Wachid Nuraziz Musthafa

1. Kitab Arjuna Wiwaha

• Kakimpoi pertama nan semenjak dari Jawa Timur.
• Pengarang
Karya sastra ini ditulis maka dari itu Mpu Kanwa plong periode tadbir Syah Airlangga, nan memerintah di Jawa Timur dari hari 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakimpoi ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.
• Isi
Kakimpoi ini mengobrolkan sang Arjuna ketika engkau bersuluk di ancala Mahameru. Habis kamu diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Haur ini diperintahkan bikin menggodanya. Nama bidadari nan tersohor adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang seorang menyamar menjadi koteng brahmana tua. Mereka berpolemik soal agama dan Indra menyatakan salih dirinya dan pergi. Dahulu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi bilamana yang bersamaan ada seorang pemburu lanjut usia yang datang dan kembali memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Sesudah itu Arjuna diberi tugas untuk memenggal Niwatakawaca, koteng raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil intern tugasnya dan diberi hadiah dapat mengawini sapta bidadari ini.
• Maka itu para pandai ditengarai bahwa kakimpoi Arjunawiwaha berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mah?bharata.

2. Kitab Bharatayuda

• Pengarang
Karangan Empu Sedah dan Panuluh, Kerajaan Kediri.
• Isi
Istilah Baratayuda berpunca dari kata Bharatayuddha, merupakan tajuk sebuah skrip kakimpoi berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada periode 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kekaisaran Kadiri.
Perang saudara 18 waktu antara keluarga Pandhawa dan Kurawa. Kitab ini menurut banyak sejarawan senyatanya cerminan Kediri semasa perang saudara Pangjalu dan Daha nan rebutan kekuasaan antara ayunda-adik yang terdpat puas batu bertulis Ngantang.
Kisah Kakimpoi Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke privat bahasa Jawa Hijau dengan judul Serat Bratayuda maka dari itu pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta.
• Di Yogyakarta, kisah Baratayuda ditulis ulang dengan tajuk Serat Purwakandha pada masa rezim Sri Yang dipertuan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 sampai 30 Juli 1848.

3. Kakawin pendek Banawa S?kar (Sampan Bunga)

• Pengarang
Gubahan Empu Tanakung.
• Isi
Kakawin ini melukiskan: “ritual makan besar sr?ddha yang diadakan maka itu J?wanendr?dhipa ‘maharaja J?jenggala’, khususnya persembahan-upeti yang dihaturkan oleh berbagai tuanku: ?r? tepi langit?theng K?tabh?mi, naran?tha cincin Mataram, sang kaki langit?ekstrak Pamotan, ?r? parame?wareng Las?m, dan naran?tha cincin Kahuripan.
Uang suap-uang suap itu berbentuk indah aneka warna dan bersikap seni serta berupa ilustrasi mengenai gita dan kidung yang digubah maka itu raja-baginda seorang.
Rupanya sajak-sajak itu dipersembahkan sreg waktu yang sama, tertulis di atas karas (papan tulis) maupun daun-daun lontar.
Uang suap yang paling mulia ialah persembahan yang dibawa oleh raja yang menghaturkan sraddha berbentuk sebuah perahu yang dibuat bermula anakan-rente.
Seremoni sraddha yakni upacara buat mengenang arwah seseorang yang meninggal.

4. Kakawin Hariwangsa

• Kakawin Hariwangsa adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna. Narasi yang dikisahkan internal bentuk kakawin ini merupakan cerita ketika sang prabu Kresna, titisan betara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri sri paduka Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.
• Fungsi judul
Hariwangsa secara harafiah berarti silsilah ataupun garis nasab si Musim ataupun Wisnu. Di India Harivam.ça kerumahtanggaan bahasa Sansekerta memang sebuah karya sastra mengenai Wisnu dan garis keturunannya di mana cerita pernikahan Kresna dan Rukmini adalah sebuah bagian kecil daripadanya. Doang untuk kasus kita ini, sebenarnya merek ini kurang sejadi karena kakawin ini cuma mencakup sebuah fragmen kecil tetapi.
• Isi
Si Kresna yang semenjana berjalan-jalan di ujana, mendapat kunjungan batara Narada nan berkata kepadanya bahwa calon istrinya, seseorang yang ialah titisan Dewi Sri, mutakadim jatuh ke dunia di negeri Kundina. Sedangkan Kresna yang merupakan titisan betara Wisnu harus menikah dengannya. Jelmaan Dewa Sri bernama Dewi Rukmini dan ialah putri prabu Bismaka. Tetapi emir Jarasanda sudah berkehendak untuk mengkawinkannya dengan sri paduka Cedi yang bernama sri paduka Cedya.
Maka prabu Kresna ingin menculik Dewi Rukmini. Dulu kapan malam sebelum pesta akad nikah dilaksanakan, Kresna datang ke Kundina dan membawa lari Rukmini. Temporer itu para petandang dari negeri-negeri lain banyak yang sudah hinggap. Ratu Bismaka sangat marah dan beliau simultan berrembug dengan raja-prabu lainnya yang sedang bertamu. Mereka takut bagi menghadapi Kresna karena terkenal tinggal sakti. Kemudian Jarasanda memiliki sebuah kancing untuk memeranginya, yaitu dengan mempersunting tolong Yudistira dan para Pandawa lainnya bakal kontributif mereka.
Kemudian utusan dikirim ke prabu Yudistira dan ia menjadi adv amat bingung. Di satu sisi adalah barang bawaan koteng ksatria lakukan mereservasi dunia dan memerangi situasi-peristiwa nan buruk. Kresna adalah sobat kental para Pandawa namun perbuatannya ialah curang dan harus dihukum. Kemudian beliau setuju. Namun Bima marah lautan dan kepingin membunuh utusan Jarasanda saja dicegah Arjuna. Wejangan bilang lama, mereka berkat lawatan duta prabu Kresna yang mempersunting pertolongan mereka. Namun karena sudah berjanji duluan, Yudistira terpaksa menolak sembari mempertanggungjawabkan wanti-wanti kepada sang duta biar prabu Kresna sebaiknya enggak usah hilang akal karena beliau sangat ampuh.
Lalu para Pandawa panca tiba ke negeri Karawira tempat paduka tuan Jarasanda berhak kemudian bersama para Korawa mereka menyerbu Dwarawati, area prabu Kresna.
Sementara itu Kresna sudah siap-siap menghadapi musuh, dibantu kakaknya sang Baladewa. Berdua mereka membunuh banyak musuh. Jarasanda, para Korawa, Bima dan Nakula dan Sahadewa pun sudah tewas semua. Prabu Yudistira dibius oleh Kresna tidak bisa berputar. Kemudian Kresna diperangi oleh Arjuna dan hampir saja engkau kalah. Maka turunlah batara Wisnu berusul surgaloka. Kresna perumpamaan titisan Wisnu juga berubah menjadi Wisnu, sementara Arjuna yang pula yakni titisan Wisnu berubah juga menjadi Wisnu. Yudistira lalu siuman dan meminta Wisnu supaya menyemarakkan kembali mereka yang telah tewas di bekas peperangan. Wisnu setuju dan Beliau pun menghujankan amerta, lalu semua ksatria nan sudah lalu tewas nasib kembali, tersurat Jarasanda. Semuanya lalu menclok ke makan besar pernikahan prabu Kresna di Dwarawati.
• Pencatat
Kakawin Kresnâyana ditulis oleh mpu Panuluh pada detik kanjeng sultan Jayabaya memerintah di Kediri dari waktu 1135 sampai 1157 Masehi.
• Tema
Tema yang dibahas intern kakawin Kresnâyana ini mirip dengan tema yang dibahas n domestik kakawin Hariwangsa. Para pakar sastra Jawa Kuna berpendapat bahwa kakawin Hariwangsa lebih berhasil dalam menggarap tema nan sebabat ini. Kakawin Hariwangsa lebih muda daripada Kresnâyana makara kemungkinan mpu Panuluh menggubah ulang sebuah cerita yang sudah cak semau entah alasan segala apa. Ada kemungkinan ia diperintah oleh yamtuan Jayabaya ataupun memang karena hasrat jiwanya sendiri. Di dalam kakawinnya sendiri tertulis bahwa mpu Panuluh menulisnya karena: “tambenya pangiketkw apét laleh”, ataupun maksudnya: “alasannya menggubah syair ialah mengejar capai.” Hal ini maka dari itu para pakar ditafsirkan bahwa kakawin ini hanyalah bulan-bulanan coba-cobaan saja. Mpu Panuluh lagi tersohor dengan kakawin Bharatayuddhanya yang beliau karang bersama mpu Sedah.
Kemudian ada hal yang serentak menggandeng dan janggal terjadi dalam kakawin ini, yaitu bagaimana para Pandawa bisa-bisanya yang dilukiskan memerangi yang dipertuan Kresna, sekutu mereka nan paling kukuh bersama-sama dengan para Korawa yang yaitu bandingan turun-temurun para Pandawa. Namun semuanya berakhir dengan baik bagi barang apa pihak. Keadaan begitu juga ini tidak unjuk internal sastra epis (wiracarita) di India dan ini menunjukkan sifat Indonesiawi mulai sejak kakawin ini. Bahkan ada pakar yang menduga bahwa kakawin ini sebenarnya adalah sebuah naskah lakon yang maksudnya dipentaskan lakukan pertunjukan wayang.

Baca :   Review Of Jenis Ternak Daerah Yang Cocok Alasan Pengembangan Ideas

5. Kakawin Smaradahana

• Kakawin Smaradahana merupakan sebuah karya sastra Jawa Kuna dalam bagan kakawin nan menampilkan cerita terbakarnya Batara Kamajaya
• Ikhtisar
Ketika Batara Siwa pergi bertapa, internal inderanya didatangi imbangan ,besar dengan rajanya bernama Nilarudraka, demikian heningnya internal tapa, batara Siwa seolah-olah tengung-tenging akan kehidupannya di Khayangan. Supaya mengingatkan batara Siwa dan pun hendaknya mau kembali ke Khayangan ,maka oleh para dewa diutuslah dewa Kamajaya bikin menjemputnya. Berangkatlah si betara untuk mengingatkan batara Siwa, dicobanya dengan berbagai panah weduk dan termasuk panah bunga, tetapi batara Siwa tidak bergeming internal tapanya. Risikonya dilepaskannya sinar pancawisesa yaitu :
ozon hasrat mendengar yang merdu
o hasrat mengenyam yang lezat
o hasrat meraba yang halus
o hasrat mencium yang harum
o hasrat memandang nan serba sani
Akibat panah pancawisesa tersebut batara Siwa n domestik sekejap rindu kepada permaisurinya dewi Uma, belaka setelah diketahuinya bahwa peristiwa tersebut atas perbuatan batara Kamajaya. Maka ditataplah batara Kamajaya melangkahi alat penglihatan ketiganya yang subur ditengah-perdua dahi, hancurlah batara Kamajaya. Haur Ratih candik batara Kamajaya melakukan “bela” dengan menceburkan diri kedalam api nan menyemangati suaminya. Para betara memohonkan ampun atas keadaan tersebut, sebaiknya dihidupkan kembali ,aplikasi itu enggak dikabulkan bahkan n domestik sabdanya bahwa atma batara Kamajaya turun ke mayapada dan masuk kedalam lever laki-suami, sedangkan peri Ratih masuk kedalam hayat wanita. Saat Siwa duduk berdua dengan bidadari Uma, datanglah para batara mengunjunginya termasuk dewa Indera dengan gajahnya yang demikian dahsyatnya sehingga dewi Uma tergegau dan keheranan melihatnya, kemudian dewi Uma melahirkan putera berhulu gajah, dan kemudian diberi cap Ganesha. Datanglah raksasa Nilarudraka yang melangsungkan niatnya “menggedor” khayangan. Maka Ganesha lah yang harus menghadapinya, dalam perang mendada tersebut ganesha setiap saat berubah dan kian samudra dan semakin dahsyat. Akhirnya musuh dapat dikalahkan, dan para dewa bersuka cita.
• Raja Kediri
N domestik kitab Smaradahana, disebut-ucap nama Raja Kediri Prabu Kameswara nan ialah titisan Dewa Wisnu yang ketiga kalinya dan berpermaisuri Sri Cuaca Sultan dara dari kerajaan Pangan
• Analisis Para Juru
Intern prasasti provokasi, memang terjadwal ratu Kediri Kameswara bertahta sejauh musim 1115 hingga dengan 1130, dan kemudian ada juga Aji Kameswara II yang bertahta pada seputar hari 1185. Para ahli Belanda mengumpamakan bahwa Kameswara II itu yang mempunyai hubungan dengan kitab Smaradahana. Akan sahaja Prof. Purbatjaraka sebaliknya menunjuk Kameswara I yang terkait, sebab sultan tersebut dalam kitab Panji bernama Hinu Kertapati dan kembali permaisurinya bernama Kirana , yaitu Bidadari Candrakirana, sekadar posisi Rimba dan Kedirinya yang menjengkolet.
• Penyalin
Penulis Smaradahana bernama Empu Dharmadja.

Baca :   Apa Perbedaan Sinyal Digital Dengan Sinyal Analog

6. Kakawin Siwaratrikalpa

• Kakawin Siwaratrikalpa yakni sebuah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
• Isi
N domestik kakawin ini diceritakan bagaimana seseorang yang berdosa segara sekalipun dapat mencapai kayangan.
Di dalam kisahan ini dikisahkan bagaimana Lubdhaka koteng pemburu sedang berburu di tengah hutan. Tetapi mutakadim lama dia mencari-cari bulan-bulanan, enggak dapat. Padahal hari mulai malam. Maka supaya lain diterkam dan menjadi bulan-bulanan binatang buas, anda lalu memanjat pohon dan berusaha supaya tidak jatuh tertidur. Cak bagi itu ia dulu memetiki daun-daun pohon dan dibuanginya ke bawah. Di bawah cak semau sebuah kolam. Kebetulan di tengah kolam ada sebuah lingga dan daun-daun bertumbangan di atas dan sekitar lingga tersebut. Lalu malam menjadi hari lagi dan iapun merosot dari pokok kayu lagi.
Selang sejumlah lama iapun melenyapkan peristiwa ini dan kemudian meninggal dunia. Arwahnya dahulu gelayaran di alam baka tidak luang mau ke mana. Maka Dewa Maut; Betara Yama melihatnya dan kepingin mengambilnya ke neraka. Sekadar pada saat nan sama Batara Siwa melihatnya dan ingat bahwa pada suatu malam nan disebut “Malam Siwa” (Siwaratri) dia perantaraan dipuja dengan mengedrop dedaunan di atas lingga, simbolnya di bumi.
Lalu legiun Yama berperang dengan bala Siwa yang ingin mengambilnya ke sorga. Siwapun menang dan Lubdhaka dibawanya ke sorga.
• Penulisan
Kakawin ini ditulis maka itu mpu Tanakung pada paruh kedua Abad ke 15.

7. Kakawin Kresnayana

• Kakawin Kresnâyana adalah sebuah karya sastra Jawa Kuna yang menceritakan pernikahan yamtuan Kresna dan penculikan calonnya yaitu Rukmini. Singkatnya, ceritanya adalah sebagai berikut.
• Khasiat judul
Kresnâyana (secara harafiah berjasa pelawatan Kresna, maksudnya perjalanannya ke provinsi Kundina, tempat si Rukmini.
• Isi
Dewi Rukmini, perawan raja Bismaka di negeri Kundina, sudah dijodohkan dengan Suniti, yang dipertuan negerei Cedi. Sekadar ibu Rukmini, Dewi Pretukirti lebih suka jika putrinya menikah dengan Kresna. Maka karena periode samudra sudah karib tiba, dahulu Suniti dan Jarasanda, pamannya, sebabat-sepadan menclok di Kundina. Pretukirti dan Rukmini diam-tutup mulut membagi tahu Kresna supaya datang secepatnya. Kemudian Rukmini dan Kresna menyuruk melarikan diri.
Mereka dikejar oleh Suniti, Jarasanda dan Rukma, adik Rukmini, beserta para legiun armada mereka. Kresna berhasil membunuh semuanya dan rapat persaudaraan membunuh Rukma namun dicegah oleh Rukmini. Kemudian mereka pergi ke Dwarawati dan melangsungkan pesta akad nikah.
• Panitera
Kakawin Kresnâyana ditulis oleh mpu Triguna pada saat ratu Warsajaya memerintah di Kediri sreg sedikit lebih periode 1104 Masehi.
• Tema
Tema yang dibahas kerumahtanggaan kakawin Kresnâyana ini mirip dengan tema yang dibahas dalam kakawin Hariwangsa. Para pakar sastra Jawa Kuna berpendapat bahwa kakawin Hariwangsa lebih berakibat n domestik menggarap tema yang sederajat ini.

Baca :   Kurva Berikut Menggambarkan Perubahan Ph Pada Titrasi

8. Kakawin Bhomantaka

• Dabir : tidak diketahui
• Isi:
Kisah cerita penolakan antara Syah Kresna dan sang segara Bhoma.

9. Kakawin Kunjarakarna

• Penulis
Mpu Dusun (kakawin ini berpokok dari kalangan pedesaan)
• Isi
Mengobrolkan sendiri yaksa, semacam raksasa nan bernama Kunjarakarna.

10. Kakawin Gatutkacasraya

• Penulis
Mpu Panuluh
• Isi
Perkawinan Abimanyu,putra Arjuna dengan Siti Sundhari atas uluran tangan Gatutkaca,putra Bima. Ditulis pada zaman Baginda Jayabaya.

11. Jangka Jayabaya

• Penulis
Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan intern leluri Jawa yang riuk satunya dipercaya ditulis maka dari itu Jayabaya, raja Kekaisaran Kediri.
• Isi
Ramalan-ramalan masa depan Indonesia.
• Petunjuk ini dikenal pada khususnya di kalangan awam Jawa yg dilestarikan secara anjlok temurun oleh para pujangga .Pangkal Usul utama kawul jangka Jayabaya dapat dilihat puas kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Jabal Prapen. Sekalipun banyak syak wasangka keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait permulaan kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg menciptakan menjadikan visiun-ilham tersebut.
• “Kitab Musarar dibuat tatkala Paduka tuan Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh mengalir perlahan-lahan dan menunduk, tak cak semau yang berani.”
***

http://wachidnurazizmusthafa.blogspot.com/2011/05/sastra-pada-zaman-kerajaan-kediri.html