Alat Yang Digunakan Untuk Menenun Dari Bali Terkenal Dengan Sebutan

Alat Yang Digunakan Untuk Menenun Dari Bali Terkenal Dengan Sebutan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Endek
adalah kain tenun yang berasal dari Bali. Kain endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan, yang berarti karya seni yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Endek
berasal dari kata
“gendekan”
atau
“ngendek”
yang berarti diam atau tetap, tidak berubah warnanya. Kegiatan menenun atau pertenunan
endek
di Bali dapat dijumpai di kabupaten Karangasem, Klungkung, Gianyar, Buleleng, Jembrana dan Kota Denpasar. Tenun ikat
endek
memiliki sebutan yang beragam di setiap daerah,
endek
yang dibuat di Kabupaten Gianyar dikenal dengan nama
endek Gianyar, di Klungkung terkenal dengan nama
endek Klungkung.[1]

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Kain endek mulai berkembang sejak abad ke-16, yaitu masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel, Klungkung. Kain endek ini kemudian berkembang di sekitar daerah Klungkung, salah satunya adalah di Desa Sulang. Di desa Sulang, kain tenun endek dipelopori oleh Wayan Rudja yang saat itu memiliki tenaga kerja sekitar 200 karyawan. Meskipun kain endek telah ada sejak Kerajaan Gelgel, tetapi endek baru mulai berkembang pesat di desa Sulang setelah masa kemerdekaan. Perkembangan kain endek di Desa Sulang dimulai pada tahun 1975 dan kemudian berkembang pesat pada tahun 1985 hingga sekarang.

Dahulu, kerajinan Tenun Ikat
Endek
di desa Sulang berjumlah 25 perusahaan, namun seiring berjalannya waktu kerajinan ini mulai berkurang. Sekarang usaha kerajinan tenun
endek
yang bertahan hanya dua perusahaan yaitu usaha Tenun
Endek
Astika dan Usaha Tenun
Endek
Resya. Perkembangan kerajinan tenun
endek
tersebut mengalami pasang surut dapat dilihat dari periode waktu 1985-1995, 1996-2006, 2007-2012. Pasang surut ini diakibatkan oleh lemahnya perekonomian dan terputusnya bantuan pembinaan dari pemerintah. Awalnya pemerintah memberikan pembinaan dari UNDP dan BUMN untuk mengembangkan usaha kerajinan tenun
endek.[2]

Baca :   Media Penyimpanan Yang Terletak Di Dalam Cpu Dinamakan

Pengunaan

[sunting
|
sunting sumber]

Kain Endek dapat digunakan sebagai pakaian adat atau banyak digunakan sebagai seragam sekolah dan kantor. Namun ada beberapa motif yang dianggap sakral yang hanya digunakan dalam acara keagamaan saja. Ada juga motif yang hanya digunakan untuk orang-orang tertentu seperti para raja atau bangsawan.

Hingga kini, penggunaan kain endek telah digunakan dalam berbagai kepentingan, mulai dari menjadi bahan dasar pakaian formal, kerja, acara adat ataupun gaya fashion. Kain endek Bali mengikuti perkembangan jaman dan kegunaannya dimodifikasi secara khusus untuk memadukan kesan traditional modern. Hasil modifikasi ini secara umum dibuat menjadi Kebaya Endek.[3], Kemeja Endek[3]
dan Kebaya Adat.[3]

Motif

[sunting
|
sunting sumber]

Wastra endek
atau tenun endek sangat beragam motif dan sesuai dengan penggunaannya. Motif
patra
dan
encak saji
yang bersifat sakral umumnya digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif-motif tersebut menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta. Sedangkan motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari. Motif yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan flora, fauna dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi cerita Bali. Motif tersebut memberikan ciri khas tersendiri pada kain endek dibandingkan dengan motif-motif kain pada umumnya.

Motif motif geometri diungkapkan melalui bentuk-bentuk: garis lurus, garis putus, garis lengkung dan semua bidang geometri. Ragam hias geometri termasuk ragam hias tertua diantara ragam hias lainnya di Bali.[1]
Motif ini menceritakan dan memberikan simbolisasi keyakinan masyarakat Bali. Ada juga motif dekoratif atau campuran di Bali disebut Prembojan yang merupakan penggabungan dari seluruh motif yang sudah ada sebelumnya dan didesain sesuai keyakinan masyarakat Bali atau cerita pewayangan.[4]

Baca :   Permasalahan Sosial Yang Terjadi Di Masyarakat

Bentuk

[sunting
|
sunting sumber]

Tenun endek mempunyai bentuk sarung, kain panjang atau lembaran dan selendang (di Bali disebut dengan
anteng). Bentuk sarung digunakan oleh laki-laki.
Endek
mempunyai sambungan di bagian tengah atau sampingnya.
Endek
yang berbentuk kain panjang yang digunakan oleh perempuan. Kain untuk perempuan ini mempunyai motif ragam hias ikat yang menghias bagian pinggir kain, sedangkan di bagian tengah kain berwarna polos. Dalam perkembangannya, banyak variasi lain dimana ragam hias juga dibuat pada bidang tengah kain selain pada jalur hiasan pinggir.

Fungsi

[sunting
|
sunting sumber]

Fungsi kain endek dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali antara lain:[4]

  • Fungsi keseharian, Kain
    endek
    dahulunya digunakan oleh orang tua dan diacara-acara adat. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman kain
    endek
    juga dipakai oleh banyak orang. Sebagian besar masyarakat Bali sudah menggunakannya baik untuk upacara besar, sembahyang ke pura ataupun sebagai seragam kantor. Bahkan kain
    endek
    sudah banyak dibuat berbagai macam produk inovasi yaitu kipas, tas, dan pernak-pernik dekorasi.
  • Fungsi sosial-budaya, Kain
    endek
    juga digunakan untuk menghias tempat-tempat upacara di pura, rumah maupun di pusat desa. Bahkan, mereka mempercayai ada kain tertentu yang dapat berfungsi sebagai penolak bala misalkan kain tenun
    endek
    asli seperti
    endek gringsing,
    endek cepuk
    dan
    endek bebali.
    Endek
    bermotif
    gringsing
    diyakini dapat digunakan sebagai penangkal wabah penyakit.

Dalam peranan sosial, kain tenun
endek
dapat dipergunakan untuk pelindung tubuh, ikatan komunikasi
menyama braya
(persaudaraan), yaitu ikatan tali persaudaraan sebagaimana kemben, bisa dipinjamkan kepada tetangga atau teman dan dapat juga sebagai Cendera mata.

Sistem Pewarisan

[sunting
|
sunting sumber]

Sistem pewarisan tenun
endek
terutama di desa Sulang diperlukan sosialisasi dalam sistem pemertahanannya dan pewarisannya. Sosialisasi yang diberikan dapat kepada keluarga, teman pergaulan atau masyarakat dan lembaga pendidik. Pada keluarga, kain
endek
disosialisasikan melalui pengetahuan tentang menenun yang diturunkan dari orang tua ke anaknya. Pewarisan pada masyarakat atau teman dilakukan dengan cara mensosialisasikan pengetahuan keterampilan yaitu cara-cara mengolah bahan baku benang dari mencuci, merendam, merebus, kemudian proses selanjutnya yang diajarkan mendesain atau memberikan motif pada benang, baru selanjutnya tahap akhir yaitu menenun. Sistem pewarisan kerajinan tenun ikat endek mengacu pada lembaga pendidikan non formal. Biasanya pendidikan non formal itu memberikan pengetahuannya secara langsung yang bersumber dari pengalaman kehidupan sehari-harinya.[2]

Baca :   Pernyataan Yang Benar Tentang Larutan Penyangga Adalah

Alat Produksi

[sunting
|
sunting sumber]

Pada umumnya produksi tenun ikat
endek
Bali menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin). Meskipun terdapat beragam bentuk dan mekanisme alat tenun ini, namun fungsi dasar ATBM tetap sama yaitu sebagai tempat memasang benang-benang lungsi untuk kemudian benang pakan dapat diselipkan di sela-sela benang lungsi.[1]

Proses Produksi

[sunting
|
sunting sumber]

Proses Pengelolaan Benang Lusi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pengkelosan (memintal)
  • Pencelupan warna (Proses pemberian warna pada benang dilakukan dengan cara dicelup)
  • Penganihan (proses merapatkan benang)
  • Pencucukan (pemasukan benang lusi)

Proses Pengelolaan Benang Pakan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pengkelosan
  • Pencelupan
  • Pencoletan atau nyatri pengisian warna)
  • Pengobatan fiksasi
  • Pengiciran
  • Pemaletan

Proses penenunan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Penenunan

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    c




    Sumadi, I Wayan Suca (2014).
    Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Endek di Provinsi Bali. BALI: BPNB BALI. ISBN 602-258-237-3.




  2. ^


    a




    b




    Dewi, Luh Gede Wijayanti Lakhsmi (28 Februari 2022). “Perkembangan dan Sistem Pewarisan Kerajinan Tenun Ikat Endek Di Desa Sulang, Klungkung, Bali (1985- 2012)”.
    Widya Winata; Jurnal Pendidikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.




  3. ^


    a




    b




    c




    “Putri Berdikari – Butik Kebaya”.
    putriberdikari.business.site
    (dalam bahasa in). Diakses tanggal
    2022-05-23
    .




  4. ^


    a




    b




    Adchan, I Dewa Gede Visnu (2016). “Tinjauan Visual Motif Tenun Ikat Endek Bali (Studi Kasus Motif Cepuk Dan Motif Geringsing)”.
    Digital library – Perpustakaan Pusat Unikom – Knowledge Center.






Alat Yang Digunakan Untuk Menenun Dari Bali Terkenal Dengan Sebutan

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Endek#:~:text=Pada%20umumnya%20produksi%20tenun%20ikat,di%20sela%2Dsela%20benang%20lungsi.

Artikel Terkait

Leave a Comment