Jumlah Bahasa Yang Ada Di Indonesia

Jumlah Bahasa Yang Ada Di Indonesia

Suku Mandar. (Istimewa)

Nenek Moyang orang Indonesia disebut-sebut adalah pelaut. Nah, Suku Mandar merupakan salah satu suku yang dikenal akan keahliannya menaklukan lautan.

Mandar adalah salah satu suku di nusantara yang kebudayaannya berorientasi ke lautan. Suku Mandar tinggal di sebuah kawasan yang membentang dari tepi selat Makassar di Barat sampai Pegunungan Quarles di Timur. Garis pantainya tidak kurang dari 590 Kilometer.

Budayawan Darwis Hamzah mengatakan, Mandar berasal dari kata ‘Mandaq’ yang artinya kuat.

Baca Juga :Gegara Takut Ferdy Sambo, Eks Ajudan Ubah Keterangan soal Pistol Jatuh

“Kemudian ada pula yang berpendapat diambil dari nama Sungai Mandar yang berpusat di Kerajaan Balanipa (Pitu Ba’bana Binanga) dan hulunya di bagian Pitu Ulunna Salu. Sehingga mungkin dari nama sungai ini pula diambil nama Teluk Mandar,” tutur dia.

“Dalam hubungan kemasyarakatan setiap orang Mandar akan menganggap orang itu adalah orang Mandar, walaupun berasal dari suku lain atau bangsa lain. Namun apabila ia telah belajar sikap dan perilaku orang Mandar, dengan kata lain apabila ia telah ditata dengan budaya Mandar dan ingin menjadi orang Mandar, maka Mandar pulalah dia,” sambung dia.

Jejak histori Mandar dimulai pada abad ke-16 ketika suku Mandar mulai menyatukan diri sebagai sebuah etnis yang terdiri dari 17 kerajaan. Kerajaan tersebut terbagi atas 7 kerajaan hulu (Pitu Ulunna Salu), 7 kerajaan muara (Pitu Ba’bana Binanga), dan 3 kerajaan Kakaruanna Tiparittiqna Uhai. Tujuh belas kerajaan tersebut telah melahirkan banyak pejuang yang berhasil mempertahankan Mandar dari jajahan Belanda.

Mandar adalah salah satu dari empat suku besar di Sulawesi Selatan, selain Bugis, Makassar dan Toraja. Pada masa kejayaan kerajaan tempo dulu di Sulawesi Selatan terdapat tiga kerajaan besar yang dikenal dengan sebutan Tellu Boccoe, yaitu Mangkau ri Bone, Sombayya ri Gowa, dan Payung ri Luwu.

Baca :   Jenis Lukisan Berdasarkan Teknik Dan Bahan Yang Digunakan

“Kemudian di jazirah Mandar terdapat pula kerajaan besar dan berpengaruh pada zamannya, yaitu Kerajaan Balanipa yang dikenal dengan Arajang ri Balanipa,” ucap Gunt Sumedi, penulis dan pemerhati budaya Sulawesi Selatan, seperti dinukil dari liputan6.com.

“Saat masa Kolonial Hindia Belanda, Mandar termasuk wilayah pemerintahan pusat bernama Afdeling Mandar dikepalai oleh seorang asisten residen yang dibagi atas empat onderafdeling (setingkat kecamatan), masing-masing dikepalai seorang controleur. Keempat onderafdeling tersebut ialah Majene, Mamuju, Polewali dan Mamasa,” dia menambahkan.

Mulanya, suku Mandar termasuk ke dalam provinsi Sulawesi Selatan. Namun sejak 2004, ia telah jadi bagian provinsi Sulawesi Barat mungkin karena perpindahan penduduk.

Dalam Het Landschap Balanipa, orang Mandar digambarkan memiliki hati yang tinggi, sopan, mudah tersinggung, cemburuan, berkuasa, memegang teguh tradisi, menghargai tamu, pemberani, serta strategis dalam berperang.

Tomes Pires, seorang penulis asal portugis yang terkenal dengan tulisannya tentang penjelajahan pedagang Portugis hingga menguasai anak benua India dan Kesultanan Melaka pada tahun 1511, menyebut suku Mandar sebagai pelaut ulung. Para penduduk Mandar kebanyakan menjadi pelaut karena tanah daerah tersebut tidak subur, sehingga tidak bisa digunakan untuk bertani ataupun bercocok tanam.

Salah satu ilmu pengetahuan tradisonal yang dimiliki suku Mandar adalah ilmu melaut, di antaranya tentang kelautan (paqissangsang aposasiang), berlayar ()aqissangsang sumobal), dan keperahuan (paqissangsang paqlopiang).

Suku Mandar. (Istimewa)

Selain itu, Memorie Leidjst Assistant Resident van Mandar (1937-1940) turut mencatat cakupan pelayaran para pelaut suku Mandar zaman dulu ternyata sangat luas, terbentang dari Maluku hingga Papua Nugini.

Pada abad ke-18, perdagangan laut sangat gencar. Saat itu, mayoritas masyarakat suku Mandar mulai berbondong-bondong menjadi pelayar, buruh di pelabuhan, atau tukang perahu. Namun, saat ini profesi warga suku Mandar sudah sangat modern. Meski begitu, para pelaut hebat dari Suku Mandar hingga kini tetap berlayar mengarungi lautan.

Baca :   Simbiosis Mutualisme Terjadi Pada Interaksi Nomor

Baca Juga :Ini Makanan Ekstrim di Dunia, Berani Coba?

Usut punya usut, kemampuan kemaritiman suku Mandar tersebut rupanya diwarisi oleh penduduk zaman Austronesia. Fakta tersebut barangkali terbukti dengan peninggalan berupa perahu sandeq, ikon suku Mandar yang digunakan para nelayan untuk menangkap ikan ataupun berlayar membawa muatan ke tempat yang jauh.

Pada zaman sekarang, perahu sandeq hanya diproduksi oleh tukang perahu di Mandar yang disebut dengan pande lopi atau pembuat perahu.

Jumlah Bahasa Yang Ada Di Indonesia

Source: https://mycity.co.id/berapa-total-jumlah-bahasa-daerah-di-indonesia-ini-jawabannya/

Artikel Terkait

Leave a Comment