Mengapa Veda Takut Kepada Orang Bodoh

Mengapa Veda Takut Kepada Orang Bodoh

ABIANSEMAL, BALI EXPRESS
– Kitab suci sangat disakralkan, sehingga kebanyakan umat Hindu, terutama remaja enggan menyimaknya. Sebenarnya kitab suci seperti Weda bisa dibaca siapa saja?

Sebagai umat Hindu, semenjak kecil telah diajarkan bahwa kitab suci agama Hindu adalah Weda. Dijelaskan Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, 55, Weda berasal dari kata ‘Vid’ yang artinya pengetahuan. Sehingga semua buku pelajaran, lanjutnya, bahkan petualangan adalah sebuah pengetahuan.

“Weda itu adalah pengetahuan. Tidak ada yang lebih suci  dari pengetahuan,” tutur Ida Pedanda Gde Isana Manuaba kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.

Dicontohkanya, ketika seseorang ingin pergi ke Prancis sendirian, jika bisa berbahasa dan punya pengetahuan tentang negara itu, maka orang tersebut akan berani ke sana sendirian. Sebaliknya, jika tidak tahu sama sekali tentang Prancis, maka tidak akan berani ke sana. “Itulah pentingnya sebuah pengetahuan, karena bisa menyebrangkan manusia dari lautan kesengsaraan,” ucap Ida Pedanda dari Griya Lebah Manuaba, Banjar Kedampal, Desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal, Badung ini.

Tentang Weda sebagai kitab suci Hindu, Ida Pedanda Gde Isana Manuaba merujukkan bahwa itu ke Catur Weda yang terdiri dari Reg Weda yang disusun  Bhagawan Pulaka, Sama Weda yang disusun  Bhagawan Jaimini, dan Yajur Weda yang disusun  Bhagawan Waisampayana, dan Atharwa Weda yang disusun Bhagawan Suamantu. Selain itu, juga ada Bhagawadgita, Purana maupun Itihasa.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba mengatakan bahwa semua orang boleh membaca semua kitab-kitab suci itu, asal didampingi seorang guru. Sebab, Catur Weda dan kitab lainnya adalah pengetahuan tentang Ketuhanan, sehingga tidak bisa dipahami secara tekstual saja karena bisa menimbulkan multitafsir. Oleh sebab itu, lanjutnya, membaca Kitab Suci Catur Weda harus didampingi  seorang guru.

Dalam Bayu Purana I.201 disebutkan ‘Ithiasa puranabhyam vedam samupabrmhayet, bibhettyalpasrutad Vedo mamayam praharisyati’.  “Maksudnya, hendaknya Weda dijelaskan melalui Ithiasa dan Purana. Weda merasa takut kalau orang bodoh membacanya. Weda berpikir bahwa orang bodoh tersebut akan memukulnya,” urainya.

Ida Pedanda Gde Isana Manuaba memberi pandangan bahwa sloka tersebut lebih kepada bahwa orang yang kotor bukan secara fisik, namun kotor itu secara pikiran yang  memang tidak diperkenankan membaca Weda. Menurtnya, karena orang yang punya pikiran kotor,  cenderung akan mengartikan tulisan di dalam kitab suci itu secara langsung dan hal itu bisa salah. Apalagi jika yang salah itu nanti diberitahukan ke orang lain yang juga tidak tahu tentang Catur Weda.

Baca :   Usaha Untuk Memasukkan Bola Kedalam Ring Basket Disebut

Hal ini menyebabkan pentingnya peran seorang guru jika ingin belajar Kitab Suci Catur Weda. Bahkan, Bhagawadgita pun dalam mempelajarinya, lanjut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, harus didampingi seorang guru. “Kesalahan mengartikan itulah sebenarnya yang ditakutkan oleh Weda. Tanpa guru seseorang yang punya pikiran kotor akan salah menafsirkan. Baca sesuai apa yang ada,” ungkapnya.

Dicontohkannya dalam sloka Bhagawadgita 9.22 yang menyebut : ‘Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yogaksemam vagamy aham’. “Orang yang pikirannya kotor saat baca bagian ‘cintayanto mam’, bisa berpikir Bhagawadgita mengajarkan boleh mencintai ibu sendiri (cinta lawan jenis) kan salah. Padahal, sloka itu memiliki makna ‘Berpikirlah tentang Aku’ (Tuhan),” papar Ida Pedanda Gde Isana Manuaba

Secara sederhana, pedanda yang memiliki nama welaka Ida Bagus Putu Tapawana ini, memberi gambaran tentang pentingnya sosok guru ketika menonton televisi. Seorang anak harus didampingi oleh orang tuanya saat menonton, agar bisa membimbing mana tayangan yang boleh ditonton, mana yang tidak. Orang tua pun kan masuk guru, yakni Guru Rupaka.

Lebih lanjut dikatakannya,  umat Hindu sebaiknya memang harus mempelajari kitab suci, baik Catur Weda, Bhagawadgita maupun Ithiasa dan Purana. “Bisa dengan metode membaca di rumah, kemudian saat ada waktu datang ke gurunya untuk meminta penjelasan tentang sloka yang ia baca. Sama seperti seorang siswa belajar di rumah, pas di sekolah ditanyakan ke guru. Itu bagus sekali,” paparnya.

Apalagi di media sosial saat ini banyak fenomena orang non Hindu ada yang mengutip sloka di Kitab Suci Catur Weda. Orang Hindu yang tidak tahu, bisa bingung untuk menanggapinya, karena tidak punya pengetahuan tentang Kitab Suci Catur Weda. Dia pun memberi saran agar tidak langsung menanggapi. “Lebih baik pelajari, tanyakan kepada guru atau orang yang mengerti. Kalau langsung diladeni, padahal tidak tahu, berarti dia melakukan kebodohan,” ucap Ida Pedanda Gde Isana Manuaba.

“Jangan mau kalah, orang non Hindu yang mengutip sloka Weda pasti juga sudah mempelajari sebelum mengutipnya,” paparnya.

Dari banyak kitab suci tersebut, lanjut Ida Pedanda Gde Isana Manuaba, seseorang bisa membaca yang mana saja dan dari anak-anak pun sudah bisa dimulai, namun biasanya sesuai arahan dari sang guru. “Guru itu tahu, seorang siswanya harus mulai baca kitab yang mana terlebih dahulu,” terangnya.

Baca :   Dalam Bidang Pertanian Redistribusi Pendapatan Dapat Berupa

Selain harus didampingi oleh seorang guru, sebelum membaca kitab suci, seseorang harus sudah mandi. Kemudian memberi hormat kepada guru, selanjutnya baru mulai membaca kitab suci tersebut. Lantas,  dimana harus mencari guru bagi orang awam? “Datang saja ke seorang Ratu Peranda atau orang lain yang mumpuni,” tandasnya

Tiap agama di dunia ini, memiliki pustaka suci. Pustaka suci sebuah agama menjadi sumber segala sumber ajaran agama tersebut. Aspek-aspek filsafat, aspek ritual  maupun etika pelakanaan ajaran beragama, bersumber dari nilai, kaedah, norma dari pustaka sucinya.  Semua agama di dunia ini memiliki kebenaran suci, kekal dan universal sehingga patut diikuti dan dilaksanakan oleh penganutnya. Sumber ajaran agama Hindu adalah Weda, yaitu pustaka yang berisi ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi melalui para Maha Rsi. Secara ethimologi, kata Weda berasal dari kata Wid, artinya “mengetahui atau pengetahuan”.  Weda adalah himpunan wahyu Hyang Widhi berupa pustaka suci dengan bahasa sansekerta atau yang disebut juga bahasa Daiwivak/bahasa Dewata, isi dalam kitab suci Weda mengatur segala aspek kehidupan manusia.

Maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda  menjadi dua golongan yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti.  Pengelompokan pustaka suci Weda, berdasarkan wahyu langsung dan tafsiran yang telah berkembang dan tumbuh sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah.  Weda Sruti adalah wahyu atau sabda Hyang Widhi, yang didengar langsung oleh para Maha Rsi. Kata Sruti sendiri memiliki arti ‘yang didengar‘ jadi Weda Sruti adalah pustaka suci yang diterima langsung atau diwahyukan langsung oleh Hyang Widhi.  Sedangkan Weda Smerti berasal dari kata Smr artinya ‘ingat’. Jadi Weda Smerti adalah pustaka suci yang ditulis oleh Maha Rsi berdasarkan ingatan atas wahyu yang pernah diterimanya. Mengenai kitab suci Weda Sruti dan Smrti ini diuraikan dalam kitab suci Manawadharmasastra, II.10 menegaskan;


Srutistu wedo wijneyo dharma


Sastram tu wai smertih,

Te sarwartheswam immamasye tabhyam

Dharmo hi nirbabhau Artinya: Sruti adalah Weda dan Smerti itu adalah Dharmasastra, keduanya tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah pustaka suci yang menjadi sumber ajaran dharma. Dari sloka diatas, tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak terbantahkan. Sruti dan Smerti adalah ajaran dasar yang harus dipegang teguh seluruh umat Hindu. Lalu mengapa Weda takut dengan orang bodoh ?. Kita sering mendengar bahwa Weda takut dengan orang bodoh yang seakan-akan hendak melukai kitab suci Weda. Hal ini diuraikan dalam kitab suci Sarasamuccaya 39 yaitu :

Baca :   Latihan Soal Bahasa Inggris Kelas 10 Semester 2


Itihāsapurānābhyām vedam samupavrmhayet,


Bibhetyalpaṣrutādvedo māmayam pracarisyati. Artinya: Weda itu hendaklah dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari Itihasa dan Purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya. “wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang padaku”, demikian konon sabdanya, karenat takut.

Di dalam kitab Vahyu Purana, I. 201, juga mejelaskan bahwa “Hendaknya seseorang dalam mempelajari Weda melalui pelajaran Itihasa (Mahabharata dan Ramayana) juga kitab Purana, sebab Weda sangat takut jika seseorang yang bodoh membacanya dan berfikir bahwa orang bodoh itu akan memukulnya.

Dari uraian sloka diatas maka dapat disimpulkan bahwa kenapa Weda takut pada orang bodoh karena di dalam Weda mengandung ilmu pengetahuan yang sangat rahasia, kita harus mempunyai ilmu pengetahuan suci yang luas untuk memahaminya, selain itu ajaran Weda sangatlah universal dan tidak semua orang dapat memahaminya. Oleh karena itu sebelum kita mempelajari kitab suci Weda maka kita harus landasi diri kita terlebih dahulu dengan mempelajari Itihasa (Mahabharata & Ramayana) serta Purana (Maha Purana terdiri dari 18 Purana).  Jika kita sudah memiliki dasar ilmu pengetahuan dari Itihasa dan Purana maka kita sudah siap untuk mempelajari kitab suci Weda. Sebab tanpa dasar ilmu pengetahuan Itihasa dan Purana maka kita akan buta dan yang dimaksud orang bodoh disini iyalah ia yang tanpa pengetahuan dasar mempelajari Weda maka ia akan menafsirkan Weda dengan semaunya sendiri dan terkadang Weda dijadikan alat untuk kepentingannya semata, seperti yang dilakukan seorang dokter dan juga tokoh misionaris dari India, ia menafsirkan Weda dengan setengah-setengah dan mengartikan Weda dengan seenaknya sendiri demi kepentingannya dan juga golongannya.  Hal ini lah yang ditakutkan oleh Weda, seakan akan orang-orang seperti itu hendak memukulnya. Sumber :

Parisada Hindu Dharma Indonesia.  2014.  Swastikarana Pedoman Ajaran Hindu


Dharma.  Jakarta.  PT. Mabhakti

Maharta Nengah & Wayan Seruni. 2014. Pengembangan dan Pendalaman Agama Hindu. CV Seruni Bandar Lampung

Kadjeng Nyoman, dkk. 1997. Sārasamuccaya. Paramita Surabaya.

http://www.kompasiana.com/mertamupu.co.id/salah-tafsir-sarasamuccaya-1_55296ce26ea83486278b4592


Page 2

Mengapa Veda Takut Kepada Orang Bodoh

Source: https://mempelajari.com/mengapa-veda-takut-kepada-orang-bodoh-jelaskan

Artikel Terkait

Leave a Comment