan suhu ruang normal. Cara kedua yaitu pendinginan cepat, sepatu diletakkan diatas conveyor yang melewati lorong dengan suhu chiller.


f. Finishing

Proses  ini merupakan akhir dari semua proses produksi yang dikerjakan. Sepatu hasil produksi dan telah melewati pemeriksaan quality kemudian akan di-packing ke dalam dus karton sepatu yang kemudian disimpan di gudang final product.

Keseluruhan proses Assembling, bisa dilihat dalam vidio berikut, saya menggunakan proses assembling Adidas. Beberapa tahapan tampak tidak sama dengan yang saya sampaikan, ini erat kaitannya dengan aplikasi teknologi. Semoga Vidio ini  memberikan masukan yang sangat berharga bagi praktisi, bahwa industri sepatu tidak selalu identik dengan midle teknologi, namun penggunaan high tech merupakan hal yang mungkin diterapkan untuk meningkatkan efisiensi, quality, dan produktivitas.


2.5.3 Manfaat Produk yang dihasilkan


            Sepatu merupakan barang yang sangat berguna bagi setiap orang, karena jika ketika kaki terluka atau kaki tanpa perlindungan maka dengan memakai sepatu bisa melindunginya dari terik matahari atau hujan.Dengan memakai sepatu, bisa membuat orang menjadi lebih Percaya Diri. Selain untuk pergi bekerja atau ke sekolah, sepatu sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari misalnya untuk pergi ke pertemuan resmi maupun untuk olah raga, untuk pergi ke pesta teman atau pacar, untuk kencan, untuk menonton bioskop juga bisa supaya terkesan elegant jika ada teman yang melihat penampilan seseorang.


9


2.5.4 Sasaran Konsumen


            Sasaran pemasaran produk ini adalah kepada berbagai kalangan masyarakat, dan selalu membuat model model terbaru minimal 50 model setiap tahunnya untuk menarik minat para konsumen.


2.5.5 Pemasaran Produk


            Sepatu Tomkins dipasarkan melalui para distributor dan disebar di berbagai tempat seperti di
factory outlet
 yang berada di pabrik sepatu itu sendiri dan ditempatkan di berbagai
factory outlet
yang tersebar di berbagai tempat perbelanjaan.


2.6  Pengelolaan Limbah




Limbah buangan sisa proses produksi sepatu PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk merupakan limbah padat. Limbah tersebut tidak terlalu memberikan dampak negatif bagi lingkungan karena bahan yang digunakan dalam proses produksi tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun.

Perusahaan melakukan kerjasama dengan Lembaga Keamanan Masyarakat Desa (LKMD) Rancabolang dalam kegiatan pengelolaan limbah industri. LKMD bertugas untuk menampung limbah padat sisa proses produksi dan kemudian membuangnya.



10


BAB III


PEMBAHASAN PT. Perkebunan Nusantara VIII


(Teh Walini  – Bandung)


3.1 Sejarah Berdirinya PT. Perkebunan Nusantara VIII

Perusahaan perkebunan milik negara di Jawa Barat dan Banten berasal dari perusahaan perkebunan milik pemerintah Belanda, yang ketika penyerahan kedaulatan secara otomatis menjadi milik pemerintah Republik Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Lama. Antara tahun 1957 – 1960 dalam rangka nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan perkebunan eks milik swasta Belanda/Asing (antara lain : Inggris, Perancis dan Belgia) dibentuk PPN-Baru cabang Jawa Barat.

Dalam periode 1960 – 1963 terjadi penggabungan perusahaan dalam lingkup PPN-Lama dan PPN-Baru menjadi : PPN Kesatuan Jawa Barat I, PPN Kesatuan Jawa Barat II, PPN Kesatuan Jawa Barat III, PPN Kesatuan Jawa Barat IV dan PPN Kesatuan Jawa Barat V.

Selanjutnya selama periode 1963 – 1968 diadakan reorganisasi dengan tujuan agar pengelolaan perkebunan lebih tepat guna, dibentuk PPN Aneka Tanaman VII, PPN Aneka Tanaman VIII, PPN Aneka Tanaman IX dan PPN Aneka Tanaman X, yang mengelola tanaman teh dan kina, serta PPN Aneka Tanaman XI dan PPN Aneka Tanaman XII yang mengelola tanaman karet. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan, pada periode 1968 – 1971, PPN yang ada di Jawa Barat diciutkan menjadi tiga Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) meliputi 68 kebun, yaitu :


  1. PNP XI berkedudukan di Jakarta (24 perkebunan), meliputi perkebunan-perkebunan eks PPN Aneka Tanaman X, dan PPN Aneka Tanaman XI

  2. PNP XII berkedudukan di Bandung (24 perkebunan), meliputi beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XI, PPN Aneka Tanaman XII, sebagian eks PPN Aneka Tanaman VII, dan PPN Aneka Tanaman VIII;
  3. PNP XIII berkedudukan di Bandung (20 perkebunan), meliputi beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XII, eks PPN Aneka Tanaman IX, dan PPN Aneka Tanaman X.

Sejak tahun 1971, PNP XI, PNP XII dan PNP XIII berubah status menjadi Perseroan Terbatas Perkebunan (Persero). Dalam rangka restrukturisasi BUMN Perkebunan mulai 1 April 1994 sampai dengan tanggal 10 Maret 1996, pengelolaan PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII digabungkan di bawah manajemen PTP Group Jabar.

Selanjutnya sejak tanggal 11 Maret 1996, PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

90% saham pemerintah Indonesia di PTPN VIII dialihkan ke PTPN III dan menjadikan PTPN III sebagai holding BUMN Perkebunan



11


 3.2 Tujuan didirikannya PT. Perkebunan Nusantara VIII

Tujuan didirakannya PT. Perkebunan Nusantara VIII, atau yang kita kenal juga dengan nama pabrik teh Walini adalah pabrik yang  memproduksi teh dalam berbagai macam varian rasa.




3.3 Peta Lokasi PT. Perkebunan Nusantara VIII




12



3.4 Sumber Daya Manusia




            3.4.1 Struktur Kepegawaian



3.4.2 SDM yang terserap


Kualitas sumber daya manusia adalah peranan yang sangat penting untuk menyongsong majunya perusahaan ini. Dan perusahaan PT. Perkebunan Nusantara VIII cabang Bandung ini mempekerjakan para warga sekitar perkebunan teh dan para ahli di bidang tertentu.



13


3.4.3 Rekruitmen


Persyaratan:


  1. Sarjana (S1) dari Fakultas / Jurusan

Pertanian: Budidaya Pertanian / Perkebunan, Sosial Ekonomi, Ilmu Tanah, Hama dan Penyakit Tanaman, Kehutanan / Teknologi Hasil Hutan, Hortikultura, Pemuliaan Tanaman / Bioteknologi / Kultur Jaringan, Teknologi Pangan / Produk Pengolahan Hasil Pertanian, Peternakan (Kode: TAN)
Ekonomi: Akuntansi, Manajemen (Kode: EKO)
Teknik: Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Arsitektur, Desain Interior, Teknik Informatika, Teknik Lingkungan (Kode: TEK)
Hukum: Ilmu Hukum (Kode: SOS I)
Pariwisata: Manajemen Pariwisata, Manajemen Room Division (Kode: SOS II)
Psikologi: Psikologi Industri & Organisasi (Kode: SOS III)
Ilmu Sosial: Kearsipan, Komunikasi Massa, Pengelolaan Aset (Kode: SOS IV)

Baca :   Sebutkan Dan Jelaskan Unsur Unsur Administrasi Perkantoran

2. Kode ditulis di sebelah kanan atas amplop


            3.

IPK minimal 3,00 (PTS) dan 2,75 (PTN) pada skala 4.


            4.

Usia maksimum 28 tahun untuk S1


            5.


Bersedia ditempatkan di seluruh pelosok Jawa Barat dan Banten.

            6.  Kode TAN, TEK, SOS I diutamakan laki-laki



14


3.5 Jenis Produk yang dihasilkan



            3.5.1 Bahan untuk membuat teh Walini


1.

Ekstrak melati 60%

3.

Perisa buah buahan (lemon, lechi dll)


3.5.2 Proses Pembuatan

Daun teh segar yang telah dipetik dilayukan dengan melakukan pemanasan agar kadar air yang terkandung berkurang 65-70 persen. Pemanasan dilakukan dengan mengalirkan udara panas (bisa juga dijemur). Hal ini dilakukan agar daun teh dapat digiling dengan baik.

Daun teh yang telah dilayukan masuk pada tahap penggilingan. Pada tahap ini, daun teh digiling untuk memecah sel-sel daun. Pemecahan daun teh disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Daun teh ada yang digiling kasar dan ada yang digiling sampai menjadi serbuk.

Di sini dilakukan pemisahan bagian yang halus (bubuk) dan bagian yang kasar sehingga diperoleh bubuk yang seragam, supaya hasil fermentasi sempurna dan pengeringan dapat merata

Tahap ini adalah untuk memperoleh aroma, rasa dan warna air seduhan seperti yang dikehendaki, sebagai akibat reaksi kimia yang terjadi selama fermentasi.

Pasca fermentasi dilakukan pengeringan dengan mesin agar suhu yang dihasilkan stabil dan menghasilkan kualitas teh yang baik. Pengeringan dilakukan dengan suhu sekitar 90-120°C kurang lebih selama 20 menit sampai kadar air dalam daun teh mencapai 2-3 persen. Pada proses ini sekaligus juga mematikan kuman, mengingat daun teh yang diolah tidak melewati proses pencucian.

Tahap ini adalah untuk klasifikasi jenis dan mutu teh kering. Dilakukan pembersihan teh kering dari potongan serat dan batang, dan memisahkan jenis-jenis mutu teh sesuai ukuran yang dikehendaki pasar, apakah akan jadi teh celup, teh saring, teh seduh, dsb.Sebanyak 90 persen teh produksi Perkebunan Ciater diekspor atas permintaan pasar luar negeri dengan harga (saat ini) 3,5 dolar AS. Hanya 10 persen saja yang dipasarkan di dalam negeri. Di antaranya dipasarkan dengan brand Walini.


3.5.3 Manfaat Produk yang dihasilkan


2.

Menyehatkan tulang

3.

Menyehatkan kulit

4.

Menurunkan kolestrol

5.

Mencegah penyakit
Alzheimer
dan
Parkinson


6.

Menenangkan pikiran

7.

Mengurangi resiko penyakit kanker


3.5.4 Sasaran Konsumen


Sasaran pemasaran produk ini adalah kepada berbagai kalangan masyarakat, dan selalu membuat variasi dan inovasi varian rasa untuk menarik minat para konsumen.


3.5.5 Pemasaran Produk


Produk Teh Walini saat ini dapat diperoleh dengan mudah dibeberapa distributor dan toko eceran di seluruh
Indonesia
 seperti
Alfamart
,
Borma
, Circle K,
Hypermart
, Lotte Mart, Lion Superindo,
Yogya
 dan
Yomart
. Saat ini, gerai Walini sudah mulai ada di outlet-outlet seperti Walini Tea Gallery Jalan Dago no. 92, Stamp Factory Outlet, Oasis Factory Outlet,
Bandara Husein Sastranegara
, & Tahu Lembang (setiap
Sabtu
 dan
Minggu
).



15


3.6 Pengelolaan Limbah






Limbah padat industri teh ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain menjadi bahan baku pembuatan papan partikel dan pupuk organik.

1.     Pupuk Organik

       Ampas teh yang akan dijadikan pupuk tanaman, diproses melalui pengolahan secara termofil. Caranya, ampas teh dari sisa penyeduhan di letakkan pada bak atau tempat khusus yang telah disediakan, kemudian  dan didinginkan selama satu hari. Mikroorganisme ditambahkan untuk mempercepat proses penguraian dan dilanjutkan dengan proses pembalikan dalam seminggu sekali. Kompos siap digunakan setelah proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih satu bulan.

2.     Papan Partikel

       Selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pupuk organik dan papan partikel, ampas teh juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif adsorben pada limbah cair industri tekstil. Menurut Retnowati (2005), zat warna dalam limbah cair industri tekstil mengandung logam berat, seperti zat warna amaran yang mengandung merkuri, arsenat, timah, serta kadmium dengan konsentrasi satu sampai sepuluh ppm.

      Selain itu limbah cair industri tekstil juga mengandung biru metilen dimana dalam dosis tinggi dapat menyebabkan mual, muntah, nyeri pada mulut dan dada, sakit kepala, keringat berlebihan, dan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan ampas teh dapat digunakan sebagai adsorben larutan amaran dan biru metilen untuk mengganti karbon aktif yang cenderung memakan biaya lebih besar.




16


BAB IV


PENUTUP



4.1 Kesimpulan




            Selama saya mengikuti kunjungan industri di PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. (Pabrik Sepatu Tomkins)   dan  PT. Perkebunan Nusantara VIII (Teh Walini  – Bandung). Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa :

a.

PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. adalah sebuah PT. yang bergerak di bidang sepatu terutama di bidang sepatu olahraga yang berpusat di Bandung, Jawa Barat.

b.

 PT. Perkebunan Nusantara adalah nama dari empat belas Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang perkebunan di seluruh Indonesia. Dan PT. Perkebunan Nusantara VIII ini bergerak di perkebunan bidang teh, karet, kina, kakao, kelapa sawit, dan getah perca yang terletak di kota Bandung, Jawa Barat.

c.

Kegiatan ini sangat mendidik dan memberikan banyak ilmu pengetahuan terutama di bidang industri, agar seluruh anak didik mampu lebih maju dan unggul  di masa yang akan datang.


4.2 Saran





Dari hasil laporan observasi yang saya lakukan, saya akan memberikan saran untuk perusahaan sebagai berikut :

1.

Pada pabrik Tomkins perlu di tingkatkan lagi pendingin ruangannya, terutama di ruang pertemuan karena hawa panas sangat menyelimuti ruangan itu.

2.

Pabrik sepatu Tomkins perlu meningkatkan lagi kualitasnya agar nilai jual sepatu Tomkins semakin menikat dan terkenal hingga mancanegara.




17

Pabrik Sepatu Merupakan Usaha Manusia Di Bidang

Source: https://ceritasekarum.blogspot.com/2019/01/laporan-kegiatan-field-trip-observasi.html

Artikel Terkait

Leave a Comment