Raghib al Asfhani menjelaskan, makna kata amal adalah semua pekerjaan yang berasal dari makhluk hidup dan dilakukan dengan sengaja. Berangkat dari sini, maka pekerjaan (amal) tersebut tidak terbatas dilakukan oleh siapapun dari makhluk Allah. Demikian juga tidak terbatas apakah memberi manfaat atau sebaliknya mendatangkan mafsadah.

Namun, kata amal terangkai dengan shaleh (amal shaleh) pasca kehadiran agama Islam dan diperkuat oleh nilai dan ajaran Al-Qur’an dengan keimanan terhadap Allah SWT, maka amal shaleh tersebut harus dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Jika tidak dilandasi keimanan kepada Allah SWT, hal itu bukanlah bernama amal shaleh.

Amal baik atau amal shaleh merupakan kalimat penting yang sering disebutkan di dalam Al-Qur’an dan dipersandingkan dengan iman sehingga dapat dipahami juga bahwa amal shaleh adalah buah dari iman. Maka, tidak ada amal shaleh tanpa dilandasi iman dan sebaliknya tidak ada iman tanpa ada amal shaleh.

Nabi SAW mengingatkan yang maknanya “Siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir maka berlaku dan berbuat baiklah kepada tetangga dan tamu”. Dari ajaran hadis Nabi SAW ini, iman mengharuskan diterjemahkan dalam perbuatan (amal) yang sudah barang tentu amal tersebut dilandasi nilai Iman itu sendiri, maka tidak ada perbuatan atau amal shaleh yang bertentangan dengan ajaran keimanan. Sebab, amal shaleh yang bertentangan dengan ajaran keimanan bukanlah amal shaleh.

Amal shaleh memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk kehidupan masyarakat yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik dan seterusnya. Salah satu contoh makna ajaran di dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf [7] ayat 96: ”Jikalau sekiranya penduduk negerinegeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka yang disebabkan perbuatannya”.

Baca :   Universitas Kristen Krida Wacana Kampus I

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa amal shaleh memiliki kekuatan dan dampak, yaitu melahirkan sesuatu yang positif antara lain ”terbukanya keberkahan dari langit dan bumi”. Keberkahan itu bisa berupa beragam hal:

  1. Allah menghilangkan azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Allah menggantinya dengan kesenangan (QS Yunus [10]: 98).
  2. Allah memberikan kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (QS Ar-Ra’d [13]: 29).
  3. Dimasukkan dalam surga dengan fasilitas mewah dan penuh penghormatan (QS Ibrahim [14]: 23).
  4. Allah akan menenamkan dalam hatinya rasa kasih sayang (QS Maryam [19]: 96).
  5. Mendapat ampunan dan rezeki yang mulia (QS Al-Hajj [22]: 50).
  6. Dijamin mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman (QS As-Syu’araa [26]: 227).
  7. Allah menghapuskan dosanya dan memberikan balasan yang lebih baik dari amalnya (QS Al-Ankabut [29]: 7)
  8. Allah memberikan pahala yang tiada putusputusnya (QS Fus-shilat [41]: 8).
  9. Allah mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya serta memberi rezeki yang baik (QS At-Thalaq [65]: 11).

Dan masih banyak lagi. Yang pasti, dengan beramal shaleh, seseorang maupun komunitas dan suatu bangsa akan memperoleh keberkahan dari Allah, baik berupa kekayaan, kebahagiaan, ketentraman hidup, dan jaminan surga di akhirat-Nya. Semoga kita selalu disibukkan untuk beramal shaleh dengan penuh keihlasan

(Drs. KH. Ali Muaffa, M.Ag.)


Kampanye Terkait

BANTU GURU NGAJI DI PELOSOK NEGERI

Selama bertahun – tahun kami mengajar ngaji anak- anak tanpa mendapatkan gaji/insentif atau kesejahteraan, maklum di kampung kami termasuk masih kawasan pelosok jadi tak tega rasanya membebani biaya u

Donasi