Mengapa Tumbuhan Paku Dikelompokkan Dalam Tumbuhan Cormophyta Berspora

Mengapa Tumbuhan Paku Dikelompokkan Dalam Tumbuhan Cormophyta Berspora.


Penjelasan Pokok kayu paku (Pteridophyta)
– Tumbuhan dengan akar, mayit dan daun sejati disebut pohon berkormus (kormophyta). Atas radiks ciri-ciri itulah maka tumbuhan berbiji disebut (kormophyta berbiji).





Selain spermatophyta, tumbuhan paku (Pteridophyta) juga mutakadim menunjukkan ciri-ciri mempunyai akar, batang, dan patera sejati, terutama golongan paku pohon. Makara, tumbuhan paku boleh dimasukkan ke dalam kelompok kormophyta. Dengan spora yang dibentuk dalam kotak spora, tumbuhan paku dijuluki sebagai kormophyta berspora. Kormophyta dapat dibedakan menjadi tumbuhan pakis dan tumbuhan berbiji.


a. Ciri-ciri pohon paku

Dibandingkan dengan lumut, tanaman pakis menunjukkan ciri nan lebih bertamadun. Puas pokok kayu paku mutakadim ditemukan akar tunjang, batang, dan patera yang sememangnya. Batang tumbuhan paku n kepunyaan pembuluh/berkas pengangkut, ciri ini belum dijumpai plong kulat. Habitus/perawakannya silam beranekaragam, mulai berpokok tumbuhan paku dengan daun-patera kecil dengan struktur yang tinggal terbelakang sampai pokok kayu pakis dengan daun menyentuh 2 meter dengan struktur yang susah.

Tumbuhan paku ada yang belum memiliki batang yang nyata (saja berupa rizom), tapi juga cak semau yang memiliki jenazah sesungguhnya (paku tumbuhan). Patera tumbuhan paku bermacam-spesies, dibedakan menurut ukuran, ataupun menurut fungsinya. Menurut ukurannya daun pohon paku dibedakan menjadi mikrofil (daun berdimensi kerdil) dan makrofil (daun berukuran besar).

Adapun menurut fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi patera berlimpah atau sporofil (daun penghasil spora) dan daun steril maupun tropofil (patera untuk fotosintesis). Daun penghasil spora kebanyakan pun bisa berfungsi kerjakan pernapasan, daun semacam ini disebut troposporofil.

Habitat tumbuhan paku suka-suka yang di tanah, ada yang epifit pada tumbuhan lain dan ada nan usia di air. Karena itu terserah tiga macam pokok kayu paku, yaitu paku petak, paku epifit, dan paku air. Galibnya tumbuhan paku mengesir bekas yang teduh dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi.


b. Reproduksi pokok kayu paku

Seperti halnya lumut, tumbuhan paku lagi mengalami pergiliran keturunan alias metagenesis. Gametofitnya dinamakan protalium yang yakni hasil perkecambahan spora haploid. Bentuk protalium menyerupai jantung, bercat hijau, melekat pada substrat dengan memperalat rizoid, ukurannya tetapi beberapa sentimeter sahaja.

Protalium menghasilkan spora dengan rangka dan ukuran yang bermacam-macam. Generasi sporofit berupa tumbuhan pakis. Intern suatu protalium akan dibentuk arkegonium (badan penghasil sel telur) dan anteridium (jasmani pembuat spermatozoid). Ovum dan spermatozoid dengan media air akan bertemu, lalu melebur menjadi sel telur.

Selanjutnya sel telur akan bersemi dan berkembang menjadi tumbuhan paku yang merupakan sporofit. Pada daun mewah dibentuk sporangium (peti spora), di dalamnya terwalak tangsi induk spora nan akan membelah secara meiosis membentuk spora haploid. Akhirnya sporangium pecah dan spora-spora keluar. Sekiranya drop di tempat nan sesuai spora akan berkecambah mewujudkan protalium. Dengan demikian siklus kehidupan berulang juga.

Baca :   Awasome Jelaskan Bioteknologi Reproduksi Dalam Bidang Peternakan References

Pohon paku merupakan pohon kormus, kunarpa berpembuluh, daunnya terdiri daun steril (trofofil) dan daun fertil (sporofil). Batangnya nyata rizoma atau batang berkayu (puas paku pohon). Tumbuhan paku menghasilkan spora, mengalami metagenensis, generasi sporofit berusia tinggi, gametofit berupa protalium yang bermatra kecil dan berusia sumir.

Menurut spora nan dihasilkan, tanaman pakis dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:

1) Pohon paku homospor

Tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan rang dan ukuran seimbang enggak dapat dibedakan jenisnya antara spora kosen maupun spora betina.

Contohnya Lycopodium clavatum (paku kawat).

2) Pohon pakis heterospor

Pokok kayu paku yang menghasilkan spora dengan bentuk, format, dan jeninya berbeda yaitu mikrospora

(spora berformat kecil, berjenis bagak), dan makrospora (spora berukuran lautan, dan berjenis betina).

Contohnya Selaginella sp (pakis rane), Marsilea sp (semanggi).

3) Pohon pakis pergantian

Tumbuhan pakis nan menghasilkan spora dengan buram dan ukuran sama, tetapi terdapat spora nyali dan spora betina. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).


c. Klasifikasi Tumbuhan Pakis (Pteridophyta)

Pteridophyta terdiri berpunca catur kelas, merupakan papan bawahPsilophytinae,
Equisetinae,
Lycopodinae, danFilicinae.



1) Papan bawah Psilophytinae (paku purba)


http://www.materisma.com/2014/05/penjelasan-tumbuhan-paku-pteridophyta.html
Daur hidup pakis-pakuan

Psilophytinae mencakup tumbuhan paku yang masih primitif, bahkan sebagian besar jenisnya telah punah. Keprimitifan ciri ditunjukkan dengan adanya daun subtil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi maupun tanpa daun seimbang sekali yang disebut kembali paku telanjang.

Ada pula keberagaman paku yang belum memiliki akar tunggang dan belum diketahui gametofitnya. Spora yang dihasilkan spesies paku tersebut punya bentuk dan ukuran yang sekelas (paku homospor).

Paku purba dibedakan menjadi dua ordo, yaitu
Psilophytales

dan

Psilotales
.

a) Ordo Psilophytales (paku berpukas)

Berupa terna, belum n kepunyaan akar (belaka rizoid), tak berdaun alias berdaun kecil-kecil (mikrofil), batang telah memiliki tenggorokan.

Famili : Rhyniaceae

Keberagaman : Rhynia major, Zosterophylum australianum

b) Ordo Psilotales

Maujud terna kecil, rendah, belum punya akar (cuma rizoid), memecah menggarpu, mikrofil seperti sugi-sugi puas layon. Protalium telah ada, hanya berukuran beberapa sentimeter sahaja.

Familia : Psilotaceae

Varietas : Psilotum nudum, terdapat di Jawa.

Psilotum triquetrum, terdapat di wilayah tropik.



2) Inferior Equisetinae (paku ekor kuda)


Berupa terna, menyukai arena-tempat lembab, layon dengan percabangan berkarang dan substansial ruas-ruas batangnya. Daun kecil-kecil begitu juga surai tersusun berkarang. Sporofil berbentuk seperti gada atau kerucut sreg ujung batang. Hanya terdiri atas satu ordo, merupakan ordo Equisetales. Arwah di darat maupun pandau-paya, memiliki semacam rim-pang nan merayap dalam tanah, batang berpembuluh bertipe kolateral.

Famili : Equisetaceae

Diversifikasi :

Equisetum debile (pakis ekor kuda), ditemukan di Indonesia.

Equisetum arvense

Equisetum pretense



3) Kelas Lycopodinae (paku kawat)


Buntang bercabang, tumbuh meleleh atau menular dengan percabangan menjulang ke atas. Bebat pengangkut masih tertinggal. Daun seperti pencucuk, beberapa variasi telah menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan papan dan jaringan anak uang karang. Terdiri atas 4 ordo, yakni ordo

Lycopodiales

,

Selaginellales
,

Lepidodendrales
, dan


Isoetales

.

1) Ordo Lycopodiales

Konkret terna, layon n kepunyaan berkas pengangkut sederhana. Daun seperti penyemat dianggap homolog dengan mikrofil dengan suatu tulang patera enggak bersimpang. Akar bersimpang menggarpu, sporofil berbentuk segitiga sama sebelah.

Baca :   Sebuah Cermin Cembung Memiliki Jari Jari Kelengkungan 16 Cm

Familia: Lycopodiaceae

Jenis: Lycopodium cernuum, cerbak dipakai dalam pembuatan karangan bunga.

Lycopodium clavatum, abuk spora sebagai pelapis pil agar tidak lengket.

2) Ordo Selaginellales

Sebagian berbatang tegak, tapi kembali ada nan layon mengufuk, tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Daun ada dua macam, mikrofil dan makrofil, belum mengalami diferensiasi membentuk jaringan pagar dan jaringan spons. Akar susu tumbuh berpunca bagian layon yang tidak berdaun. Berperangai heterospor, protalium telah mereduksi, bermatra habis kecil.

Contoh spesies: Selaginella wildenowii, Selaginella caudate, Selaginella Plana.

3) Ordo Lepidodendrales

Paku yang tergolong ordo Lepidodendrales sekarang telah punah. Ordo Lepidodendrales berbentuk pokok kayu yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan diameter batang 2 m. Patera menyerupai jarum, mempunyai lidah-lidah. Dalam daun terdapat berkas pengangkut yang terbelakang. Batang mutakadim memperlihatkan pertumbuhan menguat sekunder dan terwalak meristem.

Ordo ini terdiri atas dua famili, yaitu:

Famili : Sigillariaceae

Spesies : Silillaria elegans Gigillaria micaudi

Famili : Lepidodendraceae

Diversifikasi : Lepidodendron visculare

Lepidodenstron aculeatum

Lepidaostrobus major

4) Ordo Isoetales

Ordo Isoetales berupa terna, sebagian sukma pada petak, sebagian spirit terendam dalam air. Kunarpa sebagai halnya umbi, jarang sekali bercabang menggarpu. Sreg putaran atas batang terdapat patera-daun nan berujung gonjong yang panjangnya mencapai 1 cm. Patera-daun kebanyakan sporofil dengan satu sporangium. Belaka daun nan letaknya paling dalam yang masif. Daun yang letaknya lebih dalam merupakan mikrosporofil.

Isoctales terdiri atas satu famili, yaitu:

Famili : Isoctaceae

Keberagaman : Isoctes lacustris, Isoctes duvieri



4) Inferior Filicinae


Kelas Filicinae merupakan kelompok tumbuhan paku dalam pengertian sehari-hari. Menyukai habitat yang teduh dan lembab (higrofit). Berdaun besar (makrofil) dan memecah dengan benak-lemak tulang daun. Daun yang masih muda menggelendong lega ujungnya. Banyak ditanam laksana tanaman solek, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum), suplir (Adiantum cuneatum), atau umpama tanaman peminta, seperti Dryopteris filixmas.

Dilihat berusul lingkungan hidupnya, pohon paku dikelompokkan ke dalam tiga golongan, adalah paku tanah, paku air, dan pakis epifit.

Kelas bawah Filicinae meliputi tiga subkelas, yaitu
Eusporangiatae
,

Leptosporangiatae
, dan

Hydropterides
.

a) Subkelas Eusporangiatae

Kebanyakan berupa terna, protalium di bawah tanah lain berwarna, maupun di atas tanah bercelup hijau. Protalium selalu ditumbuhi serat endofitik. Sporangium berdinding tebal dan abadi dengan spora-spora yang sama besar.

Subkelas Eusporangiatae terdiri dua ordo, merupakan Ophioglossales dan Marattiales.

* Ordo Ophioglossales

Menghampari pohon pakis berbatang singkat internal tanah. Daun asimilasi dan daun sporofil jelas terpandang, berbentuk malai maupun bulir keluar dari nanyan, terbit asal, dari paruh, atau pecah siring patera zakiah. Sporangium sebabat besar (homospor), bulat, tanpa annulus, berdinding kuat.




Dalam mendapatkan makanan Ophioglossales bersimbiosis dengan mikoriza. Bermula familia Ophioglossaceae contohnya Ophioglossum vulgatum, Botrycium lunaria, terdapat di Eropa Ophioglossum reticulum, terdapat di Indonesia.

* Ordo Maratttiales

Pohon paku kelompok ini berdaun amat besar, menyirip ganda sampai sejumlah kali. Sporangium berdinding tebal, sonder annulus, terwalak di arah sumber akar daun, umumnya homospor. Sporangium berlekatan menciptakan menjadikan sinangium. Ordo ini saja memiliki suatu famili, adalah Marattiaceae.

Acuan spesies: Christensenia aesculifolia, daun menjari, berputra daun 3, sinangium berbentuk cincin pada sisi bawah daun.

Marattia fraxinea, patera dengan panjang sampai 2 meter, menyirip ganda, plong pangkal tangkai terletak duri nan merupakan modifikasi daun penumpu. Angiopteris evecta (paku kedondong), paku ki akbar, daun panjangnya menyentuh 2-5 meter, menyirip ganda 2-4, momongan daun menyerupai patera kedondong.

Baca :   Faktor Yang Tidak Menunjang Tetap Lestarinya Budaya Tradisional Adalah

b) Subkelas Leptosporangiatae

Tumbuhan pakis subkelas ini beranggotakan sekitar 90% berusul jumlah genus intern papan bawah Filicinae, yang tersebar di seluruh cahaya muka bumi. Minimal banyak terdapat di daerah tropis, mulai jenis paku terkecil (berformat beberapa cm) sebatas paku tumbuhan. Nan kasatmata pakis tumbuhan, kebanyakan mayit tanpa kambium, kekuatan batang berasal dari rangkaian berkas pengangkut yang tersusun konsentris. Kebanyakan berupa terna dengan rimpang bersemi mendatar atau sedikit menggermang, jarang bertangkai. Patera taruna selalu menggulung karena pertumbuhan sel-sengkeran pada arah dasar daun yang lebih cepat.

Pertumbuhan apikal rapat persaudaraan tidak cacat, anatomi daun sudah menyerupai Spermatophyta dengan diferensiasi, adanya diferensiasi membuat jaringan tiang dan jaringan spons. Pelepah berjupang-cabang dengan bermacam rupa macam pola laksana salah suatu dasar klasifikasi. Kadang-kadang sebagian daun tertutup oleh semacam sugi yang dinamakan palea. Biasanya sporofil n kepunyaan rencana yang sama dengan trofofil, sporangium terletak di jihat bawah daun.

Sporangium terkonsentrasi menjadi sorus yang bentuknya bermacam-macam. Sporangium muncul berpokok penonjolan jaringan daun yang dinamakan plasenta atau reseptakulum. Sebelum menguning, sorus terkatup oleh kulit ari yang dinamakan indusium. Sistem pertulangan daun, asosiasi sporangium, bentuk dan letak sorus, suka-suka tidaknya indusium merupakan ciri pengenal yang berjasa dan dipakai bagaikan dasar klasifikasi. Semua paku Leposporangiatae bersifat homospor. Protalium berdimensi bilang sentimeter saja dengan semangat terbatas.

Subkelas Leptosporangiatae terdiri dari beberapa famili, di antaranya:

* Osmundaceae, contohnya yaitu Osmunda javanica, terdapat di Indonesia.

* Schizaeaceae, contohnya merupakan Schizaea digitata, Schizaea dichotoma, terletak di Indonesia.

Hipotetis lain Lygodium circinnatum, jenazah membelit, patera amat tingkatan, tersusun menyirip.

* Gleicheniaceae, contoh spesiesnya merupakan

Gleichenia linearis, Gleichenia leaevigata (paku andam, paku resam)

* Matoniaceae, contohnya Matonia pectinata, tumbuh di Kalimantan.

* Hymenophyllaceae, contohnya yaitu

Hymenophyllum australe, hidup di petak atau epifit.

* Cyatheaceae, contohnya Cyathea javanica,

Alsophila glauca (paku papan), hidup di hutan-hutan atau di pinggir kali.

* Polypodiaceae, ideal spesies:

– Davallia trichomanoides

– Nephrolepis exaltata

– Aspidium filix-mas, memiliki rimpang yang bisa dipakai untuk obat (Aspidium)

– Asplenium nidus (paku sarang burung)

– Pteris ensiformis, adalah pakis tanah

– Adiantum cuneatum (suplir), andai pohon hias

– Drymoglossum heterophyllum

– Drymoglossum piloselloides (pakis picis), epifit pada pepohonan

– Playtcerium bifurcatum (paku tanduk menjangan), sebagai pohon solek

– Acrosticum aureum (paku laut)

c) Subkelas Hydropterides

Subkelas ini beranggotakan tumbuhan paku nan hidup di air. Umumnya heterospor, menghasilkan makrospora dan mikrospora. Badan yang mengandung sporangium dinamakan sporokarpium.

Hydropterides meliputi dua ordo, ialah ordo Salviniaceae dan Marsileaceae.

* Ordo Salviniaceae, contoh jenis:

– Salvinia natans, paku air yang mengapung, terdapat di Asia dan Eropa

– Azolla pinnata, tumbuhan boncel, lunak, bercagak-cabang, terapung di air. Daun yang terapung berfungsi untuk pernapasan, di dalamnya terdapat ruangan-ruangan berisi koloni Anabaena azollae, sepertalian alga sensasional yang dapat mengikat nitrogen mega.

* Suku Marsileaceae, contoh spesies:

– Marsilea crenata (semanggi), hidup di air, berakar dalam tanah, layon merayap, patera bersangkak panjang dengan empat helai anak patera, dimanfaatkan sebagai sayuran.

Mengapa Tumbuhan Paku Dikelompokkan Dalam Tumbuhan Cormophyta Berspora

Source: https://www.materisma.com/2014/05/penjelasan-tumbuhan-paku-pteridophyta.html

Artikel Terkait

Leave a Comment